Jumat, 17 Februari 2012

Bumbu Penyedap Makanan

E-mail Print PDF
Bumbu penyedap masakan kini beredar di pasaran dengan berbagai merek. Yang patut dicermati adalah adanya penyedap rasa berupa Monosodium Glutamat atau Mononatrium Glutamat (MSG). Bahan ini adalah produk microbial, yang media pertumbuhannya bakterinya bisa saja melalui media yang haram. Namun, beberapa merek tertentu sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI karena menggunakan bahan-bahan tambahan yang dipastikan halal (Lihat daftar produk bersetifikat halal dari MUI).

Lalu, di dalam kelompok bumbu dapur terdapat angciu dan kecap. Angciu adalah sejenis arak yang dipakai untuk tumisan masakan. Karena mengandung arak, angchiu ini jelas haram.

Di kelompok bumbu dapur, kecap menjadi salah satu bahan, masakan yang relatif sering digunakan. Kecap berasal dari bahan nabati, yakni kedelai yang pada dasarnya adalah  halal. Namun, proses pembuatan kecap harus melalui berbagai tahapan yang cukup panjang dan melibatkan bahan-bahan tambahan.

Kedelai sebagai bahan baku kecap difermentasikan dalam dua tahap, yaitu fermentasi koji dan fermentasi moromi. Pada fermentasi koji, kedelai yang sudah direbus ditambahkan kapang (sejenis jamur) dan dibiarkan beberapa hari. Sedangkan fermentasi moromi prosesnya lebih alami, karena kedelai yang sudah ditumbuhi jamur direndam dalam larutan garam pekat.

Ada pula kecap yang dalam tahap akhir fermentasinya ditambahkan yeast atau kamir. Yeast adalah starter yang digunakan pada pembuatan minuman keras. Nah, jika pada tahap akhir proses fermentasinya ditambahkan yeast, maka kecap yang akan dihasilkan mengandung alkohol sekitar 2 %. Meski  dilakukan perebusan, alkohol ini tidak akan hilang dan biasanya tersisa 1,6%.

Kandungan alkohol dan penambahan arak pada kecap tentu saja akan menyebabkan makanan yang dihasilkan diragukan kehalalannya. Jika menilik hasil fatwa MUI, kandungan alkohol di atas 1 % saja sudah cukup menjadikannya khamer atau minuman keras.

Cerita bagusnya, saat ini banyak kecap yang diproduksi oleh sejumlah perusahaan besar yang telah bersertifikat halal, sehingga konsumen tak perlu ragu memilih kecap tersebut. Yang harus diwaspadai adalah kecap impor yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, yang biasanya ditambahkan mirin, yakni campuran sake dan gula yang mempunyai aroma lebih manis.

Sumber : Jurnal Halal LPPOM MUI No: 92 November – Desember 2011.

Keluarga dan DampakTelevisi

E-mail Print PDF
Keluarga harus terbentengi dan terfilter dari seluruh informasi dan tayangan TV yang merusak yang menjerumuskan ke dalam lembah kehinaan di dunia dan akhirat. Itulah yang ditegaskan Allah swt. dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6) Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, lembaran kehidupan manusia tidak pernah lepas dan selalu diwarnai nilai-nilai yang lahir dari produk-produknya seperti televisi, internet, game online, BBM, dan lain-lain. Produk-produk ini menjadi aksesoris yang sangat penting, tidak hanya menghiasi rumah dan perkantoran, akan tetapi juga melekat dengan diri mereka. Bagi seorang muslim, semua ini harus bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun kesalehan diri, memperbaiki amal shaleh, memperindah akhlak dan untuk mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Sehingga termasuk dalam kategori hadits Rasulullah saw.: Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sebagian dari kebaikan Islamnya seseorang bila meninggalkan apa-apa yang tidak berfaedah.”  (HR Imam At-Tirmidzi)

Bahaya Televisi
Pertanyaannya; apakah produk-produk ini berbahaya bagi kehidupan kita? Apakah hal ini bertentangan dengan makna ibadah yang merupakan tujuan kehidupan ini? Dan apakah sangat bermanfaat bagi kita untuk memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan sepanjang kita bisa dan mampu mengelolanya?

Kemajuan teknologi informasi bisa berdampak positif atau negatif. Hal ini sangat tergantung  pada penggunanya. Apakah mereka akan memanfaatkan sisi positifnya atau sebaliknya. Di antara pengaruh utama dari banyaknya menonton TV adalah rendahnya tingkat partisipasi sosial dari orang-orang yang suka menonton televisi karena terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan televisi tanpa harus memilah dan memilih acara atau program yang bermanfaat.

Pendeknya, sesungguhnya ada pesan dan target  utama dari tayangan TV bagi keluarga muslim bila tidak dikelola dengan manajemen yang Islami : Pertama; sarana ghazwul fikri (perang pemikiran) dan merusak akhlak. Kedua; sarana sosialisasi budaya permisif, konsumtif, materialis dan hedonis Ketiga; sarana menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berfaedah.

Tiga hal ini bisa muncul bila yang mengelola media elektronik adalah orang yang hanya bertujuan untuk mengejar keuntungan tanpa memperhatikan sisi education. Dan juga orang-orang yang mempunyai tujuan untuk merusak moral anak bangsa dan menjauhkan pemuda dari nilai-nilai agama. Maka yang muncul di layar televisi, internet dan media elektronik lainnya, hanyalah program-program yang berbau pornografi, mendorong hubungan bebas, sekuleris, budaya hidup permisif dan materialis. Ada ungkapan Samuel Zuemer di hadapan para misionaris pada tahun 1935 di Al-Quds, Palestina: “Tujuan kalian bukan untuk mengeluarkan mereka dari agamanya, akan tetapi memutuskan hubungan dari tali agama sehingga tidak memiliki ikatan akhlak yang kuat…”

Sikap Kita Terhadap televisi

Dalam mengisi kehidupan yang fana ini, perlunya kita memperhatikan kembali keshalehan pribadi dan keluarga berkaitan dengan media elektronik. Keluarga harus terbentengi dan terfilter dari seluruh informasi dan tayangan TV yang merusak yang menjerumuskan ke dalam lembah kehinaan di dunia dan akhirat. Itulah yang ditegaskan Allah swt. dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

Berangkat dari perenungan ayat ini, maka kita harus bersikap secara benar terhadap beragam tayangan televisi. Agar kita benar-benar bisa menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang tidak berfaedah yang berujung pada kerugian besar dan  tidak membiasakan diri menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV tanpa memilah dan memilih program yang berfaedah dan bermakna bagi kehidupan keluarga.

Rasulullah saw. bersabda: Dari Ibnu Mas’ud r.a. secara marfu’: “Rasa malu kepada Allah swt. bila kamu menjaga kepala dan isinya, perut dan yang di dalamnya dan hendaklah kamu mengingat kematian dan kehancuran. Maka barang siapa yang melakukan itu, sungguh dia telah memiliki rasa malu yang sebenarnya kepada Allah.” (H.R. Imam At-Tirmidzi)

Jadi, yang perlu kita perhatikan pada tayangan dan program TV adalah:
Pertama; Memilah dan memilih program yang bermanfaat dan memiliki nilai education. Jangan sampai kita membiarkan diri kita larut dalam pilihan yang salah bahkan menjerumuskan anak-anak kita. Orang tua harus mendampingi anak-anak dalam menikmati tayangan TV. Tidak hanya mendampingi saja, tapi mengarahkan kepada hal-hal yang baik dan benar untuk masa depannya. Jangan sampai menjadi generasi yang mengabaikan ibadah dan mengikuti hawa nafsunya. Apalagi sangat banyak tayangan sinetron yang tidak mendidik para pemuda, bahkan menjerumuskan mereka untuk mengikuti dan meneladani hal-hal yang mengarah pada dekadensi moral dan budaya permisif.

Allah swt. berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (Q.S. Maryam: 59-60)

Kedua; Memperhatikan waktu secara tepat. Jangan sampai ada satuan waktu yang berlalu tanpa ada satuan kebaikan yang terbangun. Jangan biarkan waktu-waktu kita berlalu dengan tayangan-tayangan gosip, ghibah, pornografi dan pornoaksi.

Orang bijak berkata: “Apabila kamu bicara, ingatlah bahwa Allah swt. mendengar kamu dan apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Dia melihatmu.” (dari Imam Ahmad bin Mani’). Wallahu a’lam bish-showab.

Tanamkan Nilai Kejujuran Sejak Dini

E-mail Print PDF
“Bunda kok gulanya dikembalikan,” kata sulungku mengomentari iklan yang diputar di kereta api saat perjalanan kami ke Jakarta. “Itu karena penjualnya mengurangi timbangan,” jawabku. “Maksudnya gimana Bunda,” tanyanya lagi. “Ibu tadi membeli gula 1 kg tapi setelah dicek ternyata beratnya tidak ada 1 kg, akhirnya si ibu yang membeli menegur dan mengembalikan kepada bapak penjualnya,” Aku menjelaskan pelan-pelan.
“Jadi maksudnya bapak penjualnya curang ya Bunda?” tanyanya kemudian. “Iya sayang, dan curang itu kan tidak boleh,” lanjutku. Ia diam sesaat dan kemudian. “Tapi uangnya bapak penjual lebih banyak ya Bunda,” katanya dengan tersenyum ragu-ragu. Sambil tersenyum sambil berkata “Iya sayang, tapi itu merugikan orang lain, dan Allah tidak ridho karena itu termasuk perbuatan dholim nanti rezeki uangnya juga tidak diberkahi Allah.” Akhirnya sepanjang perjalanan kita memperbincangkan tentang sikap curang dalam banyak kegiatan yang dilakukan. Hingga sambil tersenyum malu. “Kalau Kakak curang berarti tidak diberkahi Allah ya Bunda, padahal Bunda mau tahu nggak Kakak terkadang curang juga….,” ujarnya dan belum sempat aku menjawab “Eit…Bunda nggak boleh marah kan Kakak sudah jujur,” tambahnya lagi. Aku hanya tersenyum sambil mengusap kepala dan mengacak-acak rambutnya.

Seringkah Ananda menanyakan apa yang mereka lihat kepada kita? Terkadang tanpa kita sadari ada banyak pelajaran yang bisa kita sampaikan saat Ananda menanyakan hal tersebut. Dan kondisi seperti ini merupakan moment yang tepat untuk memasukkan nilai-nilai kehidupan kepada Ananda. Demikian pula halnya terkadang ada tayangan yang bisa membantu kita untuk menanamkan nilai kehidupan yaitu tidak boleh bersikap curang.

Sikap curang dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temui dalam berbagai situasi dan kondisi. Di antaranya tidak jarang kita temui sebagian pedagang mengurangi takaran atau timbangan dari barang yang dijualnya. Ataupun ada kondisi yang cacat dari barang dagangan tetapi tidak disampaikan terlebih dahulu kepada pembeli dan justru berusaha untuk menutupi kecacatan barang tersebut.

Demikian pula berbagai bentuk sikap curang terkadang kita temui di saat Ananda bermain, berbagi mainan atau makanan, mengerjakan atau mengumpulkan tugas dan lain-lain. Bahkan di antara sikap ini terkadang sudah dianggap biasa atau lumrah karena mungkin orang dewasa menganggapnya hal yang wajar terjadi pada anak-anak.

Sebagai contoh adalah sikap menyontek saat ulangan atau ujian. Bagi sebagian orang menyontek adalah hal yang biasa atau dianggap sebuah kesalahan yang kecil. Padahal banyak akibat negatif yang ditimbulkan dari kebiasaan ini. Semisal Ananda menjadi tidak serius dalam belajar karena berfikir “Ngapain belajar toh nanti bisa nyontek atau bertanya kepada teman saja”. Sehingga yang difikirkan  adalah strategi bagaimana mengecoh guru atau pengawas dan bukan berusaha berlatih dan belajar. Hal negatif lain yang ditimbulkan adalah Ananda akan terbiasa dan merasa ringan serta tidak bersalah ketika melakukan kecurangan.

Ayah Bunda terkadang berlaku curang seolah memang menguntungkan.  Saat Ananda memperoleh nilai bagus dengan menyontek terkadang mereka lupa bahwa itu bukan nilai yang sebenarnya. Andai mereka  mendapatkan nilai 9 dengan menyontek bisa jadi nilai sebenarnya 7 karena 2 point yang lain ia peroleh dari menyontek dan bertanya kepada temannya.

Keuntungan yang sifatnya sesaat inilah yang terkadang membuat kita maupun Ananda terlena. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah kita seolah lupa bahwa Allah Maha Melihat dan tidak tidur serta akan mencatat setiap apa yang kita lakukan dengan detail.

Oleh karenanya menjadi sesuatu yang penting adalah menanamkan sikap dan berperilaku dengan jujur kepada Ananda sedari kecil. Sekecil apapun itu yang namanya berbuat curang akan berakibat negatif. Banyak alasan dan penjelasan yang bisa kita sampaikan kepada Ananda.

Mungkin Ananda akan berfikir kenapa aku harus bersusah-susah padahal ada cara yang lebih mudah dan dapat menghasilkan dengan lebih baik. Oleh karenanya diperlukan alasan yang bijak dan mudah dimengerti oleh mereka. Hal lain yang bisa kita sampaikan adalah bahwa tentunya kita hidup tidak hanya mencari nilai yang terukur di dunia saja. Karena masih ada kehidupan yang kekal dan abadi di akherat nanti.
Wallahu a’lam bishowab




Rabu, 15 Februari 2012

Hukum Menutup Rambut Bagi Perempuan

28/10/2011 | 01 Zulhijjah 1432 H | Hits: 4.653
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
0
0diggsdigg
email
Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com – Telah menjadi suatu ijma’ bagi kaum Muslimin di semua negara dan di setiap masa pada semua golongan fuqaha, ulama, ahli-ahli hadits dan ahli tasawuf, bahwa rambut perempuan itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.
Adapun sanad dan dalil dari ijma’ tersebut ialah ayat Al-Qur’an: “Katakanlah kepada perempuan yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (Q.s. An-Nuur: 31).
Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah SWT telah melarang bagi perempuan Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut perempuan itu termasuk hal-hal yang lahir; bahkan ulama-ulama yang berpandangan luas, hal itu digolongkan perhiasan yang tidak tampak.
Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, “Allah SWT telah melarang kepada kaum perempuan, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh IbnuJubair, “Wajah” Ditambah pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”
Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”
Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa perempuan diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”
Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadat, misalnya shalat, ibadat haji dan sebagainya.”
Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar RA bertemu dengan Rasulullah SAW, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis, lalu Rasulullah SAW memalingkan muka seraya bersabda:
“Wahai Asma’! Sesungguhnya, jika seorang perempuan sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini …” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).
Dengan demikian, sabda Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa rambut perempuan tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan. Allah SWT telah memerintahkan bagi kaum perempuan Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala,” sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadits yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadits manapun.
Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum perempuan jika menutup kepala dengan akhmirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah SWT memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”
Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah RA telah berkata, “Mudah-mudahan perempuan yang berhijrah itu dirahmati Allah.” Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka.
Ketika Aisyah RA didatangi oleh Hafsah, kemenakannya, anak dari saudaranya yang bernama Abdurrahman RA dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah RA lalu berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qaradhawi

Topik: , , ,

Kunci Kebahagiaan Hakiki

24/6/2011 | 23 Rajab 1432 H | Hits: 7.234
Oleh: Farid Triawan
Kirim Print
9
0diggsdigg
email
dakwatuna.com - Alasan setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan.
Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata,
“rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah”.
Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan?
Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada 100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja.
Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan.

Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan.
Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf “pusat kesenangan” atau “pleasure center”. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obat-obat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara.
Allah SWT berfirman pada Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 124;
“dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S.Thaahaa (20) : 124)
Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar.
Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).
Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya.
Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”.
Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata.
Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak sia-sia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki.
Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia!
*Farid Triawan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program Doktor di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Email: (farid.triawan@gmail.com)

Topik: ,

Temukan Kebahagiaan Sejati dalam Rasa Syukur

16/2/2012 | 22 Rabiul Awwal 1433 H | Hits: 8
Oleh: faizaru
Kirim Print
0
0diggsdigg
email
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Bismillahirrahmanirrahiim.
Siapa yang tidak ingin jadi pemenang atau menjadi yang terbaik? Jika dunia ini adalah kompetisi maka mereka yang ada di dunia pasti berlomba-lomba agar menjadi yang terbaik. Berbeda dengan hukum rimba, siapa yang menang akan bertahan hidup, memiliki wilayah hingga menguasai hutan. Lalu yang kalah, bersiaplah menjadi mangsa dan menemui ajal. Jika begitu, tak ada pilihan selain menang dalam hukum rimba. Apakah sama kehidupan mereka dengan kehidupan manusia? Dimana hanya ada satu pemenang dan dialah yang bisa bertahan hidup. Tentu tidak. Inilah salah satu perbedaannya. Dalam kehidupan manusia terdapat banyak pemenang. Banyak bidang dimana kita bisa menjadi yang terbaik. Ada orang yang unggul di bidang jurnalistik, akademis, tata boga, bahasa, atau bidang lainnya. Lantas bagaimana jika kita merasa tidak mahir dalam bidang apapun? Atau tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan? Ungkapan yang biasa dikatakan jika hal tersebut terjadi adalah “Aku tidak bahagia”.
Ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh sebagian orang dan sebenarnya adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu qana’ah. Satu kata yang dapat memberi makna lebih dalam kehidupan kita, satu kata yang dapat menentramkan hati, satu kata yang sulit kita amini dalam prakteknya. Qana’ah atau merasa cukup merupakan wujud rasa bersyukur kita terhadap Allah SWT dan darinyalah kita dapat terhindar dari kekufuran juga keputusasaan. Manusia memang tidak pernah merasa puas, namun manusia juga butuh kebahagiaan sehingga manusia-lah yang akhirnya harus memilih untuk mensyukuri apa yang ada atau mengikuti nafsu akan ketidakpuasannya dalam segala hal. Sesuai dengan hadits berikut,
Abdullah bin Amru RA berkata: Bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya beruntung, orang yang masuk Islam dan rezkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya. (HR. Muslim).
Robert Emmons, seorang professor psikologi dari University of California-Davis dan peneliti lainnya mengatakan bahwa bersyukur adalah “faktor yang terlupakan” dalam mencari kebahagiaan. Mereka juga menambahkan bahwa dengan bersyukur, kita dapat mencapai dan mempertahankan ketenangan dan kepuasan lahir dan batin. Selain itu, bersyukur juga dapat ‘memberantas’ depresi yang selama ini dapat melahirkan beberapa penyakit karena menyebabkan disfungsi sistem imun.
Selain dapat menyehatkan fisik dan mental, tentunya Allah akan menambah rizki setiap hambaNya yang bersyukur. Hal ini tertera dalam firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 6,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Satu lagi yang merupakan realisasi rasa bersyukur terhadap Allah SWT yaitu dengan bersedekah. Tidaklah rugi orang yang bersedekah karena Allah senantiasa melipatgandakan setiap rupiah ataupun barang yang kita berikan untuk mereka yang membutuhkan. Bahkan, mendapatkan kemuliaan di mata Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim)
Jadi, untuk mencapai kebahagiaan, kita harus membayarnya dengan bersyukur. Salah satu bentuk rasa bersyukur yakni dengan selalu bersikap qana’ah dan bersedekah. Senyum, yang merupakan bagian dari sedekah, akan mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri juga lingkungan sekitar. Sebuah siklus yang unik.
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. At –Tirmidzi)
Wallahu’alam bishawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18698/temukan-kebahagiaan-sejati-dalam-rasa-syukur/#ixzz1mVNqV5oZ

Informasi PSB TK dan KBIT Anak Sholeh

Alhamdulillah telah tercatat 31 calon peserta didik baru dan 23 Daftar ulang dari KBIT Anak Sholeh. Berarti kuota untuk TK A telah terpenuhi 54 anak. Mohon maaf untuk calon peserta didik yang belum bisa kami tampung di TKIT Anak Sholeh. Mohon doanya agar tahun depan kami bisa memperbaharui sistem PSB di Anak Sholeh, sehingga memininmalkan jumlah anak yang tidak bisa masuk di TKIT Anak Sholeh. Agar kami bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat sekitar.

Data yang tercacat hari ini, 16 Februari 2012 untuk KB telah terisi 20 calon peserta didik. Bagi yang ingin mendaftarkan putra putri nya di harapkan segera mendaftar, masih ada kuota untuk 5 anak.
Setiap hari jam kerja Senin- Sabtu. Tidak melayani via telephon atau sms. Demi kenyamanan bersama di harapkan wali calon peserta didik untuk datang sendiri di KBIT Anak Sholeh, jl. Wates km 11, Gunung Bulu, Argorejo, Sedayu, Bantul.