Selasa, 26 Juli 2016

KIAT MELEPAS ANAK SEKOLAH

BERANI SEKOLAH SENDIRI

Tahun ajaran baru merupakan awal anak kita memasuki sekolah baru. Orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya belum berani sekolah sendiri. Anak yang memasuki sekolah baru, khususnya anak taman kanak-kanak biasanya belum memiliki keberanian untuk sekolah sendiri. Hal ini sangatlah wajar, karena sekolah merupakan hal yang sangatlah baru bagi anak kita. Masa ini merupakan masa yang sangat sulit bagi anak. Anak harus mampu beradaptasi  dengan lingkungan yang baru, teman baru, guru baru, serta suasana sekolah jelas berbeda dengan suasana di rumah.
Bunda tidak perlu khawatir, jika buah hatinya belum mau ditinggal saat sekolah. Hal ini sangatlah wajar karena anak belum merasa nyaman dengan suasana sekolah yang baru. Anak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Namun menjadi suatu masalah apabila anak kita sampai berbulan-bulan belum berani sekolah sendiri. hal ini tentu akan mengganggu aktivitas bunda dan juga berpengaruh terhadap perkembangan anak di sekolah. Bagaimana supaya anak kita berani sekolah sendiri? Disini ada beberapa tips supaya anak kita berani sekolah sendiri:
1.    Tentukan target waktu
Tentukan target waktu, untuk menunggu anak di sekolah. 4 minggu merupakan waktu yang cukup untuk menunggu anak di sekolah.
2.    Relakan dan beri kepercayaan serta do’akan anak agar anak bisa melaluinya.
Bunda harus percaya, bahwa pikiran dan perasan bunda akan berpengaruh terhadap perkembangan anak kita. Relakan dan beri kepercayaan kepada anak bahwa anak kita mampu sekolah sendiri. Selain itu, do’akan anak kita untuk berani sekolah sendiri. Do’a orang tua terutama bunda sangat besar pengaruhnya bagi anak.
3.    Percayakan pada guru dan lembaga
 Percayakan anak kita pada guru atau lembaga di sekolah. Rasa percaya ini merupakan hal yang sangat penting, kepercayaan bunda kepada guru akan sangat berpengaruh terhadap perasaan anak. Yakinlah bahwa guru di sekolah memperlakukan anak kita dengan baik. percayakan bahwa guru sebagai penggganti kita sebagai orang tua saat di sekolah
4.    Menyusun tahapan
Selain tips diatas, ternyata kita juga harus menyusun strategi dalam menunggu anak di sekolah. Menunggu anak di sekolah memerlukan beberapa tahapan, antara lain:
a.    Minggu 1, menunggu dekat, terlihat oleh anak.
Bunda boleh menunggu dengan jarak yang dekat sehingga anak melihat kita dengan jelas.     Disini anak akan merasa nyaman apabila melihat bunda di sekolah.
b.    Minggu 2, menunggu jauh terlihat oleh anak
Pada minggu kedua ini, bunda menunggu anak dengan jarak lebih jauh dari pandangan     anak akan tetapi anak masih mampu melihat kita.
c.    Minggu 3, menunggu tidak terlihat tapi masih di area sekolah
Pada minggu ketiga ini, bunda menunggu anak di sekitar sekolah tapi dengan jarak yang     tidak terlihat oleh anak. pada tahap ini, pahamkan kepada anak bahwa bunda masih     menunggu anak di sekolah.
d.    Minggu 4, melepas anak dengan ikhlas dan pikiran positif.
Pada minghu keempat ini, lepaslah anak kita untuk sekolah sendiri dengan perasaan iklah     dan pikiran positif. Percayakan sepenuhnya anak kita kepada pihak sekolah. Yakinlah     bahwa sekolah akan ememberikan pelayanan yang terbaik bagi anak kita. Kepercayaan     dan pikiran positif bunda akan mempengaruhi perasaan anak di sekolah.
***SELAMAT MENCOBA***

Sumber: Bunda Wening. 2012. Bunda, Sekolah Pertamaku. Solo: Tinta Media.

Minggu, 28 Februari 2016

Data Sementara PPDB ( Formulir Terkumpul) TK A dan TK B






TK A 

Shafiyah Humaira Najid Rihadatul A

Mahir Zidan

Ilham Maulana Arrosid

Haidar Khairul Musyaffa

Zafran Syailendra Alfariel

Nabila Shella Putri

Arifarzan Zais Prasetiya

Arwinda Kirana Widyasari (Owieng)

Khansa Dhia

Danendra Faza Ramadhan

Aisyah Farhana( Fara)

Anugerah Maulana Hernandez

Naraya Syifa

Muhammad Omar Asyam Muria

Muhammad Fathir Muchtar

Ibni Izzan Mahira

Hermione Rainbow Ojwala

Muhammad Ayub Muflihun

Nafisatun Nada Amaniyah

Bisma Rahardian Santosa

Pandu  Pradipta

Citra Ayu Ningsih

Alma Dhia Syahdina

M. Alkhalifi Dzikri Wibowo

Alvian Wicaksana
Fadli Arsya As-Shodiq 
Rafi Ahmad Fauzi 
Khansa Aluna Pratista
Fadia Navia Aynni 
Panji Widyana Adi
Aruna Keyza Aqillana Putra
Muhammad Azzam Bintang Saputra
        Muhammad Haidar Alwi

TK B
Hanifah Athfah Nada
Showi Djyoti Kanaka Aruna Sestra
Aldrich Rafa Rizkiansah
Dzakirah Sally Shirley Anindya Y

















Data Sementara PPDB ( Formulir Terkumpul) KB

PPDB Kelompok Bermain



NAMA ANAK

Afnan Wafi Prihastanto

Ghaitsa  Fauzara Wafa

Muhammad Ghaisan Maulana

Azzahra Nada Febriana

Muhammad Alfatih Risqiullah

Keyza Izzatunisa Zhafira

 Aksa Tirta Panuntun

Kayana Nathania Fahira

Senandung Alunan Yasin

Zafran Agha Ahnaf

Candra Nira Adi

Fayha Azima

Muhammad Balyan Giri R

Axcesha Firstka Kaylena Z

Khusna Naylu Naja

Kenza Shauqia Joevia Avariella

Zaidaan Muniff Firjatulloh

Adhyasta Mahanipuna

Arkharega Dhafin Mikail

Ilyas Ghifari Narendra
Kanya Tuhfatu Shaumy
Humaira Akshita Adamana
Anindia Kayla Putri 
Muhammad Raihan Zainal A

Selasa, 23 Februari 2016

Outing ke Brimob Sentolo

Alhamdulillah, pagi ini anak- anak KB- TKIT Anak Sholeh semangat sekali. Ada apa ya kira- kira?! Pukul 08.00 anak-anak sudah berbaris rapi menghadap ke gerbang sekolah. Apa ya yang mereka tunggu??
 Ternyata hari ini Rabu, tanggal 24 Februari 2016 seluruh siswa KB- TKIT Anak Sholeh ada kunjungan edukatif ke Brimob Sentolo. Riuh suara anak- anak mendengar bunyi sirine bus dan truck yang akan menjemput kami. Bus dan truck polisi berhenti di depan sekolah. Siswa TK B naik truck di bantu oleh Bapak Polisi. Karena tinggi, meskipun sudah ada kursi masih saja kesulitan naik. Alhamdulillah, Pak Polisi nya baik- baik. Anak- anak di bantu naik satu persatu. Senangnya di gendong Pak Polisi.


Kalau sebelum berangkat ke KB- TKIT Anak Sholeh Pak Polisi sudah olahraga, berarti ini olahraga yang kedua. Mengangkat siswa satu persatu. Padahal ada juga siswa yang badannya besar.

 Begitu tiba di Sentolo, sebuah tenda sudah di dirikan disana. Alhamdulillah, sambutan yang luar biasa untuk anak- anak. Setelah semua di kondisikan ada  perkenalan dan persiapan untuk pembagian kelompok. Anak- anak di bagi menjadi 3 kelompok, Kelompok 1 ( Kelompok Bermain), Kelompok 2 ( TK A), Kelompok 3 ( TK B).






 Ustadzah Wanti memandu acara mewakili pihak sekolah. Dari Brimob sendiri di wakili oleh Iptu Yudha Bramastra, S. Ik.
 Kak Yudha memberi beberapa penjelasan dan pengenalan.

 Pengenalan senjata yang di gunakan oleh anggota kepolisian untuk pengamanan. Anak- anak di beri kesempatan untuk mengangkat senjata. Bukan untuk berperang lho tentunya, mencoba mengangkat dan di ajari cara menggunakan.






MasyaAllah...,mas Rehan berani mencoba memakai safety helm dan rompi anti peluru. Ayahnya Mas Rehan juga polisi ternyata. 

 Pengenalan mobil SAR Brimob. Ada perahu karet, lengkap dengan dayungnya. Anak- anak di perbolehkan untuk naik dan di ajarkan cara mendayung, di kenalkan dengan peralatan yang ada di mobil SAR. Ada peralatan selam, ada golok, ada gergaji dan masih  banyak lagi peralatan yang ada di mobil SAR.




 Simulasi penyelamatan korban dari kedalaman. Seru nih, anak- anak di beri kesempatan untuk mencoba ikut naik. Anak- anak tidak di perbolehkan menirukan tanpa pengamanan yang lengkap.
Kami juga di perkenalkan peralatan  PHH. Apa itu PHH?! Yaitu Penanganan Huru Hara. Pak Polisi berseragam lengkap sekali, seperti robot kata teman- teman dari Kelompk Bermain. Teman- teman dari KB juga di perkenankan mendorong Pak Polisi. Meskipun beramai- ramai, ternyata tidak bisa merobohkan Pak Polisi. Jangankan roboh, bergeser sedikitpun tidak. Itulah mengapa menjadi polisi harus orang yang benar- benar sehat dan kuat.

Mas Izzatul Fatih dari Kelompok Bermain berani mencoba mengalungkan peluru, kata Mas Fatih pelurunya berat. Mas Fatih bercita- cita jadi polisi jika besar nanti. Semoga Allah mengijabah ya Mas Fatih. Mas Fatih besar nanti jadi polisi shalih yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin....
Kak Rizal, memberi komando anak- anak KB untuk membuat barisan. Di sini, teman- teman KB akan bermain mengelompokkan bola menurut warnanya. Ada yang merah, ada yang kuning, ada yang hijau.



 Luar biasa semangat Kakak- kakak ini ya. Sudah menjelang Dzuhur semangat mereka tetap membara. Di depan anak- anak saja seperti ini semangatnya, tidak ada kesempatan buat ngantuk.
Tidak hanya siswa, Ustadzah pun tidak mau ketinggalan turut bertepuk tangan melihat dan mendengar yel- yel yang penuh semangat.




 Pemberian cinderamata dari kompi III Detasemen B Pelopor atas kunjungan KB- TKIT Anak Sholeh, di terima oleh Kepala Sekolah TKIT Anak Sholeh Ustadzah Ika Herusanti.

 Sebagai Ucapan terima kasih, dari TKIT Anak Sholeh memberikan cinderamata kepada Brimob Sentolo. Tentu tidak ada apa- apanya jika di bandingkan dengan apa yang sudah Kakak- Kakak berikan kepada kami. Kesan yang mendalam untuk anak- anak, pelajaran dan pengalaman yang luar biasa yang tidak di dapat dari tempat lain. Terima kasih Kakak, terima kasih Bapak dan seluruh team yang sudah ikut berpartisipasi dan mensukseskan kunjungan kami. Semoga kedepan bisa menjalin kerjasama lagi. Tidak ada rasa takut, suasana yang ramah, panggilan yang familiar membuat kami semua merasa sudah kenal lama dengan mereka. Meskipun kami semua baru bertemu hari itu. Kami harus kembali ke sekolah, dan Pak Polisi kembali dengan aktifitas mereka. Jazakumullah khoir....


Minggu, 17 Januari 2016

Outbound Kids bagian 1

 Alhamdulillah..., akhirnya sampai juga di Grogol, Margodadi, Seyegan , Sleman. Perjalanan kami menyenangkan. Kedatangan kami di sambut oleh tim dari Desa Wisata Grogol. Seluruh peserta di kondisikan di lapangan sebelum akhirnya menuju lokasi. Ternyata kami masih harus berjalan kurang lebih 100 meter. Maka dari itu,anak-anak tidak boleh langsung menuju lokasi. Tapi di buat beberapa rombongan.
 Setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki akhirnya sampai juga di lokasi. Udah mulai panas nih, sekitar pukul 08.00 WIB. Ustadzah sampai ada yang memakai caping/ capil. Ada yang tau apa itu caping/ capil? Caping/ Capil adalah topi tradisional yang terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat lancip. Caping/ capil biasa di gunakan untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari, dan hujan. itulah kenapa Caping/ capil bentuknya lancip.
 Setelah meletakkan tas di bawah, anak- anak naik ke atas panggung. Di sana Kak Dani dan Kak Akrom sudah menunggu untuk acara pembukaan. Anak- anak antusias mendengarkan dan mengikuti sambil makan snack. Duuuh..., sudah semakin panas aja nih cuacanya. Anak-anak sudah tidak sabar untuk segera bermain. Eeits, tentu saja tidak boleh turun sembarangan karena berbahaya. Kalau tidak hati- hati bisa jatuh pas menuruni tangga. Kak Dani memanggil nama- nama kelompok satu persatu dan mempersilakan untuk turun ke bawah.
 Anak- anak di dampingi oleh Ustadzah. Turun tangga harus satu persatu dan tidak boleh berebut. Hadegh...,karena sudah ingin sekali bermain akhirnya terburu-buru dan lupa deh sandal dimana botol minum dimana.
Dari aula anak-anak berjalan ke bawah kurang lebih 30 meter menuju lokasi bermain. Berjalan lagi deh. Tidak apa- apa sekalian pemanasan biar kondisi fisik siap dan tidak cedera saat mengikuti permainan nanti.
 " Lingkaran besar...lingkaran besar...lingkaran besar...." Instruksi dari Kakak Instruktur. Anak- anak pun membuat lingkaran besar sambil bergandeng tangan. Mau main apa ya? Oops, ternyata mau senam dulu, senam chicken dance namanya. Setelah selesai senam anak- anak di buat kelompok kecil. Kelompok tersebut nanti akan menjadi kelompoknya mengikuti permainan dari awal sampai akhir. Duuh, bergelimangan air di kanan kiri dan suara gemericiknya membuat anak- anak semakin ingin segera nyebur.
Harus duduk menunggu pembagian pos itu melelahkan. Bagaimana tidak, sudah semakin panas, pemandangan di sekitar air semua. Tangan, badan, kaki rasanya sudah tidak sabar lagi.
Tapi tetap harus "sabar menunggu giliran".

 Alhamdulillah....pos pertama dari kelas KB 1 adalah sponge bob. Aturan permainannya adalah sponge di masukkan ke air kemudian berjalan secara estafet. Yang paling belakang memeras sponge nya, dan airnya di masukkan ke dalan botol yang telah di sediakan. Begitu seterusnya hingga waktu habis. Kelompok putri berkompetisi dengan kelompok putra.

 " Enak ya Mas Alif...seger ya...." Kata Mas Dzaki kepada Mas Alif.
Insya Allah tidak berbahaya dan tetap ada pendampingan. Inilah saatnya anak- anak mengeksplor dirinya. Selama di sekolah jarang bermain air. Di rumah pasti juga di larang sama Ayah Bunda. Betul tidak Ayah Bunda?


Kelompok Putri A3 berani lho berjalan di sungai meskipun dangkal arusnya lumayan deras. Senangnya bisa bermain di sungai. Akhirnya bisa merasakan mandi dan bermain air di sungai. Dulu masa kecil Ayah Bunda juga pasti senang mandi dan main air di sungai. Sampai Kakek Nenek bingung mencari. Heee, tapi kami tidak lho. Begitu waktu permainan habis, kami harus pindah ke pos berikutnya yang tidak kalah seru tentunya.

Kamis, 14 Januari 2016

Andai Kami Tahu

“Bu Guru, tinggal di sini aja,” Adi berkata.
“Maafkan Ibu ya, Ibu harus pulang ke Medan,” ujar ku.
“Kalo gitu, aku ikut sama Ibu ya,” pinta Adi.
Tak berapa lama Amin mendatangiku di ruang guru, lalu berkata,
“Bu Guru, Rp 500.000,- cukup gak untuk pergi ke Medan?” Tanya Amin.
“Mana cukup itu Amin, kamu emangnya mau ke Medan sama siapa?” Tanya ku.
“Sendiri aja, mau ke rumah Ibu,” Jelas Amin.
Itulah percakapan singkatku dengan Adi dan Amin beberapa hari yang lalu sebelum hari pembagian raport. Adi adalah siswa yang paling aku sayangi di kelas 6, begitupun dengan Amin, siswaku yang bertubuh besar dari teman-temannya yang lain ini tak mau kalah ingin pergi ke Medan untuk mengunjungi ku. Aku merasa terharu, mereka sebegitu sayangnya terhadapku. Mereka begitu ingin selalu di dekatku. Namun, apalah daya, waktu ku hanya terhitung 13 hari lagi bersama mereka. Aku pun sebenarnya tak ingin jauh dari mereka.
“Bu, saya selalu berdoa untuk Ibu supaya Ibu nanti jangan lupakan kami,” kata Adi.
“Ya Bu, aku juga berdoa untuk ibu agar Ibu selalu sehat nanti di Medan,” Tukas Amin.
“Aaammmiiinnn, makasih ya. Ibu juga doakan kalian semoga nanti bisa jadi apa yang sudah kalian cita-citakan,” Jelasku.
“Andai kami tahu, kalau Ibu bakalan pergi. Kami gak mau Ibu pergi,” Adi berkata sambil menangis.
“Sudah, Sudah, kok nangis sih nak?, Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan, semua sudah Allah takdirkan untuk kita. Ibu bertemu kalian ini juga sudah rencana Allah. Ibu juga dulu tidak pernah menyangka bakal dapat ditempatkan di Pandeglang ini. Kalian semua akan menjadi kenangan terindah dalam hidup Ibu.” Jelasku.
Seandainya kalian tahu perasaanku saat ini. Pasti kalian juga tambah sedih, karena kalian sudah menjadi bagian dari hidupku. (dakwatuna/hdn)

Sekilas Tentang Pendidikan Anak

Sekilas tentang hakikat pendidikan anak
image013(Bagian Pertama)
Seorang guru Play Group dalam rapat harian melaporkan pada kepala sekolah, “bu kepala, tolong dalam pertemuan orang tua nanti, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama difahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat salah seorang ibu yang memaksa bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam pembelajaran dan asyik bermain balok.”
Seorang guru lain menambahkan,”iya bu, sepertinya harus segera di jelaskan. Ada kasus lain lagi bu, ketika saya menanyakan pada mama Arif kenapa Arif tidak bisa ikut tamasya minggu depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”
Cerita di atas adalah sebuah realita di sekitar kita. Bahkan mungkin sebenarnya lebih parah dari itu. Jika pada cerita tersebut sepertinya kedua guru sudah memahami hakikat pendidikan anak usia dini, bisa jadi pada kenyataannya masih banyak para pendidik anak usia dini sendiri yang belum faham tentang hakikat pendidikan anak usia dini. Terlebih lagi para orang tua yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tentang pendidikan anak usia dini. Kebanyakan mereka terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metoda konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif lagi. Duduk, diam, dengarkan, tulis dan bacakan kembali, itulah yang dikatakan sebagai belajar. Jika diterapkan pada orang dewasa mungkin mereka mampu protes dan menuntut tehnik pembelajaran lain yang lebih menarik. Tapi apa daya anak-anak, mereka tidak bisa melawan. Apalagi dengan ancaman cubitan atau bahkan pululan.
Sebuah Teori Tabularasa memang menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak, sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Dengan asumsi tersebut, beramai-ramailah orang tua mengisi kertas kosong tersebut. Dan akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku. Mungkin terlihat tebal dan pintar. Tapi kaku dan pasif. Tak bisa bergerak dan berbuat.
Bukan wahai para orang tua, mereka bukanlah kertas. Mereka bukan pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif. Tahukah wahai para orang tua, banyak teori belajar lain yang lebih moderen telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif. Setiap pori-pori tubuh mereka menyerap apa yang mereka lihat, dengar, sentuh, dan apapun yang berinteraksi dengan mereka. Hebatnya lagi, mereka menganalisis dari setiap interaksi mereka dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita patahkan dengan tehnik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk, bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi belajar terbaik bagi mereka adalah adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan dan hafalkan.
Orang tua pasti bangga ketika anaknya yang masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orang tua pasti semakin bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosa kata dalam bahasa Inggris. Orang tua pasti lebih bangga lagi jika memiliki anak yang selalu menurut ketika di suruh duduk di meja belajar menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les yang melelahkan. Tapi tahukah anda wahai para orang tua, bahwa kebanggaan anda, bahwa kebahagiaan anda sungguh membuat anak-anak anda menderita!
Orang tua pasti jengkel ketika ada anaknya yang aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru di beli. Orang tua pasti semakin jengkel ketika ada anaknya yang menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Orang tua pasti sangat jengkel ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang sesuatu yang dia lihat. Orang tua pasti lebih jengkel lagi ketika rumah berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran. Orang tua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada duduk di meja belajar dan membaca.Tapi tahukah anda wahai para orang tua bahwa seharusnya anda berbahagia karena anak anda bahagia dan karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.
Bersambung…………….

Rabu, 13 Januari 2016

Anakku Cintailah Al-qur'an

Anakku, Cintailah Al-Qur’an 

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)
Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim)
Demikianlah berbagai keutamaan bagi orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Dan tentunya kita juga ingin agar kita maupun anak kita mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.
Baik rasanya jika kita telaah pesan dari Ust Muhammad Nuh berikut ini : “Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, pandangan akan menemukan kejernihan. Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran; selama tidak bersandar pada Al-Quran, selama tidak dibimbing Al-Quran, hanya akan berkutat pada persoalan teknis. Bukan sesuatu yang ideal. Hanya akan berkutat pada materi dan materi.
Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini. Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di sana sudah luntur. Idealita hidup menjadi begitu dangkal. Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak begitu dihargai.”

Bahkan Abu Jahalpun menikmati keindahan Al-Qur’an
Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.
Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.
Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw.
Untuk melengkapi pengetahuan kita bagaimana mendidik anak agar mencintai Al-Qur’an, berikut ini ada siraman rohani dan e-book yang berkaitan yang kami dapatkan dari http://freeislamicebook.blogspot.com/
Anakku Cintailah AlQuran – Ustz Yoyoh Yusroh.mp3
Menghapal Al-Quran – DR. Yusuf Qardhawi.pdf
Tarbiyah Syakhsiyah Quraniyah – Abdul Aziz Abdur Rauf.pdf

Selasa, 12 Januari 2016

Kegiatan Liburan Ustadzah dan Yayasan Mitra Masyarakat Madani


Ketika anak-anak libur semester satu, seluruh ustadz- ustadzah dari TPA-KB-TK-SDIT Anak Sholeh dan seluruh karyawan yang tergabung di Yayasan Mitra Masyarakat Madani mengikuti kegiatan Outbound. Kegiatan ini di laksanakan hari Senin, 21 Desember 2015 lalu bertempat di WRC Pengasih Kulon Progo. Hmmm, sudah tidak update ya....
Tujuan kegiatan ini salah satunya adalah untuk mempererat ukhuwah, karena ketika di sekolah tidak jarang ada beda pendapat yang terkadang membuat suasana tidak nyaman. Dengan harapan dengan adanya kegiatan ini, maka semua akan bisa bekerja sama lagi dan menjadi team yang lebih solid. Selama satu semester menemani anak- anak belajar inilah saatnya para ustadz- ustadzah menyegarkan kembali fikiran, menyiapkan fisik untuk menyongsong semester dua sekalian rihlah.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, begitu kata pepatah.

 Ustadz Ahmad Helmi Syaifulloh selaku ketua yayasan Mitra Masyarakat Madani memberikan sambutan ketika pembukaan acara. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu program Yayasan guna meningkatkan mutu sumber daya manusia. Ustadzah Purwaningsih, sekretaris yayasan juga hadir dan ikut membersamai hingga acara selesai.
Seluruh peserta antusias mengikuti acara pembukaan sambil menikmati sejuknya udara pagi. Jarang- jarang kan bisa menikmati udara pagi yang masih bersih di antara pepohonan dan gemericik air.




 Setelah acara pembukaan selesai, seluruh peserta menuju tempat outbound dan siap melakukan pemanasan bersama instruktur dari tim Sinergy.
 Ice Breaking....,seluruh peserta berdiri melingkar dan harus mendengarkan instruksi dari instruktur supaya tidak salah. Latihan konsentrasi, latihan mendengarkan, dan mengikuti satu instruksi dari sang Instruktur.
 Anak- anak tidak mau ketinggalan, mereka turut asyik memperhatikan dan menirukan gerakan peserta. Mbah Sarjono, peserta paling sepuh semangat mengikuti kegiatan ini.
 Ustadz Heri, Instruktur dari tim Sinergy menyampaikan pemaknaan dari setiap pos. Ada 3 pos yang harus di selesaikan, meskipun di guyur hujan deras, peserta tetap semangat menyelesaikan tugas setiap pos hingga selesai. Meskipun ada yang gagal. Heee....

Ustadz Budi menutup acara hari itu dengan berbagi cerita pengalaman beliau di SMPIT Al Khoirot. Nikmati proses demi proses, maka apapun hasilnya kita siap untuk menjadi lebih baik. Semangat Ustadz....Semangat Ustadzah....
Mari terus berproses untuk memberikan yang terbaik....

Kamis, 07 Januari 2016

Antara Dua Nasehat Rasulullah ( Bagian 1)

Antara Dua Nasehat Rasulullah (bagian 1)

Nasehat sangat bermanfaat bagi orang beriman. Nasehat sangatlah mahal. Apalagi kalau nasehat itu berasal dari Rasulullah. Berikut ini, akan kita amati dua nasehat Rasul untuk anak-anak di zamannya. Dua nasehat yang berbeda. Untuk dua orang yang berbeda. Untuk usia yang berbeda. Tentu dengan kandungan, nilai dan metode yang berbeda. Walaupun namanya sama-sama Abdullah. Mari kita selami mutiaranya. Ya Allah bimbing kami...
Nasehat pertama untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَوْ يَا غُلَيِّمُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dari Ibnu Abbas dia berkata: Aku dibonceng Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau berkata, “Nak,aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Aku berkata: Ya Nabi berkata, “Jagalah Allah, Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu. Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yagn tidak ada dalam takdir Allah padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan. Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran. Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dia berkata: hasan shahih)
Nasehat kedua untuk Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma,

عن مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang pundakku dan beliau bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seakan seorang yang asing (pengembara) atau penyeberang jalan.” Mujahid berkata: Dan Ibnu Umar berkata, “Jika kamu berada disore hari, jangan menunggu hingga pagi hari. Dan jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari)
Usia Berbeda, Metode Berbeda Saat Rasulullah wafat, usia Abdullah bin Abbas 13 tahun. Sementara usia Abdullah bin Umar 21 tahun. Dengan perbedaan usia ini, maka kita bisa mengetahui bahwa Rasulullah berinteraksi dengan Abdullah bin Abbas dari usia dini hingga memasuki usia remaja (dalam istilah hari ini). Sementara Abdullah bin Umar dari usia dini hingga usia dewasa. Penulis belum mengetahui, kapan kedua nasehat ini disampaikan Rasulullah. Tapi mungkin nasehat ini disampaikan ketika Rasulullah sudah berada di Madinah, terutama ketika melihat usia Abdullah bin Abbas yang baru bisa mencerna pembicaraan di usia Madinah.Di Madinah, usia Abdullah bin Abbas adalah 3 - 13 tahun. Sementara usia Abdullah bin Umar 11 - 21 tahun. Jadi jelas bagi kita, nasehat untuk Abdullah bin Abbas adalah nasehat untuk anak-anak. Sementara nasehat untuk Abdullah bin Umar adalah nasehat untuk remaja dan dewasa.
Kini, mari kita selami suasana dan cara Nabi menguntai nasehat untuk dua usia berbeda itu. Semoga menjadi pelajaran bagi setiap orangtua.
  1. Abdullah bin Abbas dinasehati Nabi saat sedang dibonceng di belakang Nabi yang sedang mengendarai kendaraan. Suasana ini sangatlah indah. Sedang santai. Seorang anak cenderung menikmati suasana berkendara. Apalagi kendaraan itu seekor binatang. Sangat anak-anak suasananya. Ini adalah sebuah momentum mahal yang seringkali terlewatkan oleh orangtua. Saat berdua di atas kendaraan, adalah saat yang tepat untuk memasukkan nilai kepada anak-anak. Sayangnya, perjalanan seringkali hanya kumpulan pita tanpa suara. Atau kalau ada suara, tanpa makna. Suasana senang dan nyaman adalah momentum yang sangat tepat untuk memberi mereka nasehat. Dan inilah salah satu penyebab mandulnya nasehat orangtua hari ini. Karena nasehat itu seringkali hadir dalam suasana penuh amarah dan menegangkan. Jika demikian, bagaimana bisa menembus dinding hati anak-anak kita?
  2. Abdullah bin Umar dinasehati Nabi dengan disentuh pundaknya. Sebuah kontak fisik yang selalu memberikan kenyamanan dan kedekatan bagi anak-anak. Terutama usia remaja atau dewasa yang terasa lebih jauh dari orangtua karena merasa telah besar. Kedekatan dan kenyamanan itu sangatlah mahal. Dan ini merupakan kunci rahasia nasehat Nabi yang sangat tajam dan jitu, mampu menembus karang hati yang terjal sekalipun. Nabi memang sangat ringan menyentuhkan tangannya di bagian fisik manapun dari anak-anak yang dijumpainya.
Sentuhan fisik orangtua bagi anak-anaknya akan memberikan kenyamanan dan kedekatan. Jadi, jangan pelit menyentuh mereka. Apalagi, jika sentuhan itu hadir dari orang-orang yang mengagumkan di hati anak-anak. Pasti dahsyat!

Antara Dua Nasehat Rasulullah (Bagian 2)

Antara Dua Nasehat Rasulullah

Usia Berbeda, Bahasa Berbeda
Nasehat dahsyat Rasulullah itu pernah melahirkan pemimpin dunia Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar. Sudah seharusnya, kita menggali mutiaranya untuk bisa melahirkan orang yang sama.Ternyata Nabi menggunakan susunan bahasa yang berbeda saat menasehati dua anak yang berbeda usia tersebut. Mari kita rasakan bahasa Nabi untuk keduanya.Ini adalah nasehat Rasulullah untuk anak Abdullah bin Abbas. Rasulullah menggunakan mukaddimah sebelum menasehati.
Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.”
Mengingat, usia anak-anak yang cenderung asyik dengan permainannya, sering teralihkan oleh sekelilingnya, pendek konsentrasinya. Maka, menasehati dengan pembukaan beberapa kalimat akan memasukkan anak dalam frame konsentrasi. Sehingga seorang anak siap menerima nilai-nilai yang akan disampaikan.
Dan sesungguhnya ini adalah metode al Quran. Ulama tafsir menyampaikan tentang fungsi huruf muqotho’ah (huruf-huruf yang mengawali surat Al Quran seperti: ألم، ق، كهيعص) adalah untuk menarik perhatian. Karena huruf-huruf tersebut dikenal dengan baik oleh audiens (orang-orang Arab) tetapi tidak ada artinya. Seperti sepotong puzzle yang membuat orang semangat untuk mencari wajah utuhnya. Hal ini, akan membuat mereka penasaran dan mau mendengarkan pesan ayat berikutnya. Demikian juga fungsi nida’ (kata panggilan seperti : wahai orang-orang beriman, wahai orang-orang kafir). Mereka yang merasa beriman akan segera membuka hati dan telinga mereka, karena panggilan telah datang.
Dalam hadits Nabi di atas ada panggilan: Wahai anak...
Sementara saat itu, tidak ada anak lain selain Abdullah bin Abbas. Ada seni memanggil dalam hadits-hadits Nabi (insya Allah lain kali kita bahas). Kreatifitas pendidik seperti inilah yang diperlukan agar dunia anak-anak pun penuh warna.
Dalam hadits Nabi juga adalah kalimat pembuka: aku akan mengajarimu beberapa kalimat.
Ini mukaddimah, agar telinga segera dibuka, perhatian segera dinyalakan, akal siap menerima dan hati siap menyimpannya.
Dan semua ini dihaluskan dengan sentuhan doa: semoga Allah memberimu manfaat dengannya.
Mari kita biasakan lisan ini untuk selalu menyelipkan doa dalam setiap kalimat yang diuntainya. Sebuah sentuhan hati yang mengawali sebuah nasehat yang akan bersemayam dalam hati. Jadi, tak perlu khawatir. Anak usia SD hari ini sudah bisa menerima berbagai nasehat berisi seperti nasehat Rasulullah untuk Abdullah bin Abbas. Dengan konsentrasi tinggi. Asal menggunakan metode Nabi.
Ini sedikit berbeda dengan cara Nabi menasehati anak muda Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar telah berinteraksi sangat sering dengan Rasulullah. Telah tertanam pula rasa bangga dan kagum kepada pendidiknya itu. Sehingga anak muda ini memang telah siap menerima nasehat. Bahkan dengan tanpa mukaddimah sekalipun. Tetapi tetap jangan pelit melakukan sentuhan fisik. Karena sentuhan fisik orang yang dikagumi akan sangat dalam membekas dalam hati.
Untuk menasehati anak Abdullah bin Abbas, Nabi memilih kalimat yang singkat, padat dan mudah dipahami. Rasakan itu pada kalimat-kalimat Nabi berikut:
Jagalah Allah, Dia akan menjagamu.
Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu.
Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit.
Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.
Satu tema, titik. Satu tema, titik. Menjadi seperti sebuah doktrin yang disampaikan bahkan tanpa penjelasan. Karena kalimat-kalimatnya mudah dipahami oleh seorang anak, sehingga sang anak akan mengurai sendiri kalimat itu dalam dirinya. Membuatnya lebih cerdas, membuatnya hidup dalam pemahaman khas miliknya.
Hal ini berbeda dengan kalimat Nabi untuk Abdullah bin Umar yang telah memasuki usia remaja yang telah tumbuh dalam bimbingan nubuwah. Rasakan kalimat berikut ini:
Jadilah kamu di dunia ini seakan seorang yang asing (pengembara) atau penyeberang jalan.
Kalimat singkat, filosofis dan kaya dengan ragam tafsir. Nabi tak hanya menasehati sang anak muda. Tetapi juga ingin mengajari mereka untuk menghidupkan logika berpikir yang kelak menjadi modal besar bagi kebesarannya. Sekaligus memberikan penghargaan bagi usia mereka yang mulai tumbuh dewasa. Usia yang mulai ingin menunjukkan bahwa ia telah besar, bukan anak-anak lagi. Dengan bahasa dewasa seperti ini, dia pun merasa dihargai dengan usianya yang telah dewasa.
Bahkan kalimat filosofis ini pun disampaikan Nabi tanpa tafsir. Tapi lihatlah penafsiran Abdullah bin Umar:
Jika kamu berada disore hari, jangan menunggu hingga pagi hari. Dan jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan hidupmu sebelum matimu
Subhanallah, serasa jauh antara penafsiran Abdullah bin Umar dan pesan Rasulullah. Tetapi ini adalah penafsiran yang amat dahsyat. Kita coba ikuti cara berpikir Abdullah bin Umar.
Seorang musafir atau penyeberang jalan, tidak mungkin berhenti dalam pengembaraannya atau di tengah jalan. Ada tempat tujuan atau tempat kembali. Begitulah hidup di dunia ini. Sebuah perjalanan yang bukan merupakan tujuan akhir. Maka, perbekalan selayaknya seorang musafir harus benar-benar matang. Kesempatan kebaikan jangan disia-siakan. Karena waktu terbatas. Dan kita pun akan segera pergi, menuju tempat tujuan utama dan abadi. Dengan inilah, penafsiran Abdullah bin Umar seperti di atas tersampaikan.
Kata-kata Nubuwah selalu pilihan, pantas jika melahirkan orang-orang pilihan!

Selasa, 05 Januari 2016

Ayah, Ajaklah Anakmu Bermain




Ayah,  Ajaklah Anakmu Bermain!
(Bermain: Bagian Dari Peran Ayah Dalam Mendidik Anak)


Menarik!

Sungguh menarik tulisan Khalid Asy-syantut dalam bukunya “Rumah, Pilar Utama Pendidikan Anak”.  Pada sub bab “Peran Ayah dalam Mendidik Anak”, pakar pendidikan Islam ini menuliskan, “Ketika anak berusia lebih dari dua tahun, ayah hendaknya mengajak anak bermain bersama.”
Mengapa Khalid Asy-Syantut menganjurkan hal yang demikian?
Apa pentingnya bermain dalam tahapan pendidikan anak?
Dan mengapa harus ayah?
***
Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika mobil ayah mulai dinyalakan untuk dipanaskan.  Ayah harus berangkat pagi sekali bila tidak mau terjebak macet dan terlambat sampai di kantor. Bunda mengantarkan ayah di pintu sambil menggendong adek yang masih dalam usia menyusu. Kakak pun menggandeng tangan Bunda sambil terus mengajak bicara sang ayah.  Ayah yang tergesa dan khawatir terlambat hanya menimpali sesekali. Itu pun ketika kakak sudah menanyakan hal yang sama berulang kali hingga membuat ayah bosan dan mulai merasa terganggu.
Jam 05.45 ayah pun berangkat ke kantor. Kakak dan adik menghabiskan waktu bercengkrama dengan bunda sepanjang hari. Bunda melakukan semua pekerjaan rumah sambil mengasuh kakak dan adik. Makanan bergizi pun terhidang. Baju tercuci dan tersetrika rapi. Rumah bersih dan wangi. Lalu bunda mengajarkan kakak membaca dengan telaten sambil menyusui adik. Malam pun tiba, Bunda dengan penuh kasih sayang menutup kegiatan hari ini dengan berkisah untuk kakak dan adik yang mulai mengantuk.
Tiba-tiba terdengar bunyi pagar rumah yang dibuka dan derum suara mobil ayah memasuki halaman. Anak-anak pun berlarian ke depan menyambut ayah.
“Ayah, kakak tadi diajari membuat pesawat oleh Bunda. Ayo Yah kita main, kakak sudah tunggu Ayah dari tadi”.
Ayah menjawab,”Sama bunda saja yah mainnya, ayah lelah sekali. Sekarang ayah mau mandi dan langsung istirahat. Jangan ganggu ayah yah, ayah kan seharian kerja cari uang untuk kalian.”
Kakak pun menggandeng bunda dan minta bunda menyimpankan pesawatnya sambil berkata,”Bunda, ayah capek yah cari uang untuk kita? Kalau begitu kakak main sama ayah hari Ahad saja yah Bun, kalau ayah sedang tidak bekerja.”
Ahad pun tiba. Ayah sudah mandi dan rapi di pagi hari. Melihat ayah sudah rapi, Kakak yang terlambat bangun langsung minta diambilkan pesawat untuk mengajak ayahnya bermain. Namun ayah berkata,”Mainnya sama bunda saja yah Nak, Ayah ada janji reuni dengan teman-teman ayah.Nanti pulang ayah belikan mainan pesawat yang bagus untuk kakak.”
“Asiiik, nanti kita main ya Yah…” seru Kakak.
Ayah pun menyahut,”Sepertinya ayah akan pulang malam hari ini, Kak. Mainnya besok sama Bunda saja yah. Yang penting, besok pagi ketika kamu bangun tidur, mainan pesawat yang baru dan bagus sudah ada di meja belajarmu.” Kakak pun mengangguk. Entah apa yang ada di hatinya.

***
Banyak dari para suami yang mengira bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab istri. Suami tidak dituntut kecuali untuk memenuhi kebutuhan materi anak-anak dan istrinya. Akibatnya, suami sering menghabiskan waktunya di luar rumah bersama rekan-rekannya dan ketika kembali ke rumah langsung beristirahat di kamar sambil meminta istrinya menemani anak-anak mereka agar tidak menganggu istirahatnya. Jika demikian keadaannya, keluarga tersebut jelas dalam keadaan bahaya (Asy-Syantut, 2005).
Ayah, tidak malukah pada Rasulullah, sang pemimpin ummat?  Yang dalam kesibukannya yang tak terbayangkan, Beliau tetap menyediakan waktu bercengkrama dengan anggota keluarganya.

Ingatkah kisah bagaimana Rasulullah pernah sholat sambil menggendong Umamah? Beliau memberikan keteladanan dan contoh nyata cara sholat dan adabnya yang dirasakan langsung oleh si kecil Umamah, sekaligus memberikan ilmu kepada para sahabat.

Tidakkah kita ingin mencontoh kemesraan antara Rasulullah dengan Hasan dan Husein radhiallahu anhum ketika mereka duduk dan bercanda bersama? Bagaimana Beliau menyediakan punggung dan dadanya untuk dinaiki oleh kedua cucu kesayangannya, sambil mencium dan mendoakan mereka. Lihatlah nilai yang ditanamkan dari kedekatan emosional yang dibangun oleh Rasulullah dengan Hasan dan Husein.
Juga tidak lupa kita akan kisah dilarangnya Hasan memakan kurma sedekah. Penanaman nilai halal haram yang diberikan bahkan ketika si kecil sedang digendong di atas bahunya.
Tidakkah  itu cara efektif menanamkan nilai keimanan? Gabungan antara kasih sayang, bermain dengan aktivitas fisik yang membangun kedekatan emosional , yang semuanya berpadu dengan ketegasan khas seorang ayah. VIP! Eksklusif hanya Ayah….. Ya! AYAH!

***
Ajaklah anakmu bermain, Ayah…
Mengoptimalkan waktu yang tidak banyak di antara kesibukanmu mencari nafkah,
Karena anakmu menanti dan menikmati kebersamaan bersamamu…

Itu semua adalah peranmu, Ayah…
Dalam mendidik anakmu, harapan terbesarmu, asetmu yang paling berharga
Karena hanya dirimu yang memiliki kombinasi lengkapnya…

Ayah,
Dirimu lah sang pemimpin keluarga ,
Dimana peran besar pendidikan keluarga ada di tanganmu,
Dirimu lah yang  kelak akan mempertanggungjawabkan kepemimpinanmu terhadap kami semua di hadapan Allah pada akhirnya….


(Diolah dan terinspirasi dari tulisan Khalid Ahmad Asy-Syantut dalam bukunya: Rumah Pilar Utama Pendidikan Anak).