Minggu, 08 Desember 2013

Kristenisasi Merambah Anak TK

Diposkan oleh Gresia Divi pada Kamis, 25 April 2013 | 20.00 WIB


Hampir setiap hari selalu ada berita tentang mualaf. Sebaliknya, kita juga sering mendengar berita tentang kristenisasi yang semakin marak dengan berbagai macam model. Bahkan, kristenisasi sekarang sudah mengincar anak-anak TK. Seperti yang kudapati pada seorang anak didikku...

Hari itu, di tengah keasyikannya bermain dengan teman-temannya, aku terkaget-kaget melihat stiker yang tiba-tiba dikeluarkan dan dengan bangga ditunjukkan padaku dan teman-temannya. Betapa kagetnya diriku, seluruh sticker yang ia bawa adalah gambar-gambar Kristiani seperti salib, gereja, bunda Maria, dan sejenisnya. Tempat didik kami yang notabene adalah berbasis keislaman jelas sangat bertentangan dengan hal itu.

Sekonyong-konyong aku langsung memutar otak di saat yang mendesak itu untuk mencari cara menjelaskan pada anak-anak dengan cara yang sebijak mungkin karena teman-temannya yang lain sudah antusias dengan stiker tersebut. Alhamdulillah, dengan penjelasan dan diskusi ringan dengan mereka, akhirnya mereka bisa mengerti dan stiker itu pun mereka serahkan padaku. Sebagai gantinya, aku kemudian membelikan mereka stiker yang bernuansa Islam. Pyuhfffff... anak-anakku...

Selidik punya selidik, ternyata stiker tersebut ia dapat dari neneknya. Agar lebih jelas, aku segera mengklarifikasi orang tuanya. Dari mereka, aku mendapatkan penjelasan bahwa saat ia jalan-jalan bersama neneknya suatu waktu, anak didikku itu meminta dibelikan stiker tersebut. Si nenek tanpa pikir panjang membelikannya tanpa melihat apakah itu sesuai atau tidak untuk cucunya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian tersebut baik oleh pihak orang tua maupun aku sendiri sebagai seorang pendidik. Bagi orang tua, tidak terkecuali nenek kakek atau saudara, hendaklah benar-benar selektif dalam memberikan mainan ataupun permainan (game) pada anak karena anak-anak adalah 'imitate' yang handal dan sangat mudah untuk didoktrin. Jadi apa mereka kelak, itu pun sangat tergantung pada pembentukan kita terhadap mereka sejak dini, di masa usia dini yang merupakan 'golden age' mereka.

Untuk para pendidik, pemberian informasi yang ringan dan logis bagi anak tentang adanya bermacam-macam agama, ciri-ciri, kebiasaan, dan alasan mengapa ada banyak agama juga sangat penting bagi mereka. Jika kita hanya menanamkan pada mereka untuk cinta Islam tapi tidak memberikan gambaran yang lain bahwa ada agama lain selain Islam hanya akan membuat mereka tidak tahu dan iya-iya saja saat menerima hal baru apalagi menarik bagi mereka. Bahkan, yang dikhawatirkan jika kita memaksa anak untuk cinta Islam dengan mencekoki mereka dengan apa itu syahadat, rukun Islam, rukun iman, shalat, dan lain-lain tanpa mereka tahu mengapa harus melakukannya, bahkan yang lebih parah jika mereka tidak mengerti apa sih Islam itu.

Tanpa kita sadar seringkali kita (para guru dan orang tua) mengajari mereka tentang Islam dan seabrek yang lainnya dan kita sudah puas jika mereka mau melakukannya. Tapi bisa jadi mereka mau melakukannya karena 'imitate' yang tinggi pada mereka atau “takut”. Mereka belum tentu tahu alasan mengapa harus melakukan semua itu.

Tapi, apapun itu bentuknya yang paling penting adalah jangan panik, karena kepanikan kita terkadang justru membuat kita terlalu keras pada mereka hingga memberikan putusan yang mereka tidak mengerti, 'nurut' begitu saja. Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi pada anak itu wajar dan itulah proses. Tergantung bagaimana kita –guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar mereka– menyikapi setiap perkembangan mereka. [Gresia Divi]

Bunda, Beginilah Tahapan Bermain Anak Kita

Diposkan oleh Gresia Divi pada Selasa, 02 April 2013 | 06.00 WIB


Bermain adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Tapi seringkali para orang tua tidak tahu bermain seperti apa yang sesuai tahap perkembangan anak-anak, sekaligus disenangi oleh mereka.

Ada empat tahapan bermain anak yaitu sensori, bermain dengan alat, bermain peran, dan bermain kerjasama. Pada bermain sensori anak diajak bermain pada hal-hal yang dapat menstimulus sensori mereka, seperti bermain air, pasir, dan sejenisnya. Tetapi, fakta berkata lain. Banyak orang tua yang tidak mengetahui akan pentingnya tahap bermain ini sehingga mereka melarang anak-anak untuk bermain pasir atau air dengan alasan kotor. Padahal di situlah waktu mereka distimulus sensori tangan, kaki, dan organ sensori lainnya untuk lebih peka. Jika tahap ini tidak dituntaskan dengan baik, kelak ketika dewasa akan membawa kerugian bagi dirinya dan orang lain.

Mengapa? Karena anak yang sensori motoriknya belum tuntas di usia 2 tahun akan cenderung tidak mudah mengolah emosi dan agresif sekalipun mereka pintar. Bagaimana cara mengetahui tingkat ketuntasan anak dalam tahap bermain sensori ini? Hal ini bisa dideteksi saat anak bermain pasir. Jika mereka bermainnya dengan berguling-guling atau pasirnya hanya “dicuil-cuil”, itu menandakan bahwa sensori motoriknya belum tuntas. Sedangkan anak yang sensori motoriknya sudah tuntas, biasanya akan membuat bangunan dari pasir itu atau sesuatu yang kreatif.

Kemudian untuk bermain dengan alat, kenapa hal ini dirasa perlu tidak lain agar anak belajar untuk menggunakan bermacam-macam peralatan sebagai persiapan hidup mereka kelak saat dewasa (Life Ready). Sebagai contoh, saat bermain mereka harus mengambil dan meletakkan alat pada tempatnya. Misalkan dalam sebuah nampan. Kenapa? Hal ini sebagai pembelajaran mereka jika kelak mereka harus bekerja sebagai dokter, perawat, atau yang lainnya yang membutuhkan ketelitian dan kerapian meletakkan alat. Bagaimana jadinya seorang perawat yang meracik obat jika obatnya saja tercampur atau tertukar tempatnya?

Tahap selanjutnya yaitu bermain peran. Nah, tahap ini juga tidak kalah penting. Anak bisa diajak untuk menjadi dokter-dokteran, keluarga-keluargaan, tamu-tamuan dan bermain peran sejenisnya. Namun pada dasarnya, secara alamiah ketika bertemu dengan teman-teman sebaya, anak secara otomatis melakukan permainan peran ini. Dengan bermain peran, anak-anak bisa diajak menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain.

Dari situ anak akan belajar bagaimana seharusnya berbuat ketika berada pada posisi tertentu. Bagaimana menjamu tamu, misalnya. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, bagaimana harus berbelanja yang benar dan lain sebagainya.Memang penting? Penting sekali. Jangan sampai hal penting seperti ini baru mereka pelajari saat mereka sudah dewasa. Hal itu tidak akan menjadi suatu kebiasaan. Ingat kan pepatah: Bisa karena biasa.

Tahapan yang terakhir yaitu bermain kerjasama. Tahap ini juga sangat penting agar kalau sudah besar mereka bisa bekerja dalam kelompok dengan segala bentuk aturan yang mengikat dalam sebuah kerjasama. Mereka perlu tahu, bahkan perlu bisa, sejak dini.

Nah bunda, semoga kita bisa membersamai ananda bermain sesuai dengan tahapan bermain anak. Sehingga selain mereka enjoy, perkembangan emosi mereka juga terjaga.[Gresia Divi]

Bunda, Beginilah Tahapan Berbahasa Anak Kita

Diposkan oleh Gresia Divi pada Rabu, 27 Maret 2013 | 07.00 WIB


“Didiklah anak-anakmu, sesungguhnya mereka itu dijadikan untuk menghadapi zaman yang berbeda dari zamanmu kini”
(Ali bin Abi Thalib)

Menyadari apa yang dinasehatkan Ali bin Abi Thalib tersebut, banyak ulama dan psikolog Muslim yang menulis buku parenting untuk anak-anak di zaman modern ini. Salah satunya, Dr. Hassan Syamsi Basya dengan bukunya: Kaifa Turabbi Abna’aka fi Hadza az Zaman (Mendidik Anak Zaman Kita). Semangatnya adalah, bagaimana orangtua memperhatikan pendekatan yang lebih tepat; tanpa mengabaikan kondisi zaman yang akan dihadapi anak dan tantangannya.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik putra-putrinya adalah tahapan berbahasa, khususnya bagi anak usia dini. Kita tak bisa lagi memakai cara ala kadarnya untuk menjamin anak-anak kita bisa berbahasa dengan baik. Padahal kecerdasan linguistik adalah kecerdasan yang sangat penting. Dengan kemampuan berbahasa yang benar, anak-anak bisa berkomunikasi dengan baik, berinteraksi, menyampaikan perasaan dan pendapatnya, serta mengembangkan kecerdasan lainnya. Bahkan, hampir seluruh ulama adalah orang yang cerdas dalam berbahasa.

Usia 0 – 1 tahun

Anak usia 3 bulan biasanya mereka bisa berceloteh seputar huruf “a”. Anak usia 3-6 bulan biasanya berceloteh seputar huruf “i”, “u”,dan “o”.

Anak usia 8 bulan celotehan mereka bertambah huruf “m” dan “b”. Biasanya mereka mengatakan “mamamamamama.....” atau “bbbbbbaaaabaaaa”.

Jika dalam usia tersebut anak belum bisa, tenang dulu jangan panik karena hal tersebut bisa diantisipasi dengan terus menstimulus mereka. Caranya bisa dengan mengajak mereka mengobrol (walau mereka belum bisa menjawab), membunyikan bunyi-bunyian, dan perlu diingat untuk tidak mengajak mereka berbicara dengan cepat. Hal ini tidak hanya berlaku bagi anak usia 0-1 tahun tapi sampai usia 5-6 tahun juga. Jika tidak percaya coba saja meminta tolong anak yang sudah faham untuk mengambil sesuatu dengan berbicara cepat dan bandingkan jika dengan berbicara perlahan dan teratur. Manakah yang lebih direspon anak?

Biasanya para orang tua yang anaknya belum bisa berbicara dengan fasih padahal sudah menginjak tahapannya itu dikarenakan orang tua yang tidak pernah mengajak anak berkomunikasi atau melakukannya tapi dengan intonasi cepat.

Usia 1-1,5 tahun
Usia ini merupakan masa holofrasis di mana anak umumnya menunjuk sambil mengucapkan apa yang dia mau.

Usia 2-3 tahun
Merupakan masa todler. Di usia ini yang ditekankan pada anak sebaiknya adalah mengenai bahasa lisan dan kemandirian serta belajar logika. Selain itu, di usia ini, anak dapat mengucapkan kalimat yang berfrase, seperti “minum susu” dan kalimat berfrase, seperti “Tono main bola” bukan seperti kalimat yang benar “Tono bermain bola”.

Usia 3 tahun ke atas
Di usia ini harusnya anak sudah dapat mengucapkan kalimat dengan morfologi yang lengkap, seperti “Aku mau pergi ke sekolah”. Selain itu, biasanya di usia ini terjadi efek trill dan efek mirror pada anak dan diharapkan para pendidik tidak panik jika hal ini terjadi. Pada efek trill, biasanya anak mengucapkan kata dari yang seharusnya diucapkan “surga” menjadi “sruga”, “terserah” menjadi “seterah”, “karpet” menjadi “kapret”. Sedangkan efek mirror biasanya terjadi pertukaran kata saat diucapkan, seperti kata yang seharusnya “kucing” menjadi “kicung”. Jika hal ini terjadi pada anak diharapkan para orang tua atau pendidik tidak malah membiarkannya atau bahkan membenarkan itu karena dianggap lucu atau wajarnya anak tapi hendaknya memberikan contoh bagaimana cara mengucapkan yang benar. Tentunya dengan telaten dan berulang-ulang.

Hal tak kalah penting yang harus dibiasakan pada anak adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial. Bagaimana menanamkan karakter dalam berbahasa sejak usia dini. Secara pragmatik, anak-anak idealnya sudah tuntas masalah aspek kebahasaan dalam komunikasi sosial ini pada usia 4 tahun dan paling lambat 5 tahun. Misalkan; salam, menyela (dengan mengatakan “permisi” atau “maaf”), meminta sesuatu (dengan mengatakan “tolong”), berterima kasih, dan meminta ijin.

Sering kita dapati orang tua yang permisif. Membiarkan anak dalam kekeliruan dengan alasan “masih kecil”, “wajar”, “biasanya begitu.” Padahal kalau kita berpikir “biasanya” hasilnya juga biasa-biasa saja. Pun dalam mendidik anak. Akhirnya tercetaklah anak-anak yang kurang “berbudi”, kurang “berkarakter.” Maka pembiasaan adalah hal yang sangat efektif dalam mendidik anak. Di samping pendekatan utama lainnya berupa keteladanan. Di mana orang tua menjadi teladan dengan selalu mencontohkan mengucapkan terima kasih ketika ditolong, meminta maaf ketika salah, salam ketika bertemu, berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, dan seterusnya.

Semoga bahasan singkat tentang Tahapan Berbahasa Anak Usia Dini ini bermanfaat bagi para orang tua, khususnya bunda. [Gresia Divi]

Kitalah Teladan Mereka

Diposkan oleh ukhtu_emil pada Minggu, 08 Desember 2013 | 21.10 WIB

Siswi muslimah (ilustrasi dari Sindikasi)
“Ustadzah itu begini dan begitu...” kata itu tertulis pada sebuah kertas yang ditaruh di atas tempat tidur teman saya.

Sesaat setelah membaca tulisan itu, teman saya terduduk lemas. Tangannya gemetar. Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela pipinya. Tak disangka, di mata anak-anak ia seperti itu. Ia kemudian menenangkan diri. Diambilnya air wudlu lalu melaksanakan shalat. Kebetulan waktu itu adzan berkumandang.

Setelah sholat ia hanya diam di kamarnya. Tak beranjak walau hanya untuk menengok santri-santrinya. Entah takut atau kalut masih menyelimuti hatinya. Setelah agak sedikit tenang dibacanya kembali surat kaleng itu. Ada satu kata yang begitu menancap di hatinya: “Ustadzah itu nyuruh kami melakukan ini dan itu, tapi ustadzah sendiri gak mau melakukannya!”

Kalimat itu seolah terucap berapi-api. Mencabik-cabik hatinya. Teringat kembali akan surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ini hanyalah cerita singkat mengenai ekspresi seorang santri terhadap ustadzahnya. Ada banyak hal yang disampaikannya. Tapi dari surat itu saya mengambil kesimpulan, bahwa dalam benak santri tersebut ada pertanyaan yang selalu mengeglayuti hatinya, “Mengapa ustadzahku menyuruhku ini dan itu sedangkan beliau sendiri tidak melaksanakannya? Mengapa beliau membuat peraturan ini dan itu sedang beliau tidak mau melaksanakannya?”

Mungkin bagi anak-anak, terutama siswa SMP, hal ini terkesan tidak adil. Dan ini adalah sebuah tanda tanya besar, bagaimana anak-anak bisa mengerjakan kebaikan kalau kita sendiri tak mau melakukannya? Bagaimana anak-anak mau menuruti perintah kita kalau kita sendiri tidak mau mengerjakannya?

Saudaraku... Tentu ini sangat berkebalikan dengan metode mendidik Rasulullah. Dalam sabdanya yang driwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengatakan pada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’ namun dia tidak memberi, maka itu ada adalah sebuah kedustaan”.

Meski hal ini terkesan remeh, secara tidak langsung kita telah mengajarinya berbohong. Kita telah memberi iming-iming palsu sehingga timbullah kekecewaan yang akan membekas dalam ingatan anak tersebut. Yang suatu saat anak itu akan menirunya dengan mengatakan begini, “Aah dulu ibu pernah menjanjikan saya hadiah. Tapi ternyata bohong. Sekarang kalau aku bohong gak apa-apa kan? Kan ibu dulu juga pernah bohong”. Atau misalkan begini “Aah ustadzah saja pernah telat shalat. Jadi kalau kita telat sesekali juga ga apa-apa kan?”

Dalam buku Prophetic Parenting karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafiz dijelaskan bahwa seorang anak akan selalu memperhatikan dan meneladani prilaku orang dewasa. Baik itu orang tuanya, saudaranya atau gurunya. Apabila mereka melihatnya berprilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya.

Orang dewasa (khususnya kedua orang tua dan guru) selalu dituntut menjadi suri teladan yang baik. Karena seorang anak yang berada di masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan orang tuanya. Dia juga bertanya sebab mereka berlaku demikian.

Selain itu dalam buku 100 Cara agar Anak Bahagia, Dr. Timothy menjelaskan bahwa anak-anak belajar dengan mengamati. Mereka memperhatikan dan menirukan tingkah laku kita. Untuk itu kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka. Apabila kita ingin kata-kata kita didengar oleh mereka.

Oleh karenanya, kalau dulu kita mengatkan “Lakukan sesuai kataku, bukan seperti perbuatanku” maka mari kita buang jauh-jauh kata-kata itu. Karena perbuatan jauh lebih menancap dari perkataan. Anak didik kita akan cenderung meniru perbuatan kita daripada apa yang kita katakan. Sehingga dari situ kita dapat berkaca “Sepeti apakah diri kita?”. Karena anak kita atau anak didik kita adalah cerminan diri kita.

Semoga ini menjadi bahan evaluasi bagi kita...

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Jumat, 15 November 2013

Bagaimana Menjadi Mar’atush Shalihah?

Rubrik: Wanita | Oleh: Wita Wahidah - 30/09/13 | 17:18 | 25 Dhul-Qadah 1434 H
Ilustrasi. (Foto: Arief Santras. Model: Nika Annika)
Ilustrasi. (Foto: Arief Santras. Model: Nika Annika)
dakwatuna.com - Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Sahabat dakwatuna, apa sih mar’atush shalihah itu?
Mar’atush shalihah adalah wanita shalihah. Kita sebagai perempuan, betapa indahnya jika tidak hanya menjadi sekadar wanita, bukan? Tetapi mampu memiliki julukan yang indah yaitu perempuan shalihah. Allah SWT sudah menciptakan wanita dengan begitu istimewanya, dengan berbagai anugerah yang hanya Allah berikan kepada kaum wanita. Contoh kecilnya saja, wanita diberikan rahim. Dengan rahim tersebut kita sungguh telah istimewa, namun kita bisa lebih istimewa ketika kita menjadi wanita yang shalihah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash –radhiallahu’anhuma- bahwa beliau Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda :
Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan itu adalah seorang wanita shalihah.
Lalu bagaimana karakteristik wanita shalihah itu? Sebenarnya ada banyak sekali faktor/aspek yang bisa menjadi indikator seorang wanita disebut shalihah, berikut ada beberapa ciri-ciri inti yang bisa kita lakukan dengan kesungguhan hati untuk meraih Ridha Ilahi dengan jalan menjadi wanita shalihah, di antaranya:
1. Muslimah (yang berserah/berpasrah diri kepada Allah SWT)
“Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Kitab dan kepada orang-orang yang  buta huruf, “Sudahkah kamu masuk Islam?” jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 20).
Ciri pertama sebagai dasar kita untuk menjadi wanita shalihah yaitu muslimah, yang dapat diartikan berserah diri kepada Allah SWT. Sesungguhnya kita sebenarnya sudah mengantongi ciri pertama ini, mengapa demikian? Karena ketika kita shalat dan membaca doa iftitah, di sini jelas ikrar kita kepada Allah yaitu sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam. Namun, itu semua tidak cukup dengan ucapan. Yang perlu kita lakukan adalah dalam prakteknya, selalu berserah diri kepada-Nya, semua urusan-urusan hidup dan mati kita hendaknya kita serahkan semua pada Allah. Dialah yang Maha Mengatur, semua teks skenario sudah Allah berikan untuk kita, kita hanya memainkan peran dengan berupaya sebaik-baiknya. Bukankah semua yang terjadi pada diri kita, telah Allah tulis jauh-jauh hari sebelum kita berada di dunia ini?
2. Mukminah (orang yang beriman)
“Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, tetapi akan memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar.” (Q.S. Ali Imran: 179).
Wanita yang percaya dan berusaha benar-benar mengimani rukun iman, insya Allah ia akan menjadi perhiasan yang terindah itu.
3. Qonitat (taat)
“Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surge-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. An-Nisa: 13).
Bagi wanita yang belum bersuami, tentunya selain taat kepada Allah dan rasul-Nya, ia juga harus taat kepada kedua orang tuanya, karena ridha mereka adalah ridha Allah. Banyak hal yang bisa dilakukan kita sebagai perempuan untuk taat kepada orang tua, di antaranya senantiasa patuh terhadap mereka, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran-Nya. Birrul walidain, adalah hal wajib yang hendaknya kita lakukan, banyak cara untuk taat selama mereka masih hidup, raih ridha Allah dengan banyak berbuat baik kepada orangtua.
Nah, kalau wanita yang sudah menikah, tentunya ridha Allah sudah bukan lagi tergantung ridha orangtua, melainkan tergantung pada ridha suami. Maka dari itu, taatnya wanita yang sudah menikah adalah taat kepada suaminya. Banyak bentuk taat kepada suami, beberapa di antaranya yaitu patuh terhadap apa yang diperintahkan selama masih sesuai dengan agama-Nya, pandai memelihara kehormatan dirinya, dan pandai menjaga harta suaminya. Terlebih jika ia menyejukkan hati jika dipandang suaminya. Sungguh Allah memberikan banyak sekali jalan untuk kita meraih surga-Nya.
4. Sabar
“Sungguh pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sungguh mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Q.S. Al-Mu’minun: 111)
Sabar menurut bahasa adalah melarang dan menahan, namun menurut syar’i adalah menahan diri dari keluh kesah, Menahan lidah untuk tidak mengeluh, dan mengekang tubuh untuk tidak berbuat zhalim. Sabar juga merupakan kekuatan hati atau jiwa yang dapat memperbaiki kualitas diri dan perilaku pemiliknya. Untuk menjadi wanita shalihah, berkeluh kesah kepada Allah adalah hal yang dianjurkan, karena hanya kepada Dia tempat mengadukan segala urusan, baik itu berupa kesenangan, maupun keluhan. Dialah pemilik hati, Dia yang mampu memberikan kekuatan serta kesabaran saat kita sedang dilanda cobaan. Sabar terbagi dalam tiga bagian, yakni sabar dalam melaksanakan perintah Allah, hingga ditunaikannya dengan sempurna, sabar dalam menjauhi larangan Allah hingga tidak melakukannya, serta sabar dalam menghadapi kesusahan hingga tidak berkeluh kesah.
Sabar itu tidak hanya ketika kita mendapat masalah atau cobaan, namun ketika kita berdakwah pun butuh sekali yang namanya kesabaran, karena Rasulullah dan para sahabat terdahulu sangat sabar dalam syiar agama Islam, dan jika sabar itu tidak ada dalam diri para pendakwah, maka dakwah tidak akan mampu tersebar luas, dan Islam akan sulit berjaya.
5. Khosyi’ah (khusyu’ atau tunduk)
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah: 45-46).
Menjadi mar’atush shalihah, hendaknya khusyu’ dalam tiap ibadah yang dikerjakan, sungguh-sungguh serta tunduk. Berkeyakinan bahwa Allah SWT selalu mengawasi dalam tiap ibadah kita, terutama ketika sedang shalat. Apabila hati telah khusyu’ maka anggota badan akan mengikuti kekhusyu’an itu. Khusyu’ bisa juga diartikan fokus, benar-benar merasakan kehadiran Allah SWT, sehingga akan timbul ketenangan dan ketenteraman pada hati.
6. Mutashoddiqoh (orang yang menginfakkan harta di jalan Allah)
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 261).
Ini salah satu perbedaan antara wanita biasa, dengan wanita shalihah J mengapa?
Karena biasanya seorang wanita cenderung senang membelanjakan hartanya, baik itu untuk kebutuhannya sehari-hari maupun untuk memuaskan hasrat belanjanya. Terlebih jika wanita yang sudah berumah tangga, harta yang didapat dari suaminya sudah semestinya dia pergunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi, dll. Semua itu tidak salah, asalkan tetap dalam tahap wajar dan tidak termasuk dalam pemborosan. Namun, ada satu hal istimewa dari seorang wanita yang shalihah, yaitu ia senantiasa membelanjakan hartanya untuk agama Allah, seperti untuk kepentingan dakwah di jalan Allah.
Berinfak di waktu lapang maupun sempit, merupakan keunggulan dari wanita shalihah, meskipun ia sedang dalam kesulitan, tetapi ia tak ragu untuk memberikan hartanya kepada yang membutuhkan. Anjuran untuk berinfak di waktu lapang, yaitu salah satunya untuk menghilangkan dari perasaan cinta terhadap harta. Sedangkan berinfak di waktu sempit, adalah untuk menumbuhkan sikap suka memberi daripada diberi. Sebenarnya sesulit apapun kondisi manusia, ia tetap dapat memberikan sesuatu di jalan Allah, tidak hanya dengan harta, melainkan dengan jiwa, raga, tenaga, pikiran serta hati yang dapat digunakan untuk agama Allah.
7. Berpuasa
“Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata: Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke Surga. Beliau menjawab: Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tiada tandingannya. Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya dan beliau pun berkata dengan nasihat yang sama.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Hakim).
Hendaknya wanita muslimah mengetahui bahwa puasa itu mengajarkan kesabaran serta menambah keimanan. Juga mengajarkan pengendalian diri dan tingkah laku yang baik.
Selain puasa Ramadhan, wanita muslimah juga dianjurkan untuk berpuasa sunnah, seperti puasa senin kamis, di hari Arafah, hari Asyura’, enam hari di bulan Syawal, puasa di bulan Sya’ban, pada bulan Muharram, dll. Wanita yang rajin berpuasa, insya Allah akan mendapat keistimewaan yaitu masuk Surga melalui pintu yang bernama Ar-Rayyan.
Untuk wanita yang telah menikah, sebaiknya terlebih dahulu meminta izin kepada suami ketika ingin berpuasa sunnah. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Janganlah seorang wanita berpuasa pada suatu hari, ketika sang suami berada di sisinya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan.” (Muttafaq Alaih).
8. Menjaga kesucian diri
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya . . .” (Q.S. An-Nuur: 31).
Wanita yang ingin menjadi wanita shalihah, hendaknya ia senantiasa memelihara kesucian dirinya, menjaga kemaluannya, dan menutup aurat sesuai syariat. Jadikan diri wanita shalihah adalah sebagai perhiasan yang terindah. Ia sangat berharga, senantiasa belajar dan berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak ternoda oleh hal-hal yang diharamkan.
Mengapa Allah begitu tekankan masalah aurat wanita? Karena aurat wanita adalah hal yang sering dianggap sepele oleh kita para wanita. Padahal justru menutup aurat itu adalah wajib hukumnya.
9. Gemar berdzikir
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab: 41-42).
Mengingat Allah membuat hati menjadi tenang, mengapa? Sebab dengan kita banyak mengingat Allah di setiap waktu, maka setiap langkah, ucapan dan perbuatan akan senantiasa berpedoman dengan ajaran Allah, dan sungguh dosa yang kita perbuat menjadikan hati senantiasa gelisah. Maka dengan mengingat Allah, kita akan bersabar untuk tidak melakukan maksiat, sehingga hati akan selalu tenang dan damai.
Salah satu cara ampuh untuk selalu mengingat-Nya yaitu dengan mengingat kematian. Dengan cara ini, seseorang akan setiap waktu ingat dengan Allah, ingat dengan akhirat, ingat bahwa kapan saja Allah akan memanggil kita. Sehingga kita ingin banyak berbuat kebaikan, serta berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan.
Ingat Allah ketika lapang maupun sempit, ketika sedang gembira maupun sedih, ketika sedang dalam kemudahan maupun kesulitan. Ingatlah Allah, maka Allah akan mengingat kita.
Itulah beberapa ciri-ciri mar’atush shalihah yang bisa kita lakukan agar kita bisa menjadi wanita yang shalihah. Sungguh wanita shalihah itu bagaikan perhiasan yang terindah, dan perhiasan itu tidak akan dihasilkan dengan mudah, tidak akan didapat di sembarang tempat. Ia sudah ditempa, dibentuk sedemikian rupa agar bisa menjadi perhiasan yang benar-benar indah.
Menjadi wanita shalihah tidaklah mudah, namun juga tidaklah sulit, dengan kita bersungguh-sungguh berupaya meraihnya, maka dengan itu kita sudah istimewa.
Semoga saya, sahabat dakwatuna, dan wanita di manapun yang saat ini sedang berusaha belajar untuk menjadi wanita yang shalihah, yang mau memperbaiki dirinya menjadi wanita shalihah di akhir zaman, senantiasa diluruskan niatnya oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, dan mendapat ridha-Nya. Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/30/39981/bagaimana-menjadi-maratush-shalihah/#ixzz2km5sLMRR
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Al-Jazari, Perintis Teknologi Robotika

Rubrik: Pengetahuan, Teknologi | Oleh: Heraldo Yanindra P - 14/11/13 | 22:19 | 10 Muharram 1435 H
Al-Jazari, atau Ibnu Ismail Al-Jazari, atau Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. (muslimheritage.com)
Al-Jazari, atau Ibnu Ismail Al-Jazari, atau Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. (muslimheritage.com)
dakwatuna.com – Pernah menonton film RoboCop, Wall-E, Transformers, dan film-film robot yang lain? Beberapa film tersebut mengangkat robot sebagai pemeran utamanya, dan itu hanya sebagian kecil dari banyaknya film robot yang telah dibuat untuk menunjukkan bahwa di masa depan manusia akan hidup berdampingan dengan produk teknologi yang berkembang pesat. Robot merupakan alat mekanik yang dapat melakukan tugas fisik, baik menggunakan pengawasan dan kontrol manusia, atau menggunakan program yang telah didefinisikan terlebih dahulu, dan tidak dipungkiri lagi, teknologi robot sudah banyak digunakan oleh banyak manusia untuk kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan semakin banyaknya penemuan-penemuan berbasis robotika yang diciptakan oleh inovator-inovator muda dewasa ini.
Sejarah mengenalkan Leonardo da Vinci sebagai perintis teknologi robot atas penemuannya pada tahun 1478, namun itu pun masih hanya dalam bentuk desain di atas kertas. Namun, sebenarnya di awal abad ke-13 M, seorang insinyur yang sangat Al-Jazari, sudah berhasil merancang dan menciptakan aneka bentuk robot pada awal abad ke-13 M. Atas dasar itulah, masyarakat sains modern menjulukinya sebagai ”Bapak Robot”. Dari sini kita tahu bahwa Peradaban Islam sudah lebih maju tiga abad dalam teknologi robotika dibandingkan peradaban Barat saat itu. Ibnu Ismail Al-Jazari, lahir di Al-Jazira, tepatnya di antara wilayah Sungai Tigris dan Efrat. Nama lengkapnya Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, pada abad ke-12. Seperti ayahnya ia bekerja pada raja-raja dinasti Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari tahun 1174 sampai tahun 1200 sebagai ahli teknik. Di masanya, Al Jazari telah mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Adapun mesin robot yang diciptakan Al-Jazari kala itu berbentuk sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam suatu acara jamuan minum. Sebagai robot pemain musik, tentu saja mereka pun ahli menghasilkan suara musik yang indah. Misalnya saja, robot penabuh drum dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Jadi, robot itu pun bermain musik seperti manusia sungguhan!
Robot pemain musik karya Al-Jazari (id.wikipedia.org)
Robot pemain musik karya Al-Jazari (id.wikipedia.org)
Penemuan penting lainnya di era kejayaan Islam yang tak kalah menarik adalah pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan Al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan otomatis itu berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air. Ketika seorang pengguna menahan tuas, air akan mengering dan robot wanita itu akan kembali mengisi baskom dengan air. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari itu juga digunakan saat ini dalam sistem kerja toilet modern.
Pencuci tangan otomatis (id.wikipedia.org)
Pencuci tangan otomatis (id.wikipedia.org)
Teknologi robotika yang dikembangkan Al-Jazari mencapai 50 jenis dan semuanya ditulis dan digambarkan dalam kitabnya yang sangat legendaris, Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Karyanya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Dalam kitab itu juga, Al-Jazari membeberkan secara detail beragam hal terkait mekanika. Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isi kitabnya pun diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Karena kontribusinya di bidang teknologi, pada abad ke-13 Al-Jazari mendapatkan gelar Ra’is Al-A’mal, sebuah gelar yang saat itu disematkan untuk para Insinyur dan Ahli Teknik di peradaban Islam. Tak heran, jika nama lengkap sang insinyur fenomenal itu adalah Al-Shaykh Rais al-Amal Badi al-Zaman Abu al-Izz ibn Ismail ibn al-Razzaz al-Jazari. Sedangkan titel Badi al-Zaman dan Al-Shaykh yang disandangnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ilmuwan yang unik, tak tertandingi kehebatannya, menguasai ilmu yang tinggi, serta bermartabat.
Dengan karyanya ini pulalah, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Al-Jazari memberikan kontribusi yang penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negara Barat. Seorang ahli teknik Inggris, Donald Hill dengan bukunya yang berjudul Studies in Medieval Islamic Technology, begitu kagum dengan pencapaian Al Jazari. Ia berpendapat, ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.” Salah satu karya Al-Jazari yang membuat Donald Hill kagum adalah jam gajah dengan cara kerjanya dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Replika jam gajah dapat dilihat saat ini di London Science Museum. Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.
Jam gajah karya Al-Jazari (picasaweb.google.com/revswain)
Jam gajah karya Al-Jazari (picasaweb.google.com/revswain)
Khatimah
Kontribusi ilmuwan Muslim di bidang teknik di saat itu telah membuat peradaban Islam semakin maju dan mandiri di seluruh aspek kehidupan. Penemuan-penemuan mengagumkan saat itu seharusnya membuat kita semakin termotivasi untuk selalu berkarya, mengingat pada waktu dewasa ini, banyak sekali innovator muda yang mencoba membuat alat berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk menciptakan kemudahan dalam segala aspek. Mulai dari transportasi, kehidupan rumah tangga bahkan sampai ke aspek ibadah. Jelas prestasi ini patut kita banggakan dan dijadikan cermin untuk meraih kemajuan di bidang IPTEK. Tentunya kemajuan yang dicapai di saat peradaban Islam itu berdiri kembali. (HYP)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/11/14/42189/al-jazari-perintis-teknologi-robotika/#ixzz2km2fizRH
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Senin, 11 November 2013

Makanan Cerdas Pemuda Islam

Rubrik: Kesehatan | Oleh: Haryo P - 14/06/12 | 11:30 | 24 Rajab 1433 H
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Syabab (pemuda) Islam di zaman ini dituntut untuk bisa melakukan berbagai hal. Mulai dari berdakwah, belajar ilmu duniawi dan juga berorganisasi. Ketiganya adalah hal yang penting dan juga urgen (segera) harus dipenuhi untuk menyokong dakwah Islam di bumi Indonesia tercinta ini.
Untuk itulah, sudah selayaknya para pemuda selalu mempersiapkan diri mereka supaya dapat melakukan ketiga hal tersebut dengan sebaik mungkin, dan salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan kesehatan otak kita, di mana organ otak merupakan alat bantu utama kita untuk dapat belajar tentang Islam, memikirkan strategi dakwah, dan juga mengais maisyah untuk anak istri dan perjuangan Islam yang mulia. Jika daya pikir kita lemah, lemah juga kemampuan kita.
Untuk meningkatkan daya pikir otak kita sendiri, tidaklah susah. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, mulai dari latihan otak, hingga makanan untuk otak. Akan tetapi karena memang keahlian saya di bidang yang terakhir, maka saya akan lebih memfokuskan untuk membahas makanan untuk otak.
Mikro Nutrien: Peningkat Kemampuan Otak
Salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh otak supaya dapat bekerja dengan maksimal adalah dengan memenuhi kebutuhan mikro nutrien (micronutrient) yang dibutuhkan oleh otak.
Mikro nutrien yang dibutuhkan salah satunya adalah iodine, yang membantu untuk menghantarkan oksigen dalam bentuk terbaiknya kepada otak. Kita para pemuda muslim dapat menemukan mikro nutrien iodine ini di dalam ikan yang mengandung banyak minyak.
Mikro nutrien lainnya yang perlu untuk dipenuhi adalah vitamin C. Vitamin C selain dapat membantu untuk menjaga kesehatan tubuh secara umum, diketahui juga dapat membantu untuk menambah agilitas mental. Para pemuda muslim dapat menemukannya di dalam buah jeruk dan kiwi.
Selain itu, ada baiknya juga untuk mengkonsumsi vitamin K dalam jumlah yang cukup. Vitamin K diketahui dapat meningkatkan kemampuan kognitif kiga dan juga meningkatkan kekuatan otak. Vitamin K banyak ditemui di dalam brokoli dan juga Telur.
Anti Oksidan: Penjaga Otak
Oksigen dalam berbagai bentuknya akan dapat bermanfaat ataupun berbahaya bagi otak manusia. Dalam struktur dan kondisi kimia yang ekstrim, oksidasi dari oksigen bebas dapat merusak sel dan menjadikannya terkena kanker.
Di sinilah pentingnya anti oksidan, di mana dia bekerja sebagai tameng untuk tubuh, terutama untuk bagian organ otak yang banyak berisikan berbagai data dan syaraf penting untuk tubuh. Pemuda muslim yang tidak menjaga kesehatan otaknya dengan mengkonsumsi anti oksidan dalam jumlah yang cukup berisiko besar untuk terkena penyakit mental dan syaraf seperti Parkinson.
Untuk menambah jumlah asupan anti oksidan di dalam tubuh para pemuda muslim, ada baiknya untuk memperbanyak makan tomat (buah yang kaya lycopene, sejenis anti oksidan yang kuat). Dan khusus untuk otak, sangat disarankan untuk memperbanyak memakan sayuran hijau, sayur, nasi merah dan juga gandum serta kacang karena banyak mengandung vitamin E (anti oksidan yang bermanfaat untuk mencegah kepikunan).
Fats: Builders and Insulators
Lemak: Insulator dan Pembangun Otak
Jika kita mendengar kata lemak biasanya yang terbayang di dalam benak kita hanyalah yang negatifnya, padahal lemak tidak semuanya buruk. Sebagiannya dibutuhkan oleh otak untuk dapat beroperasi secara baik dan optimal. Sebagai contohnya adalah myelin di dalam otak yang berfungsi menghubungkan aliran listrik di dalam otak, 70% dari myelin merupakan lemak. Jadi lemak tidak perlu ditakutkan, akan tetapi pilihlah yang memang diperlukan oleh otak.
Ada dua jenis asam lemak esensial yang diperlukan oleh otak, yang pertama adalah asam alfa-linoleat, yang merupakan bagian dari Omega-3. Kita dapat menemukan banyak dari asam ini pada sayuran hijau dan pada sayuran laut.
Yang kedua adalah asam linoleat, yang merupakan bagian dari Omega-6. Kita dapat menemukan jenis asam lemak yang satu ini pada bunga minyak bunga matahari dan juga minyak wijen.
Asam Amino dari Protein: Penyusun Sel Utama
Untuk menyusun berbagai sel di dalam otak diperlukan berbagai asam amino yang banyak, yang bisa kita dapatkan dari protein. Pada akhirnya di dalam tubuh berbagai asam amino akan disintesa menjadi berbagai jenis protein yang berbeda, dan akan menjadi bahan baku bagi pembuatan sel. Jadi akan sangat baik jika kita para pemuda muslim selalu menjaga asupan protein di dalam tubuh kita selalu cukup, sekira 50-60 gram/hari.
Untuk protein, kita bisa mendapatkannya dari berbagai jenis daging, telur dan berbagai kacang-kacangan. Akan lebih baik jika sumbernya bervariasi, tidak hanya dari protein hewani, akan tetapi diperbanyak juga dari sumber protein nabati.
Glukosa: Bahan Bakar Sel
Terakhir, yang perlu kita penuhi untuk memiliki kesehatan otak yang prima adalah kebutuhan Glukosa dalam tubuh. Untuk yang satu ini, kita harus menyuplainya secara terus-menerus sebab neuron-neuron di dalam tubuh kita tidak dapat menyimpan glukosa sendiri.
Sumber yang baik untuk glukosa adalah berbagai jenis gandum utuh seperti sereal, roti gandum utuh, pasta gandum utuh, mie gandum utuh dan sejenisnya. Sedangkan sumber lainnya yang dapat dijadikan andalan adalah buah, nasi dan juga sayuran, serta berbagai makanan yang memiliki rasa manis.
Penutup
Demikian penjelasan singkat mengenai apa saja makanan cerdas yang perlu untuk dikonsumsi oleh para pemuda dan pemudi muslim, supaya memiliki daya pikir yang prima. Semoga bermanfaat dan semoga membantu untuk terwujudnya izzul Islam wal Muslimin.

Referensi
BBC Good Food, bbcgoodfood.com/content/wellbeing/features/boost-brainpower/3/
The Franklin Institute, fi.edu/learn/brain/pyramid.html
National Institute of Health, nccam.nih.gov/health/antioxidants/

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/14/21079/makanan-cerdas-pemuda-islam/#ixzz2kOUAtGDz
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook