Sabtu, 28 April 2012

PEMBERITAHUAN UNTUK CALON SISWA BARU KB-TKIT ANAK SHOLEH

Bapak ibu calon wali murid KB-TKIT Anak Sholeh yang di rahmati Alloh, untuk pengambilan seragam dan penyelesaian administrasi awal di adakan hari Rabu dan Kamis tanggal 9- 10 Mei 2012 mulai pukul 08.00-12.00 WIB. Bisa langsung menghubungi bagian administrasi sekolah KB-TKIT Anak Sholeh dengan Ustadzah Eka dan Ustadzah Widi.

Untuk kelancaran bersama di mohon menyertakan kwitansi pembayaran dan mengajak calon siswa untuk mencoba ukuran baju. Mengingat hari masuk untuk tahun ajaran baru masih sekitar 2 bulan dan ada kemungkinan pertumbuhan anak pesat. Pastikan putra putri Bapak Ibu mendapatkan kenyamanan untuk menyambut hari pertama masuk sekolah.

Sudahkah Bapak Ibu menyiapkan putra- putrinya untuk menyambut dunia baru di sekolah??
SDIT Anak Sholeh bekerja sama dengan Sygma Daya Insani akan mengadakan parenting dengan tema "SMART PARENTS FOR SMART CHILDREN" yang di asuh oleh Bunda Kurnia dari Jakarta. Beliau adalah mentor pildacil di An TV.Acara akan di adakan pada hari Ahad tanggal 27 Mei 2012 di Aula UMBY, JL.Wates km 10 Yogyakarta.Segera daftarkan diri sebelum kuota penuh, jumlah peserta terbatas lho.Kapan lagi kalau tidak sekarang menyiapkan anak-anak kita menjadi anak yang cerdas. Hanya dengan Rp. 30.000,- dapat snack, makalah, blocknote, sertifikat dan yang pasti dapat ilmunya....
Bagi yang berminat bisa menghubungi Ustadzah Tiva 087739255171. Atau bisa datang lansung ke SDIT Anak Sholeh Sedayu.

Jumat, 17 Februari 2012

Bumbu Penyedap Makanan

E-mail Print PDF
Bumbu penyedap masakan kini beredar di pasaran dengan berbagai merek. Yang patut dicermati adalah adanya penyedap rasa berupa Monosodium Glutamat atau Mononatrium Glutamat (MSG). Bahan ini adalah produk microbial, yang media pertumbuhannya bakterinya bisa saja melalui media yang haram. Namun, beberapa merek tertentu sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI karena menggunakan bahan-bahan tambahan yang dipastikan halal (Lihat daftar produk bersetifikat halal dari MUI).

Lalu, di dalam kelompok bumbu dapur terdapat angciu dan kecap. Angciu adalah sejenis arak yang dipakai untuk tumisan masakan. Karena mengandung arak, angchiu ini jelas haram.

Di kelompok bumbu dapur, kecap menjadi salah satu bahan, masakan yang relatif sering digunakan. Kecap berasal dari bahan nabati, yakni kedelai yang pada dasarnya adalah  halal. Namun, proses pembuatan kecap harus melalui berbagai tahapan yang cukup panjang dan melibatkan bahan-bahan tambahan.

Kedelai sebagai bahan baku kecap difermentasikan dalam dua tahap, yaitu fermentasi koji dan fermentasi moromi. Pada fermentasi koji, kedelai yang sudah direbus ditambahkan kapang (sejenis jamur) dan dibiarkan beberapa hari. Sedangkan fermentasi moromi prosesnya lebih alami, karena kedelai yang sudah ditumbuhi jamur direndam dalam larutan garam pekat.

Ada pula kecap yang dalam tahap akhir fermentasinya ditambahkan yeast atau kamir. Yeast adalah starter yang digunakan pada pembuatan minuman keras. Nah, jika pada tahap akhir proses fermentasinya ditambahkan yeast, maka kecap yang akan dihasilkan mengandung alkohol sekitar 2 %. Meski  dilakukan perebusan, alkohol ini tidak akan hilang dan biasanya tersisa 1,6%.

Kandungan alkohol dan penambahan arak pada kecap tentu saja akan menyebabkan makanan yang dihasilkan diragukan kehalalannya. Jika menilik hasil fatwa MUI, kandungan alkohol di atas 1 % saja sudah cukup menjadikannya khamer atau minuman keras.

Cerita bagusnya, saat ini banyak kecap yang diproduksi oleh sejumlah perusahaan besar yang telah bersertifikat halal, sehingga konsumen tak perlu ragu memilih kecap tersebut. Yang harus diwaspadai adalah kecap impor yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, yang biasanya ditambahkan mirin, yakni campuran sake dan gula yang mempunyai aroma lebih manis.

Sumber : Jurnal Halal LPPOM MUI No: 92 November – Desember 2011.

Keluarga dan DampakTelevisi

E-mail Print PDF
Keluarga harus terbentengi dan terfilter dari seluruh informasi dan tayangan TV yang merusak yang menjerumuskan ke dalam lembah kehinaan di dunia dan akhirat. Itulah yang ditegaskan Allah swt. dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6) Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, lembaran kehidupan manusia tidak pernah lepas dan selalu diwarnai nilai-nilai yang lahir dari produk-produknya seperti televisi, internet, game online, BBM, dan lain-lain. Produk-produk ini menjadi aksesoris yang sangat penting, tidak hanya menghiasi rumah dan perkantoran, akan tetapi juga melekat dengan diri mereka. Bagi seorang muslim, semua ini harus bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun kesalehan diri, memperbaiki amal shaleh, memperindah akhlak dan untuk mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Sehingga termasuk dalam kategori hadits Rasulullah saw.: Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sebagian dari kebaikan Islamnya seseorang bila meninggalkan apa-apa yang tidak berfaedah.”  (HR Imam At-Tirmidzi)

Bahaya Televisi
Pertanyaannya; apakah produk-produk ini berbahaya bagi kehidupan kita? Apakah hal ini bertentangan dengan makna ibadah yang merupakan tujuan kehidupan ini? Dan apakah sangat bermanfaat bagi kita untuk memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan sepanjang kita bisa dan mampu mengelolanya?

Kemajuan teknologi informasi bisa berdampak positif atau negatif. Hal ini sangat tergantung  pada penggunanya. Apakah mereka akan memanfaatkan sisi positifnya atau sebaliknya. Di antara pengaruh utama dari banyaknya menonton TV adalah rendahnya tingkat partisipasi sosial dari orang-orang yang suka menonton televisi karena terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan televisi tanpa harus memilah dan memilih acara atau program yang bermanfaat.

Pendeknya, sesungguhnya ada pesan dan target  utama dari tayangan TV bagi keluarga muslim bila tidak dikelola dengan manajemen yang Islami : Pertama; sarana ghazwul fikri (perang pemikiran) dan merusak akhlak. Kedua; sarana sosialisasi budaya permisif, konsumtif, materialis dan hedonis Ketiga; sarana menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berfaedah.

Tiga hal ini bisa muncul bila yang mengelola media elektronik adalah orang yang hanya bertujuan untuk mengejar keuntungan tanpa memperhatikan sisi education. Dan juga orang-orang yang mempunyai tujuan untuk merusak moral anak bangsa dan menjauhkan pemuda dari nilai-nilai agama. Maka yang muncul di layar televisi, internet dan media elektronik lainnya, hanyalah program-program yang berbau pornografi, mendorong hubungan bebas, sekuleris, budaya hidup permisif dan materialis. Ada ungkapan Samuel Zuemer di hadapan para misionaris pada tahun 1935 di Al-Quds, Palestina: “Tujuan kalian bukan untuk mengeluarkan mereka dari agamanya, akan tetapi memutuskan hubungan dari tali agama sehingga tidak memiliki ikatan akhlak yang kuat…”

Sikap Kita Terhadap televisi

Dalam mengisi kehidupan yang fana ini, perlunya kita memperhatikan kembali keshalehan pribadi dan keluarga berkaitan dengan media elektronik. Keluarga harus terbentengi dan terfilter dari seluruh informasi dan tayangan TV yang merusak yang menjerumuskan ke dalam lembah kehinaan di dunia dan akhirat. Itulah yang ditegaskan Allah swt. dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

Berangkat dari perenungan ayat ini, maka kita harus bersikap secara benar terhadap beragam tayangan televisi. Agar kita benar-benar bisa menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang tidak berfaedah yang berujung pada kerugian besar dan  tidak membiasakan diri menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV tanpa memilah dan memilih program yang berfaedah dan bermakna bagi kehidupan keluarga.

Rasulullah saw. bersabda: Dari Ibnu Mas’ud r.a. secara marfu’: “Rasa malu kepada Allah swt. bila kamu menjaga kepala dan isinya, perut dan yang di dalamnya dan hendaklah kamu mengingat kematian dan kehancuran. Maka barang siapa yang melakukan itu, sungguh dia telah memiliki rasa malu yang sebenarnya kepada Allah.” (H.R. Imam At-Tirmidzi)

Jadi, yang perlu kita perhatikan pada tayangan dan program TV adalah:
Pertama; Memilah dan memilih program yang bermanfaat dan memiliki nilai education. Jangan sampai kita membiarkan diri kita larut dalam pilihan yang salah bahkan menjerumuskan anak-anak kita. Orang tua harus mendampingi anak-anak dalam menikmati tayangan TV. Tidak hanya mendampingi saja, tapi mengarahkan kepada hal-hal yang baik dan benar untuk masa depannya. Jangan sampai menjadi generasi yang mengabaikan ibadah dan mengikuti hawa nafsunya. Apalagi sangat banyak tayangan sinetron yang tidak mendidik para pemuda, bahkan menjerumuskan mereka untuk mengikuti dan meneladani hal-hal yang mengarah pada dekadensi moral dan budaya permisif.

Allah swt. berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (Q.S. Maryam: 59-60)

Kedua; Memperhatikan waktu secara tepat. Jangan sampai ada satuan waktu yang berlalu tanpa ada satuan kebaikan yang terbangun. Jangan biarkan waktu-waktu kita berlalu dengan tayangan-tayangan gosip, ghibah, pornografi dan pornoaksi.

Orang bijak berkata: “Apabila kamu bicara, ingatlah bahwa Allah swt. mendengar kamu dan apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Dia melihatmu.” (dari Imam Ahmad bin Mani’). Wallahu a’lam bish-showab.

Tanamkan Nilai Kejujuran Sejak Dini

E-mail Print PDF
“Bunda kok gulanya dikembalikan,” kata sulungku mengomentari iklan yang diputar di kereta api saat perjalanan kami ke Jakarta. “Itu karena penjualnya mengurangi timbangan,” jawabku. “Maksudnya gimana Bunda,” tanyanya lagi. “Ibu tadi membeli gula 1 kg tapi setelah dicek ternyata beratnya tidak ada 1 kg, akhirnya si ibu yang membeli menegur dan mengembalikan kepada bapak penjualnya,” Aku menjelaskan pelan-pelan.
“Jadi maksudnya bapak penjualnya curang ya Bunda?” tanyanya kemudian. “Iya sayang, dan curang itu kan tidak boleh,” lanjutku. Ia diam sesaat dan kemudian. “Tapi uangnya bapak penjual lebih banyak ya Bunda,” katanya dengan tersenyum ragu-ragu. Sambil tersenyum sambil berkata “Iya sayang, tapi itu merugikan orang lain, dan Allah tidak ridho karena itu termasuk perbuatan dholim nanti rezeki uangnya juga tidak diberkahi Allah.” Akhirnya sepanjang perjalanan kita memperbincangkan tentang sikap curang dalam banyak kegiatan yang dilakukan. Hingga sambil tersenyum malu. “Kalau Kakak curang berarti tidak diberkahi Allah ya Bunda, padahal Bunda mau tahu nggak Kakak terkadang curang juga….,” ujarnya dan belum sempat aku menjawab “Eit…Bunda nggak boleh marah kan Kakak sudah jujur,” tambahnya lagi. Aku hanya tersenyum sambil mengusap kepala dan mengacak-acak rambutnya.

Seringkah Ananda menanyakan apa yang mereka lihat kepada kita? Terkadang tanpa kita sadari ada banyak pelajaran yang bisa kita sampaikan saat Ananda menanyakan hal tersebut. Dan kondisi seperti ini merupakan moment yang tepat untuk memasukkan nilai-nilai kehidupan kepada Ananda. Demikian pula halnya terkadang ada tayangan yang bisa membantu kita untuk menanamkan nilai kehidupan yaitu tidak boleh bersikap curang.

Sikap curang dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temui dalam berbagai situasi dan kondisi. Di antaranya tidak jarang kita temui sebagian pedagang mengurangi takaran atau timbangan dari barang yang dijualnya. Ataupun ada kondisi yang cacat dari barang dagangan tetapi tidak disampaikan terlebih dahulu kepada pembeli dan justru berusaha untuk menutupi kecacatan barang tersebut.

Demikian pula berbagai bentuk sikap curang terkadang kita temui di saat Ananda bermain, berbagi mainan atau makanan, mengerjakan atau mengumpulkan tugas dan lain-lain. Bahkan di antara sikap ini terkadang sudah dianggap biasa atau lumrah karena mungkin orang dewasa menganggapnya hal yang wajar terjadi pada anak-anak.

Sebagai contoh adalah sikap menyontek saat ulangan atau ujian. Bagi sebagian orang menyontek adalah hal yang biasa atau dianggap sebuah kesalahan yang kecil. Padahal banyak akibat negatif yang ditimbulkan dari kebiasaan ini. Semisal Ananda menjadi tidak serius dalam belajar karena berfikir “Ngapain belajar toh nanti bisa nyontek atau bertanya kepada teman saja”. Sehingga yang difikirkan  adalah strategi bagaimana mengecoh guru atau pengawas dan bukan berusaha berlatih dan belajar. Hal negatif lain yang ditimbulkan adalah Ananda akan terbiasa dan merasa ringan serta tidak bersalah ketika melakukan kecurangan.

Ayah Bunda terkadang berlaku curang seolah memang menguntungkan.  Saat Ananda memperoleh nilai bagus dengan menyontek terkadang mereka lupa bahwa itu bukan nilai yang sebenarnya. Andai mereka  mendapatkan nilai 9 dengan menyontek bisa jadi nilai sebenarnya 7 karena 2 point yang lain ia peroleh dari menyontek dan bertanya kepada temannya.

Keuntungan yang sifatnya sesaat inilah yang terkadang membuat kita maupun Ananda terlena. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah kita seolah lupa bahwa Allah Maha Melihat dan tidak tidur serta akan mencatat setiap apa yang kita lakukan dengan detail.

Oleh karenanya menjadi sesuatu yang penting adalah menanamkan sikap dan berperilaku dengan jujur kepada Ananda sedari kecil. Sekecil apapun itu yang namanya berbuat curang akan berakibat negatif. Banyak alasan dan penjelasan yang bisa kita sampaikan kepada Ananda.

Mungkin Ananda akan berfikir kenapa aku harus bersusah-susah padahal ada cara yang lebih mudah dan dapat menghasilkan dengan lebih baik. Oleh karenanya diperlukan alasan yang bijak dan mudah dimengerti oleh mereka. Hal lain yang bisa kita sampaikan adalah bahwa tentunya kita hidup tidak hanya mencari nilai yang terukur di dunia saja. Karena masih ada kehidupan yang kekal dan abadi di akherat nanti.
Wallahu a’lam bishowab




Rabu, 15 Februari 2012

Hukum Menutup Rambut Bagi Perempuan

28/10/2011 | 01 Zulhijjah 1432 H | Hits: 4.653
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
0
0diggsdigg
email
Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com – Telah menjadi suatu ijma’ bagi kaum Muslimin di semua negara dan di setiap masa pada semua golongan fuqaha, ulama, ahli-ahli hadits dan ahli tasawuf, bahwa rambut perempuan itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.
Adapun sanad dan dalil dari ijma’ tersebut ialah ayat Al-Qur’an: “Katakanlah kepada perempuan yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (Q.s. An-Nuur: 31).
Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah SWT telah melarang bagi perempuan Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut perempuan itu termasuk hal-hal yang lahir; bahkan ulama-ulama yang berpandangan luas, hal itu digolongkan perhiasan yang tidak tampak.
Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, “Allah SWT telah melarang kepada kaum perempuan, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh IbnuJubair, “Wajah” Ditambah pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”
Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”
Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa perempuan diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”
Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadat, misalnya shalat, ibadat haji dan sebagainya.”
Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar RA bertemu dengan Rasulullah SAW, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis, lalu Rasulullah SAW memalingkan muka seraya bersabda:
“Wahai Asma’! Sesungguhnya, jika seorang perempuan sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini …” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).
Dengan demikian, sabda Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa rambut perempuan tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan. Allah SWT telah memerintahkan bagi kaum perempuan Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala,” sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadits yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadits manapun.
Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum perempuan jika menutup kepala dengan akhmirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah SWT memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”
Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah RA telah berkata, “Mudah-mudahan perempuan yang berhijrah itu dirahmati Allah.” Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka.
Ketika Aisyah RA didatangi oleh Hafsah, kemenakannya, anak dari saudaranya yang bernama Abdurrahman RA dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah RA lalu berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qaradhawi

Topik: , , ,

Kunci Kebahagiaan Hakiki

24/6/2011 | 23 Rajab 1432 H | Hits: 7.234
Oleh: Farid Triawan
Kirim Print
9
0diggsdigg
email
dakwatuna.com - Alasan setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan.
Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata,
“rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah”.
Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan?
Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada 100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja.
Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan.

Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan.
Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf “pusat kesenangan” atau “pleasure center”. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obat-obat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara.
Allah SWT berfirman pada Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 124;
“dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S.Thaahaa (20) : 124)
Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar.
Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).
Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya.
Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”.
Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata.
Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak sia-sia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki.
Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia!
*Farid Triawan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program Doktor di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Email: (farid.triawan@gmail.com)

Topik: ,

Temukan Kebahagiaan Sejati dalam Rasa Syukur

16/2/2012 | 22 Rabiul Awwal 1433 H | Hits: 8
Oleh: faizaru
Kirim Print
0
0diggsdigg
email
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Bismillahirrahmanirrahiim.
Siapa yang tidak ingin jadi pemenang atau menjadi yang terbaik? Jika dunia ini adalah kompetisi maka mereka yang ada di dunia pasti berlomba-lomba agar menjadi yang terbaik. Berbeda dengan hukum rimba, siapa yang menang akan bertahan hidup, memiliki wilayah hingga menguasai hutan. Lalu yang kalah, bersiaplah menjadi mangsa dan menemui ajal. Jika begitu, tak ada pilihan selain menang dalam hukum rimba. Apakah sama kehidupan mereka dengan kehidupan manusia? Dimana hanya ada satu pemenang dan dialah yang bisa bertahan hidup. Tentu tidak. Inilah salah satu perbedaannya. Dalam kehidupan manusia terdapat banyak pemenang. Banyak bidang dimana kita bisa menjadi yang terbaik. Ada orang yang unggul di bidang jurnalistik, akademis, tata boga, bahasa, atau bidang lainnya. Lantas bagaimana jika kita merasa tidak mahir dalam bidang apapun? Atau tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan? Ungkapan yang biasa dikatakan jika hal tersebut terjadi adalah “Aku tidak bahagia”.
Ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh sebagian orang dan sebenarnya adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu qana’ah. Satu kata yang dapat memberi makna lebih dalam kehidupan kita, satu kata yang dapat menentramkan hati, satu kata yang sulit kita amini dalam prakteknya. Qana’ah atau merasa cukup merupakan wujud rasa bersyukur kita terhadap Allah SWT dan darinyalah kita dapat terhindar dari kekufuran juga keputusasaan. Manusia memang tidak pernah merasa puas, namun manusia juga butuh kebahagiaan sehingga manusia-lah yang akhirnya harus memilih untuk mensyukuri apa yang ada atau mengikuti nafsu akan ketidakpuasannya dalam segala hal. Sesuai dengan hadits berikut,
Abdullah bin Amru RA berkata: Bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya beruntung, orang yang masuk Islam dan rezkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya. (HR. Muslim).
Robert Emmons, seorang professor psikologi dari University of California-Davis dan peneliti lainnya mengatakan bahwa bersyukur adalah “faktor yang terlupakan” dalam mencari kebahagiaan. Mereka juga menambahkan bahwa dengan bersyukur, kita dapat mencapai dan mempertahankan ketenangan dan kepuasan lahir dan batin. Selain itu, bersyukur juga dapat ‘memberantas’ depresi yang selama ini dapat melahirkan beberapa penyakit karena menyebabkan disfungsi sistem imun.
Selain dapat menyehatkan fisik dan mental, tentunya Allah akan menambah rizki setiap hambaNya yang bersyukur. Hal ini tertera dalam firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 6,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Satu lagi yang merupakan realisasi rasa bersyukur terhadap Allah SWT yaitu dengan bersedekah. Tidaklah rugi orang yang bersedekah karena Allah senantiasa melipatgandakan setiap rupiah ataupun barang yang kita berikan untuk mereka yang membutuhkan. Bahkan, mendapatkan kemuliaan di mata Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim)
Jadi, untuk mencapai kebahagiaan, kita harus membayarnya dengan bersyukur. Salah satu bentuk rasa bersyukur yakni dengan selalu bersikap qana’ah dan bersedekah. Senyum, yang merupakan bagian dari sedekah, akan mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri juga lingkungan sekitar. Sebuah siklus yang unik.
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. At –Tirmidzi)
Wallahu’alam bishawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18698/temukan-kebahagiaan-sejati-dalam-rasa-syukur/#ixzz1mVNqV5oZ

Informasi PSB TK dan KBIT Anak Sholeh

Alhamdulillah telah tercatat 31 calon peserta didik baru dan 23 Daftar ulang dari KBIT Anak Sholeh. Berarti kuota untuk TK A telah terpenuhi 54 anak. Mohon maaf untuk calon peserta didik yang belum bisa kami tampung di TKIT Anak Sholeh. Mohon doanya agar tahun depan kami bisa memperbaharui sistem PSB di Anak Sholeh, sehingga memininmalkan jumlah anak yang tidak bisa masuk di TKIT Anak Sholeh. Agar kami bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat sekitar.

Data yang tercacat hari ini, 16 Februari 2012 untuk KB telah terisi 20 calon peserta didik. Bagi yang ingin mendaftarkan putra putri nya di harapkan segera mendaftar, masih ada kuota untuk 5 anak.
Setiap hari jam kerja Senin- Sabtu. Tidak melayani via telephon atau sms. Demi kenyamanan bersama di harapkan wali calon peserta didik untuk datang sendiri di KBIT Anak Sholeh, jl. Wates km 11, Gunung Bulu, Argorejo, Sedayu, Bantul.

PSB T.A 2012/2013


brosur pendaftaran.jpg

Selasa, 14 Februari 2012


H. Muhammad Widus Sempo, MA

Dimensi Medis Sujud

7/2/2012 | 13 Rabiul Awwal 1433 H | Hits: 919
Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA

Kirim Print
0
0diggsdigg
email

Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Allah SWT berfirman:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب [[۩]] ﴿١٩﴾
“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Q.S. al-Alaq [96]: 19)
Rasul SAW bersabda:
(أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ!).
“Hamba sangat dekat kepada Tuhannya dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa kalian di saat itu.”[[1]]
Dan sabdanya:
(وَخَيْرُ أَعْمَالِكُمْ الصَّلاَةُ).
“Dan sebaik-baik amalan kalian adalah shalat.”[[2]]
Isyarat-isyarat keurgensian shalat dalam teks-teks di atas telah ditafsirkan dan diejawantahkan oleh para ulama dari pelbagai dimensi. Bagi pemerhati rahasia dan hakikat shalat, khususnya para sufi, shalat adalah indeks bentuk-bentuk ibadah seluruh makhluk. Olehnya itu, shalat mengumpulkan kesempurnaan ibadah makhluk-makhluk lain.
Jika Anda ingin penjelasan lebih lanjut tentang ini, silakan simak secara saksama penuturan Ustadz Said Nursi di saat menyuguhkan telaah retorika terhadap salah satu jumlah dari pelbagai jumlah yang ada pada ayat ketiga Surah al-Baqarah sebagaimana berikut:
“Firman Allah SWT (وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةََ), Ketahuilah! Sesungguhnya model sistematika pada ayat ini yang menjadikannya sangat terkait dengan ayat sebelumnya sungguh sangat jelas, lebih jelas dari terik sinar matahari di siang hari. Yang diketahui bersama, di sana terdapat aneka ragam ibadah yang pelaksanaannya diperankan oleh anggota tubuh, tetapi yang disebutkan di sini hanya shalat saja. Sesungguhnya itu mengisyaratkan bahwa shalat adalah indeks, model, dan cermin terhadap ibadah-ibadah lain. Dia seperti Surah al-Fatihah terhadap Al-Qur’an, dan manusia terhadap alam. Semua itu karena ia meliputi apa yang disimbolkan ibadah puasa, haji, zakat, dan lainnya. Di lain sisi, dia pun melambangkan bentuk-bentuk ibadah semua makhluk, baik yang fitrah ataupun yang lahir dari pilihan mereka sendiri, seperti: malaikat yang hanya ruku’ saja, yang sujud, atau yang berdiri saja, dari batu yang sujud, pohon yang berdiri, dan hewan yang ruku…” [[3]]
Selanjutnya, beliau lebih jauh memaparkan fungsi maknawi shalat dengan mencoba mengemas rahasia-rahasia shalat dalam satu ikatan pemaknaan. Di sini beliau berkata:
“Kemudian, shalat itu sendiri ikatan kuat, kesempatan emas, dan layanan mulia antara hamba dan Tuhan, Sultan kerajaan abadi. Tentunya, jalinan ikatan tersebut sungguh sangat didambakan setiap ruh. Sementara itu, rukun-rukunnya mengoleksi rahasia-rahasia yang telah dijelaskan oleh «al-Futûhât al-Makkiyyah», [[4]] dan tentunya, rahasia-rahasia itu sangat digemari setiap dari mereka yang punya cita rasa. Di lain pihak, shalat adalah undangan khusus dari Allah yang Maha Kekal lima kali sehari semalam yang mengajak ke maharibaan-Nya untuk melantunkan munajat suci, sehingga ia pun terhitung sebagai Mi’raj orang-orang beriman. Olehnya itu, ibadah seperti ini pasti dirindukan oleh hati. Bukan hanya itu, ia melanggengkan goresan-goresan keagungan Sang Pencipta di hati dan menjadikan konsentrasi akal membujur terhadapnya guna menunjukkan kepatuhan terhadap keadilan Allah dan ketaatan terhadap aturan hidup-Nya. Manusia butuh kelanggengan goresan makna-makna tersebut karena mereka makhluk sosial secara fitrah. Wahai orang yang celaka karena meninggalkannya! Dan wahai yang merugi karena malas menegakkannya! Wahai yang bodoh karena tidak mengetahui nilainya! Maka kerugian, kesengsaraan, dan kehinaan terhadap jiwa yang tidak memuliakannya.”[[5]]
Hemat penulis, uraian ini membuka peti makna yang dikoleksi oleh hadits di urutan ketiga di atas.
Di lain tempat, para saintis merasa terpanggil membuktikan dimensi medis shalat setelah ia mengamini tetesan-tetesan rahasia shalat secara maknawi yang terkemas dalam pelbagai teks-teks Islam. Di antara dimensi medis shalat yang menggelitik perhatian mereka rahasia medis sujud yang diisyaratkan ayat pertama dan hadits kedua. Mereka dengan sendirinya berkata: “kenapa hanya sujud yang disebutkan pada kedua teks di atas? Bukankah shalat itu bukan hanya sujud saja? Penuturan ayat dan hadits tersebut pasti mengandung pelbagai makna. Tapi, apakah dimensi medis punya bagian dalam hal ini?”
Di antara temuan medis yang dilaporkan laboratorium mereka, seperti: sujud dapat mengurangi radiasi Elektromagnetik [[6]] di tubuh yang merusak sel-sel tubuh sehingga menyebabkan pelbagai penyakit, seperti: sakit kepala, kram dan nyeri otot, infeksi leher, capek, letih, dan cepat lupa. Jika muatan radiasi tersebut bertambah tanpa dikeluarkan maka ia dapat mengakibatkan kanker dan merusak embrio. Olehnya itu, muatan tersebut wajib dikeluarkan dari tubuh tanpa mengkonsumsi obat-obatan yang punya efek samping terhadap tubuh sendiri.
Yang membuat mereka dan yang lain takjub, muatan Elektromagnetik ini dengan mudahnya keluar lewat sujud. Dengan meletakkan dahi di tempat sujud gelombang muatan di atas mengalir berpindah dari tubuh ke tanah (tempat sujud), khususnya, di sujud itu sendiri terdapat 7 anggota tubuh yang menyentuh tanah, yaitu: dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki). Mereka saluran pembuangan yang menjalankan fungsinya dengan baik terhadap gelombang muatan tersebut. [[7]]
Laporan berikutnya dari mereka disampaikan oleh Dr. Abdu as-Syakur Abdul Latif yang menyimpulkan bahwa shalat dapat mencegah pingsan. Di sini beliau menyampaikan:
“di sana ada dua riset ilmiah yang menjelaskan bahwa sujud meningkatkan kesadaran dan mencegah pingsan. Salah satu dari kedua penelitian tersebut terlaksana di bawah pengawasan dr. Hagool dan dokter-dokter lain. Riset ini dipublikasikan pada tahun 1994 dalam sebuah buku “Cardiac Journal Arq Bras“. Dan kedua dilakukan oleh sekelompok ilmuwan medis Inggris yang dimuat dalam buku “Health Journal“. Mereka menyimpulkan bahwa sebab pingsan adalah kurang darah sehingga urat saraf terganggu.
Studi pertama memeriksa 122 penderita pingsan. Tekanan dan denyut jantung mereka dibandingkan sebelum makan dan sesudahnya, kemudian mereka diminta duduk di atas tempat tidur. Hasilnya, 52 dari mereka pingsan. Tetapi, dengan berbaring (mereka yang tidak pingsan) penyakit tersebut pergi dari mereka, dan faedah sujud melebihi faedah baring, mengingat darah di saat sujud mengalir dan berkumpul di otak.
Studi kedua memeriksa 24 penderita pingsan. Mereka diminta mengangkat kepala setinggi 75 derajat dan darah mereka diperiksa sebelum dan sesudah pingsan. Hasilnya, terdapat dalam tubuh mereka Beta Endorphin yang berlebihan sebelum pingsan, yaitu zat narkotika. Sementara itu, sujud mencegah tubuh dan otak untuk memproduksi zat beracun seperti ini.
Studi ini juga menunjukkan bahwa mereka yang terlalu angkuh dan menyombongkan diri untuk tidak sujud kepada Allah SWT terdapat dalam darah mereka zat kimia beracun.”[[8]]
Di samping itu, shalat dapat mengurangi komplikasi diabetes. Tentunya, temuan ini seperti mengibarkan spanduk besar yang menegur si penderita dengan tulisan ini: “wahai si penderita diabetes! Pujilah Allah yang tidak menurunkan penyakit kecuali disertai dengan obat! Apalagi jika obat penyakitmu itu adalah shalat. Ibadah yang memberikan Anda kesembuhan fisik, luapan makna, rahasia, dan hakikat kehidupan, dan memberikan pahala yang buahnya –insya Allah- dipetik di akhirat.”
Di sana ada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Prof. Hiroki klen (Guru Besar Fakultas Kedokteran di Universitas Toho, Jepang) tentang pembuktian hakikat di atas. Penelitian tersebut dilakukan antara dua kelompok: kelompok pertama terdiri dari orang-orang sehat, dan kedua terdiri dari beberapa pasien diabetes. mereka menemukan bahwa berdiri terlalu lama sebab dari berkurangnya Albumin [[9]] yang terbuang lewat air seni setelah aliran darah ke ginjal tidak tersuplai dengan volume yang cukup. Tentunya, ini ancaman tersendiri terhadap buruh kerja yang menghabiskan kebanyakan waktu kerjanya dengan berdiri terlalu lama. Di sini, fungsi medis sujud nampak dengan jelas, ia mampu menyuplai darah ke jantung dan ginjal dan menyaring darah dari materi-materi beracun, seperti: urine dan Kreatinina. [[10]] Zat-zat ini dapat menyebabkan gangguan dan bahaya terhadap aktivitas otak dan saraf-saraf pusat. [[11]]
Sebelum saya mengajak para pemerhati tema-tema hikmah syariat menarik sebuah kesimpulan, Anda sekalian diajak melihat satu lagi temuan baru dari fungsi medis sujud. di antara riset ilmiah modern yang ditemukan ibadah ini punya kemampuan mencegah datangnya penyakit Varises (perluasan pembuluh darah. Umumnya, pembuluh darah nampak di bawah kulit seperti tali memanjang dengan warna ungu) dengan gerakan-gerakan tubuh saat ruku’ dan sujud yang mengaktifkan sirkulasi darah dan menormalkan kembali tekanan darah di seluruh tubuh.
Di studi lain, mereka melaporkan bahwa ruku’ dan sujud dapat menguatkan dan mengencangkan otot-otot perut, tangan, dan paha. Selanjutnya, gerakan-gerakan shalat dapat menambah aktivitas usus sebagai salah satu alat pencernaan. [[12]]
Di penghujung tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema ilmiah di Al-Qur’an dan Sunnah menyuarakan kesimpulan sebagaimana berikut:
“Tidak ada alasan yang bisa diterima akal bagi mereka yang lalai atau sengaja meninggalkan shalat. Bukan hanya satu makna, rahasia, dan dimensi kehidupan yang datang menyapa Anda, melainkan ratusan makna. Apa lagi yang membuat Anda jauh dari pintu shalat? Bukankah ulama-ulama Islam, khususnya mereka yang menggeluti dunia tasawwuf, telah lama membeberkan luapan makna kehidupan dan ketuhanan yang dibiaskan ibadah ini? Apa lagi yang Anda tunggu untuk tidak sujud? Bukankah studi ilmiah para saintis telah melaporkan beberapa fungsi medis gerakan ini. Sekarang, mari menegakkan shalat dan memperbanyak doa di saat sujud sebagaimana yang dilakukan Rasul Saw.! Di antara doa sujud yang dipanjatkan beliau: [[13]] (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى كُلَّه،ُ دِقَّهُ، وَجِلَّه،ُ وَأَوَّلَه،ُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ، وَسِرَّهُ)”

Catatan Kaki:
[[1]] Hadits ini dikeluarkan di Shahîh Muslim dari Abi Hurairah Ra, kitab Shalat, bab Mâ Yuqâlu fi ar-Rukû’ wa as-Sujûd, no. hadits: 1111, hlm. 233
[[2]] Syekh Syuaib al-Arnaûth dalam menjustifikasi hadits ini berkata:
“Hadits ini sah, perawi-perawinya tepercaya, dan semuanya termasuk perawi-perawi dalam Shahîh Bukhâri, kecuali Abdu ar-Rahmân bin Maesarah, beliau adalah Abu Salama al-Himsha, haditsnya diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibn Majah, dan dia Shadûq (yaitu perawi yang kadang periwayatannya tidak sempurna, sehingga derajatnya turun dari Tsiqah (yang periwayatannya kuat, jauh dari kesalahan) ke Shadûq), tetapi boleh jadi ia tidak mendengarkan hadits itu langsung dari Tsawbân. Olehnya itu, al-Hâfidz Ibn Hajar di at-Taqrîb menempatkannya di lapisan keempat, yaitu lapisan perawi-perawi dari generasi Tabiîn muda (Shigâr at-Tabiîn, yaitu mereka yang melihat satu atau dua orang dari sahabat dan sebagian dari mereka tidak meriwayatkan hadits dari sahabat, seperti al-A’masy dan yang lain) yang periwayatan mereka umumnya dari para Kibâr Tabiîn (yang periwayatan mereka dari sahabat, seperti: Said bin al-Musayyab).” [lihat: komentar ini di Musnad Imam Ahmad, no. hadits: 22414, vol. 37, hlm. 95]
[[3]] Bediuzzaman Said Nursi, Isyârât al-I’jâz fi Madzânnil Îjâz, diarabkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihi, Sözler Publications, cet. 6, 2011, hlm. 49
[[4]] Lihat: Syekh Muhiddin al-Arabi Muhammad bin Ali, al-Futûhât al-Makkiyyah, Dar al-Kutub al-Arabiyyah al-Kubra, Mesir, cet. 1, 1329 H, bab 37 (في معرفة أقطاب، صل فقد نويت وصالك، وهو من منزل العالم النوراني), vol. 1, hlm. 192, bab ke 69 (في معرفة أسرار الصلاة وعمومها), vol. 1, hlm. 386
[[5]] Bediuzzaman Said Nursi, Op. Cit, hlm. 50
[[6]] Radiasi Elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat lain. Cahaya yang tampak adalah salah satu bentuk radiasi Elektromagnetik. Gelombang Elektromagnetik ditemukan oleh Heinrich Hertz. Di antara benda lain, selain cahaya, yang memancarkan radiasi gelombang ini adalah kawat listrik, antena, dan benda-benda elektronik lain. Lihat definisi ini di website berikut:
http://www.scribd.com/doc/14352623/radiasi-elektromagnetik
[[7]] Lihat: artikel ini di website berikut: http://majdah.maktoob.com/vb/majdah7782/ dan:
http://www.benguerir.net/index.php/ar/component/content/article/183-فوائد-السجود-من-الناحيه-العلميه
[[8]] Abdu as-Syakur Abdul Latif, as-Sujud Yamnaul Igmâ’, muktamar internasional ketujuh tentang kemukjizatan ilmiah di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, Dubai, 1426 h, vol. 1, hlm. 42-43
[[9]] Albumin (bahasa Latin: albus, white) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk ke segala jenis protein monomer yang larut dalam air dan larutan garam, dan mengalami koagulasi saat terpapar panas. Substansi yang mengandung albumin, seperti putih telur, disebut albuminoid. Pada manusia, albumin diproduksi oleh retikulum endoplasma di dalam hati dalam bentuk proalbumin . [Lihat artikel ini di: http://id.wikipedia.org/wiki/Albumin]
[[10]] Kreatinina (bahasa Yunani: κρέας, daging) merupakan produk hasil reaksi hidrolisis pada fosfokreatina yang terjadi di otot, yang terjadi dengan ritme yang cukup konstan (tergantung pada massa otot). Sejumlah besar kreatinina yang terdapat dalam sirkulasi darah akan ditapis keluar bersama dengan urin, dan tidak diserap kembali ke dalam darah. . [Lihat artikel ini di: http://id.wikipedia.org/wiki/Kreatinina]
[[11]] Lihat: Abdu as-Syakur Abdul Latif, as-Sujûd Yuhaffif min Mudhâafât Maradh as-Sukkar, Muktamar Internasional tentang Mukjizat Ilmiah di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, hlm. 23-24
[[12]] Lihat: Abdu ad-Dâim al-Kahîl, Rawâî’ al-I’jâz fil Qur’an, hlm. 80 [artikel ini dimuat di website: www.keheel7.com]
[[13]] doa ini diriwayatkan oleh Abi Hurairah Ra dalam sebuah hadits. [lihat: Shahîh Muslim, kitab Shalat, bab Mâ Yuqâlu fi ar-Rukû' wa as-Sujûd, no. hadits: 1112, hlm. 233]

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18516/dimensi-medis-sujud/#ixzz1mR0eNibg

Muslimah Rusia Terkesima dengan Jilbab Klaten

27/5/2011 | 24 Jumadil Akhir 1432 H | Hits: 1.263
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
3
0diggsdigg
email
Perdagangan kerudung dan busana muslim (ANTARA/Irsan Mulyadi)
Ilustrasi - Perdagangan kerudung dan busana muslim (ANTARA/Irsan Mulyadi)
dakwatuna.com – London. Muslimah Rusia terkesima ketika melihat jilbab-jilbab cantik khas Indonesia yang berasal dari Klaten pada pameran “Moscow International Halal Exhibition 2011″. Busana muslimah dari Bunda Collection tersebut didatangkan dari tanah air untuk dipamerkan di stand Indonesia, ujar Sekretaris Kedua Pensosbud KBRI Moskow Lailal K. Yuniarti kepada ANTARA London, Kamis.

Selain menampilkan jilbab unik dan menawan, stand KBRI Moskow juga memamerkan produk-produk makanan halal dari tanah air. Muslimah Rusia yang terkenal modis sangat tertarik dengan jilbab-jilbab berasal dari Klaten, Jawa Tengah tersebut yang ditata rapi dengan warna-warni cerah sesuai untuk musim semi dan musim panas seperti pink, ungu dan hijau.
Selain warnanya yang menarik perhatian, penampilan jilbab dengan bunga dan payet tersebut sangat sesuai dengan jiwa orang Rusia yang senang tampil modis dan glamour. Dalam kesempatan itu, KBRI Moskow juga akan menampilkan peragaan busana muslim dengan menghadirikan seorang perancang busana dari Indonesia, Toto Supangat.
Peragaan busana yang menampilkan lebih dari 20 busana muslim dengan tema batik dan tenun akan menghiasi puncak kegiatan Moscow International Halal Exhibition 2011 pada 28 Mei mendatang. Tahun ini untuk yang kedua kalinya, KBRI Moskow kembali berpartisipasi dalam “2nd Moscow International Halal Exhibition”.
Pameran produk dan industri halal ini diselenggarakan oleh Dewan Mufti Rusia didukung oleh beberapa kementerian dan instansi terkait di Rusia. Pameran telah dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Mufti Rusia, Sheikh Ravil Gaynutdin, pada Kamis dan berlangsung hingga 28 Mei mendatang.
Menurut Mufti Rusia, Sheikh Ravil Gaynutdin, produk dan industri halal di Rusia saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Diharapkan dengan semakin banyaknya peserta Moscow International Halal Exhibition 2011 ini akan semakin memperluas cakrawala masyarakat Rusia mengenai potensi produk-produk halal di Rusia.
Sementara Duta Besar Hamid Awaludin menyatakan dengan jumlah muslim Rusia yang cukup besar, yaitu 23 juta dari 140 juta penduduk atau 18 persen dari total populasi Rusia, Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memasukkan produk-produk halal Indonesia ke pasar Rusia. Tidak saja produk makanan dan minuman, tetapi juga pakaian-pakaian muslim dan kosmetik halal yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim Rusia, ujarnya.
Moscow International Halal Exhibition 2011 ini diadakan di salah satu expo center terbesar di Rusia diikuti oleh sekitar 75 perusahaan dan beberapa negara Islam. Produk-produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari industri makanan olahan dan minuman bersertifikat halal, cafe dan restoran halal, biro-biro perjalanan, percetakan buku-buku Islam serta produsen pakaian muslim. (Krisman Purwoko/ant/RoL)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/05/12412/muslimah-rusia-terkesima-dengan-jilbab-klaten/#ixzz1mQzNvIv8

Islam Masuk Kurikulum Sekolah di Rusia

14/2/2012 | 20 Rabiul Awwal 1433 H Please wait
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
0
0diggsdigg
email
Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin (tengah), berbicara pada saat kunjungannya ke sebuah sekolah di Kurgan, Senin 13 Februari 2012. (AP Photo)
dakwatuna.com – Moscow. Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin mengeluarkan keputusan bahwa seluruh agama yang dianut warganya akan diajarkan di sekolah. Dengan keputusan itu, wali murid harus memilih satu dari enam mata pelajaran agama yang ditetapkan. Setelah itu, para siswa akan mengikuti mata pelajaran agama hingga Agustus mendatang.
“Kurikulum tersebut mencakup pelajaran agama Islam, Kristen Ortodoks, Yahudi, Budha, agama-agama dunia, dan etika sekuler,” tulis radio Iran, Irib mengutif media Rusia, Mehr News, Minggu (12/2).
Kementerian Pendidikan Rusia merilis data minat pelajaran Agama yang diikuti para siswanya. 43 persen pelajar mengikuti pelajaran etika sekuler, 30 persen mengikuti pelajaran Kristen Ortodoks, 18 persen ke arah agama-agama dunia, 9 persen mengikuti pelajaran agama Islam, dan 1 persen mengikuti kelas Budha.
Kurikulum tersebut telah diberlakukan di 20 wilayah Rusia dan tercatat sekitar 300 ribu pelajar mengikuti program tersebut.
Sebelumnya, Gereja Kristen Ortodoks Rusia mendukung pelajaran wajib agama dan kebudayaan bagi para pelajar. (irib/fuz/jpnn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18645/islam-masuk-kurikulum-sekolah-di-rusia/#ixzz1mQyqsEvo
Serba-Serbi Awal Sekolah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Nangis, teriak, berontak, itu kali sedikit penggambaran hal-hal yang dilakukan anak-anak baru…anak TK maksudnya, ketika awal masuk sekolah. Adaaa..aja ekspresi mereka, nggak sedikit yang pemberani dan Pede abiz untuk melangkah masuk kelas sendiri tanpa di temani mama papa, umi abi, ato ayah bunda. Tapi memang beragam eksprsi ini yang unik dan bikin rame, nggak seru juga kalo nggak gini…
Sedikit tips yang mungkin bisa di lakuin buat ngebantu anak-anak unik ini biar bisa cepet Pede dan berani buat melangkah sendiri ke kelas barunya:
Yang PertaMa : Buat kesepakatan
Yupz,,,kaya kalo kita bertransaksi..bikin kesepakatan dengan anak-anak kita untuk memastikan bahwa mereka nggak bakal nangis dan datang ke sekolah dengan senyuman manis dan bukannya nangis. Misal : “Mbak Alya yang sholihah, nanti di anter umi sampe gerbang ya, kan Mbak Alya anak hebat, nanti kalo berani masuk kelas sendiri, umi kasih bintang”…ingatkan kembali kesepakatan itu ketika nanda mendekati pintu gerbang, puji dia dan bikin dia Pede …
Yang KeDua : Butuh Ketegaan Hati
Di sini, memang butuh tegaan ma anak, termasuk tega mendengar tangisan dan jeritan mereka, karena anak akan lebih lama nangis kalo orang tua masih di dekatnya, dia bakal nangis sekencang mungkin, karena dia yakin ortu bakal nolongin mereka. Tapi pada beberapa kasus, justru ketika orang tua tega langsung ninggal anak dan mempercayakan sepenuhnya pada pengajar, anak akan lebih cepat diam dan lebih cepat menikmati kegiatan di sekolahnya, hmm,,bisa jadi dia ngerasa”nangis pun juga umi dah terlanjur pulang…”hehe…yang pasti pengajar pun harus menunjukkan perhatian sepenuhnya sehingga anak merasa enjoy tanpa umi atau abinya
Yang KeTiGa : Datang AwaL
Datang lebih awal secara emosional membuat anak lebih tenang dan memiliki waktu lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan, teman dan gurunya. Biasanya Ketika anak datang siang dan suasana sudah ramai atau bahkan kegiatan sudah di mulai, dia akan merasa bingung, nggak Pede dan berujung pada tangisan.
Yang Ke EmPat : Bikin Anak Enjoy di sekolahnya..
Jelas ini jadi tugas utama guru…Ketika anak sudah bisa di tenangkan…saatnya beraksi untuk membuat anak enjoy dengan dirinya, teman-temannya dan lingkungan sekolahnya…bisa dengan permainan yang menumbuhkan kebersamaan, memberi reward, atau menjadi teman curhat, soalnya anak-anak suka bercerita dan kita musti jadi teman yang setia mendengarkan dan menanggapi cerita mereka, tau ketika dia anak yang pendiam, guru yang harus aktif agar mereka merasa nyaman bercerita dengan kita dll.
Ehm…anak-anak memang unik, tangisan dan teriakan mereka adalah bagian dari keunikan mereka, so,,,perlu di telateni…..


(Sumber enHa Kids)

Wudhu sejalan dengan mekanisme tubuh

Wudhu Sejalan dengan Mekanisme Tubuh

E-mail Print PDF

Tanpa disadari, seorang muslim telah menjalankan perilaku hidup bersih. Karena sebagai muslim yang taat pastilah rajin menjalankan ibadah shalat. Dan untuk itu seorang muslim harus menjaga kesucian fisik dengan wudhu atau mandi sebagai syarat sahnya shalat. Nah, secara langsung hal tersebut sudah termasuk perilaku hidup bersih. Bayangkan, dalam sehari seorang muslim wudhu minimal 5 kali. Saat itu pula dia membersihkan seluruh anggota badan terluarnya, yakni muka, mulut, tangan, kepala, dan kaki. Bagaimana pandangan pakar medis terhadap hal ini? Berikut wawancara Majalah Nur Hidayah dengan Prof. Dr. dr. Haryono, Sp.KK mengenai kebersihan yang dianjurkan agama Islam.

Sebagai dokter spesialis kulit, bagaimana tanggapan Dokter terhadap wudhu atau anjuran bersuci di dalam Islam?
Kebersihan sangat dianjurkan dalam Islam. Di sana ada wudhu, mandi, potong kuku, mencukur bulu ketiak dan sebagainya. Ibaratnya orang yang depan rumahnya ada sungai dan dia membersihkan diri lima kali di dalamnya. Tentu saja berbeda dengan mereka yang tidak pernah membersihkan diri. Kalau umumnya orang itu kan mandi dua kali sehari, nah ini wudhu lima kali sehari. Itu sudah baik sekali.
Adakah hubungannya dengan kesehatan kulit ditinjau dari segi medis?
Oya, sangat berhubungan. Kalau dicermati, wudhu itu kan membersihkan anggota badan paling luar; muka, tangan, kaki, kepala. Nah, kulit itu adalah bagian tubuh yang paling luar. Jadi dengan berwudhu secara rutin sama artinya menjaga kebersihan kulit. Kalau kulit bersih maka kesehatannya akan terjaga. Kulit sangat berperan terhadap kesehatan tubuh. Sebagai bagian terluar yang melindungi bagian dalam tubuh, kulit sangat berpotensi bersinggungan langsung dengan ancaman dari luar seperti kuman bakteri, virus, jamur, yang semuanya dapat menyebabkan terserang penyakit kulit misalnya infeksi atau radang.
Dapat diberikan contohnya seperti apa, Dok?
Kulit memiliki lima lapisan dari yang paling luar epidermis sampai kulit ari bagian paling dalam. Semuanya memiliki mekanisme regenerasi yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah swt. Tiap 3-4 pekan sekali kulit mengalami regenerasi. Nah, jika mekanisme ini terganggu, karena kurang bersih misalnya, maka timbullah penyakit atau gangguan kulit, baik yang bersumber dari mikroba atau zat kimia bahan kosmetika. Seperti sensitif terhadap merkuri dalam kandungan bahan kosmetika. Jika masuk ke pori-pori kulit bisa masuk dalam aliran darah, akibatnya dapat berbahaya bagi organ ginjal. Kulit yang tidak bersih mudah terserang jamur atau bakteri kuman dan virus. Karena itu anjuran untuk berwudhu setiap hari sangat sinkron dengan dunia kesehatan.
Berbicara soal kebersihan, bukankah sebuah paradoks manakala Islam sangat menganjurkan kebersihan tetapi masih ada saja umat Islam yang perilakunya kurang bersih?
Benar. Islam sendiri sangat baik dengan menganjurkan hidup dan berperilaku bersih. Bahkan hadits tentang kebersihan ini sangat masyhur, “Ath-thahuru minal iman, kesucian itu sebagian dari iman.” Tetapi umat Islam kan berbeda-beda dalam pengamalannya. Ada orang yang dapat mengamalkan dan ada pula yang karena keterbatasannya belum mampu mengamalkan sepenuhnya. Pertama, orang itu kurang menghayati ajaran agama atau syariat Islam. Kedua, bisa jadi karena level pendidikan sehingga kurang mengetahui tentang pentingnya menjaga kebersihan. Ketiga, dari aspek sosial-ekonomi mungkin kurang; adakalanya mandi di sungai dengan kualitas air rendah, rumahnya bocor sedang lantainya masih berupa tanah yang diratakan. Seperti itulah.
Lantas apa yang seharusnya kita lakukan sebagai muslim?
Sebagai sesama muslim mestinya kita berusaha mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Adapun orang lain yang belum mengerti kita ajak untuk lebih memahami kemudian sama-sama mengamalkan. Yang terpenting bagi kita, umat Islam harus terbebas dari kemiskinan dan kebodohan, dua hal itu yang jadi pangkal keterbelakangan. Karena seorang muslim yang baik harus bersih luar dan dalam.
Bersih 'dalam' berarti semacam inner beauty begitu, Dok, maksudnya?
Ya. Istilahnya kecantikan luar dan dalam bagi wanita, punya inner beauty dan outer beauty. Outer beauty atau kecantikan luar yakni 'cantik' dan bersih secara fisik, baik pribadi maupun lingkungan. Sedangkan inner beauty-nya adalah kecantikan akhlak, hatinya bersih. Muslim yang baik akhlaknya juga baik tidak suka menyakiti orang lain.
Apakah itu seperti memiliki qolbun salim?
Ya, seperti itu. Qolbun salim adalah hati yang selamat, bersih, dan tenang. Hati ada tiga, yakni hati yang mati, hati yang sakit, dan hati yang sehat. Semua orang pasti menginginkan hati yang selamat, qolbun salim, karena itulah yang menjadikan hidupnya tenang. Itulah menjadi tujuan manusia hidup di dunia, selalu dalam kebaikan, sebagaimana doa yang dicontohkan dalam Al-Qur'an, “Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar.” (Q.S. Al-Baqarah: 201). Bukan harta atau pangkat jabatan yang menjadi sebab ketenangan hidup tetapi hati yang bersih dari penyakit itulah yang menjadikan hidup tenang. Tak ada jalan lain untuk menjadi muslim yang kaffah kecuali dengan mengikuti contoh Rasulullah saw. Wallahu a'lam. (if)

(Sumber Majalah NH)