BERANI SEKOLAH SENDIRI
Tahun ajaran baru merupakan awal anak kita
memasuki sekolah baru. Orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya
belum berani sekolah sendiri. Anak yang memasuki sekolah baru, khususnya
anak taman kanak-kanak biasanya belum memiliki keberanian untuk sekolah
sendiri. Hal ini sangatlah wajar, karena sekolah merupakan hal yang
sangatlah baru bagi anak kita. Masa ini merupakan masa yang sangat sulit
bagi anak. Anak harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru,
teman baru, guru baru, serta suasana sekolah jelas berbeda dengan
suasana di rumah.
Bunda tidak perlu khawatir, jika buah hatinya
belum mau ditinggal saat sekolah. Hal ini sangatlah wajar karena anak
belum merasa nyaman dengan suasana sekolah yang baru. Anak memerlukan
waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Namun menjadi
suatu masalah apabila anak kita sampai berbulan-bulan belum berani
sekolah sendiri. hal ini tentu akan mengganggu aktivitas bunda dan juga
berpengaruh terhadap perkembangan anak di sekolah. Bagaimana supaya anak
kita berani sekolah sendiri? Disini ada beberapa tips supaya anak kita
berani sekolah sendiri:
1. Tentukan target waktu
Tentukan target waktu, untuk menunggu anak di sekolah. 4 minggu merupakan waktu yang cukup untuk menunggu anak di sekolah.
2. Relakan dan beri kepercayaan serta do’akan anak agar anak bisa melaluinya.
Bunda
harus percaya, bahwa pikiran dan perasan bunda akan berpengaruh
terhadap perkembangan anak kita. Relakan dan beri kepercayaan kepada
anak bahwa anak kita mampu sekolah sendiri. Selain itu, do’akan anak
kita untuk berani sekolah sendiri. Do’a orang tua terutama bunda sangat
besar pengaruhnya bagi anak.
3. Percayakan pada guru dan lembaga
Percayakan
anak kita pada guru atau lembaga di sekolah. Rasa percaya ini merupakan
hal yang sangat penting, kepercayaan bunda kepada guru akan sangat
berpengaruh terhadap perasaan anak. Yakinlah bahwa guru di sekolah
memperlakukan anak kita dengan baik. percayakan bahwa guru sebagai
penggganti kita sebagai orang tua saat di sekolah
4. Menyusun tahapan
Selain
tips diatas, ternyata kita juga harus menyusun strategi dalam menunggu
anak di sekolah. Menunggu anak di sekolah memerlukan beberapa tahapan,
antara lain:
a. Minggu 1, menunggu dekat, terlihat oleh anak.
Bunda
boleh menunggu dengan jarak yang dekat sehingga anak melihat kita
dengan jelas. Disini anak akan merasa nyaman apabila melihat bunda
di sekolah.
b. Minggu 2, menunggu jauh terlihat oleh anak
Pada
minggu kedua ini, bunda menunggu anak dengan jarak lebih jauh dari
pandangan anak akan tetapi anak masih mampu melihat kita.
c. Minggu 3, menunggu tidak terlihat tapi masih di area sekolah
Pada
minggu ketiga ini, bunda menunggu anak di sekitar sekolah tapi dengan
jarak yang tidak terlihat oleh anak. pada tahap ini, pahamkan kepada
anak bahwa bunda masih menunggu anak di sekolah.
d. Minggu 4, melepas anak dengan ikhlas dan pikiran positif.
Pada
minghu keempat ini, lepaslah anak kita untuk sekolah sendiri dengan
perasaan iklah dan pikiran positif. Percayakan sepenuhnya anak kita
kepada pihak sekolah. Yakinlah bahwa sekolah akan ememberikan
pelayanan yang terbaik bagi anak kita. Kepercayaan dan pikiran
positif bunda akan mempengaruhi perasaan anak di sekolah.
***SELAMAT MENCOBA***
Sumber: Bunda Wening. 2012. Bunda, Sekolah Pertamaku. Solo: Tinta Media.
Selasa, 26 Juli 2016
Minggu, 28 Februari 2016
Data Sementara PPDB ( Formulir Terkumpul) TK A dan TK B
| TK A | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| TK B | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Data Sementara PPDB ( Formulir Terkumpul) KB
PPDB Kelompok Bermain
| NAMA ANAK | |||||
| Afnan Wafi Prihastanto | |||||
| Ghaitsa Fauzara Wafa | |||||
| Muhammad Ghaisan Maulana | |||||
| Azzahra Nada Febriana | |||||
| Muhammad Alfatih Risqiullah | |||||
| Keyza Izzatunisa Zhafira | |||||
| Aksa Tirta Panuntun | |||||
| Kayana Nathania Fahira | |||||
| Senandung Alunan Yasin | |||||
| Zafran Agha Ahnaf | |||||
| Candra Nira Adi | |||||
| Fayha Azima | |||||
| Muhammad Balyan Giri R | |||||
| Axcesha Firstka Kaylena Z | |||||
| Khusna Naylu Naja | |||||
| Kenza Shauqia Joevia Avariella | |||||
| Zaidaan Muniff Firjatulloh | |||||
| Adhyasta Mahanipuna | |||||
| Arkharega Dhafin Mikail | |||||
| Ilyas Ghifari Narendra Kanya Tuhfatu Shaumy
|
Selasa, 23 Februari 2016
Outing ke Brimob Sentolo
Alhamdulillah, pagi ini anak- anak KB- TKIT Anak Sholeh semangat sekali. Ada apa ya kira- kira?! Pukul 08.00 anak-anak sudah berbaris rapi menghadap ke gerbang sekolah. Apa ya yang mereka tunggu??
Ternyata hari ini Rabu, tanggal 24 Februari 2016 seluruh siswa KB- TKIT Anak Sholeh ada kunjungan edukatif ke Brimob Sentolo. Riuh suara anak- anak mendengar bunyi sirine bus dan truck yang akan menjemput kami. Bus dan truck polisi berhenti di depan sekolah. Siswa TK B naik truck di bantu oleh Bapak Polisi. Karena tinggi, meskipun sudah ada kursi masih saja kesulitan naik. Alhamdulillah, Pak Polisi nya baik- baik. Anak- anak di bantu naik satu persatu. Senangnya di gendong Pak Polisi.
Kalau sebelum berangkat ke KB- TKIT Anak Sholeh Pak Polisi sudah olahraga, berarti ini olahraga yang kedua. Mengangkat siswa satu persatu. Padahal ada juga siswa yang badannya besar.
Begitu tiba di Sentolo, sebuah tenda sudah di dirikan disana. Alhamdulillah, sambutan yang luar biasa untuk anak- anak. Setelah semua di kondisikan ada perkenalan dan persiapan untuk pembagian kelompok. Anak- anak di bagi menjadi 3 kelompok, Kelompok 1 ( Kelompok Bermain), Kelompok 2 ( TK A), Kelompok 3 ( TK B).
Ustadzah Wanti memandu acara mewakili pihak sekolah. Dari Brimob sendiri di wakili oleh Iptu Yudha Bramastra, S. Ik.
Kak Yudha memberi beberapa penjelasan dan pengenalan.
Pengenalan senjata yang di gunakan oleh anggota kepolisian untuk pengamanan. Anak- anak di beri kesempatan untuk mengangkat senjata. Bukan untuk berperang lho tentunya, mencoba mengangkat dan di ajari cara menggunakan.
MasyaAllah...,mas Rehan berani mencoba memakai safety helm dan rompi anti peluru. Ayahnya Mas Rehan juga polisi ternyata.
Pengenalan mobil SAR Brimob. Ada perahu karet, lengkap dengan dayungnya. Anak- anak di perbolehkan untuk naik dan di ajarkan cara mendayung, di kenalkan dengan peralatan yang ada di mobil SAR. Ada peralatan selam, ada golok, ada gergaji dan masih banyak lagi peralatan yang ada di mobil SAR.
Simulasi penyelamatan korban dari kedalaman. Seru nih, anak- anak di beri kesempatan untuk mencoba ikut naik. Anak- anak tidak di perbolehkan menirukan tanpa pengamanan yang lengkap.
Kami juga di perkenalkan peralatan PHH. Apa itu PHH?! Yaitu Penanganan Huru Hara. Pak Polisi berseragam lengkap sekali, seperti robot kata teman- teman dari Kelompk Bermain. Teman- teman dari KB juga di perkenankan mendorong Pak Polisi. Meskipun beramai- ramai, ternyata tidak bisa merobohkan Pak Polisi. Jangankan roboh, bergeser sedikitpun tidak. Itulah mengapa menjadi polisi harus orang yang benar- benar sehat dan kuat.
Mas Izzatul Fatih dari Kelompok Bermain berani mencoba mengalungkan peluru, kata Mas Fatih pelurunya berat. Mas Fatih bercita- cita jadi polisi jika besar nanti. Semoga Allah mengijabah ya Mas Fatih. Mas Fatih besar nanti jadi polisi shalih yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin....
Kak Rizal, memberi komando anak- anak KB untuk membuat barisan. Di sini, teman- teman KB akan bermain mengelompokkan bola menurut warnanya. Ada yang merah, ada yang kuning, ada yang hijau.
Luar biasa semangat Kakak- kakak ini ya. Sudah menjelang Dzuhur semangat mereka tetap membara. Di depan anak- anak saja seperti ini semangatnya, tidak ada kesempatan buat ngantuk.
Tidak hanya siswa, Ustadzah pun tidak mau ketinggalan turut bertepuk tangan melihat dan mendengar yel- yel yang penuh semangat.
Pemberian cinderamata dari kompi III Detasemen B Pelopor atas kunjungan KB- TKIT Anak Sholeh, di terima oleh Kepala Sekolah TKIT Anak Sholeh Ustadzah Ika Herusanti.
Sebagai Ucapan terima kasih, dari TKIT Anak Sholeh memberikan cinderamata kepada Brimob Sentolo. Tentu tidak ada apa- apanya jika di bandingkan dengan apa yang sudah Kakak- Kakak berikan kepada kami. Kesan yang mendalam untuk anak- anak, pelajaran dan pengalaman yang luar biasa yang tidak di dapat dari tempat lain. Terima kasih Kakak, terima kasih Bapak dan seluruh team yang sudah ikut berpartisipasi dan mensukseskan kunjungan kami. Semoga kedepan bisa menjalin kerjasama lagi. Tidak ada rasa takut, suasana yang ramah, panggilan yang familiar membuat kami semua merasa sudah kenal lama dengan mereka. Meskipun kami semua baru bertemu hari itu. Kami harus kembali ke sekolah, dan Pak Polisi kembali dengan aktifitas mereka. Jazakumullah khoir....
Ternyata hari ini Rabu, tanggal 24 Februari 2016 seluruh siswa KB- TKIT Anak Sholeh ada kunjungan edukatif ke Brimob Sentolo. Riuh suara anak- anak mendengar bunyi sirine bus dan truck yang akan menjemput kami. Bus dan truck polisi berhenti di depan sekolah. Siswa TK B naik truck di bantu oleh Bapak Polisi. Karena tinggi, meskipun sudah ada kursi masih saja kesulitan naik. Alhamdulillah, Pak Polisi nya baik- baik. Anak- anak di bantu naik satu persatu. Senangnya di gendong Pak Polisi.
Kalau sebelum berangkat ke KB- TKIT Anak Sholeh Pak Polisi sudah olahraga, berarti ini olahraga yang kedua. Mengangkat siswa satu persatu. Padahal ada juga siswa yang badannya besar.
Begitu tiba di Sentolo, sebuah tenda sudah di dirikan disana. Alhamdulillah, sambutan yang luar biasa untuk anak- anak. Setelah semua di kondisikan ada perkenalan dan persiapan untuk pembagian kelompok. Anak- anak di bagi menjadi 3 kelompok, Kelompok 1 ( Kelompok Bermain), Kelompok 2 ( TK A), Kelompok 3 ( TK B).
Ustadzah Wanti memandu acara mewakili pihak sekolah. Dari Brimob sendiri di wakili oleh Iptu Yudha Bramastra, S. Ik.
Pengenalan senjata yang di gunakan oleh anggota kepolisian untuk pengamanan. Anak- anak di beri kesempatan untuk mengangkat senjata. Bukan untuk berperang lho tentunya, mencoba mengangkat dan di ajari cara menggunakan.
MasyaAllah...,mas Rehan berani mencoba memakai safety helm dan rompi anti peluru. Ayahnya Mas Rehan juga polisi ternyata.
Pengenalan mobil SAR Brimob. Ada perahu karet, lengkap dengan dayungnya. Anak- anak di perbolehkan untuk naik dan di ajarkan cara mendayung, di kenalkan dengan peralatan yang ada di mobil SAR. Ada peralatan selam, ada golok, ada gergaji dan masih banyak lagi peralatan yang ada di mobil SAR.
Simulasi penyelamatan korban dari kedalaman. Seru nih, anak- anak di beri kesempatan untuk mencoba ikut naik. Anak- anak tidak di perbolehkan menirukan tanpa pengamanan yang lengkap.
Kami juga di perkenalkan peralatan PHH. Apa itu PHH?! Yaitu Penanganan Huru Hara. Pak Polisi berseragam lengkap sekali, seperti robot kata teman- teman dari Kelompk Bermain. Teman- teman dari KB juga di perkenankan mendorong Pak Polisi. Meskipun beramai- ramai, ternyata tidak bisa merobohkan Pak Polisi. Jangankan roboh, bergeser sedikitpun tidak. Itulah mengapa menjadi polisi harus orang yang benar- benar sehat dan kuat.
Mas Izzatul Fatih dari Kelompok Bermain berani mencoba mengalungkan peluru, kata Mas Fatih pelurunya berat. Mas Fatih bercita- cita jadi polisi jika besar nanti. Semoga Allah mengijabah ya Mas Fatih. Mas Fatih besar nanti jadi polisi shalih yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin....
Kak Rizal, memberi komando anak- anak KB untuk membuat barisan. Di sini, teman- teman KB akan bermain mengelompokkan bola menurut warnanya. Ada yang merah, ada yang kuning, ada yang hijau.
Luar biasa semangat Kakak- kakak ini ya. Sudah menjelang Dzuhur semangat mereka tetap membara. Di depan anak- anak saja seperti ini semangatnya, tidak ada kesempatan buat ngantuk.
Tidak hanya siswa, Ustadzah pun tidak mau ketinggalan turut bertepuk tangan melihat dan mendengar yel- yel yang penuh semangat.
Pemberian cinderamata dari kompi III Detasemen B Pelopor atas kunjungan KB- TKIT Anak Sholeh, di terima oleh Kepala Sekolah TKIT Anak Sholeh Ustadzah Ika Herusanti.
Sebagai Ucapan terima kasih, dari TKIT Anak Sholeh memberikan cinderamata kepada Brimob Sentolo. Tentu tidak ada apa- apanya jika di bandingkan dengan apa yang sudah Kakak- Kakak berikan kepada kami. Kesan yang mendalam untuk anak- anak, pelajaran dan pengalaman yang luar biasa yang tidak di dapat dari tempat lain. Terima kasih Kakak, terima kasih Bapak dan seluruh team yang sudah ikut berpartisipasi dan mensukseskan kunjungan kami. Semoga kedepan bisa menjalin kerjasama lagi. Tidak ada rasa takut, suasana yang ramah, panggilan yang familiar membuat kami semua merasa sudah kenal lama dengan mereka. Meskipun kami semua baru bertemu hari itu. Kami harus kembali ke sekolah, dan Pak Polisi kembali dengan aktifitas mereka. Jazakumullah khoir....
Minggu, 17 Januari 2016
Outbound Kids bagian 1
Alhamdulillah..., akhirnya sampai juga di Grogol, Margodadi, Seyegan , Sleman. Perjalanan kami menyenangkan. Kedatangan kami di sambut oleh tim dari Desa Wisata Grogol. Seluruh peserta di kondisikan di lapangan sebelum akhirnya menuju lokasi. Ternyata kami masih harus berjalan kurang lebih 100 meter. Maka dari itu,anak-anak tidak boleh langsung menuju lokasi. Tapi di buat beberapa rombongan.
Setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki akhirnya sampai juga di lokasi. Udah mulai panas nih, sekitar pukul 08.00 WIB. Ustadzah sampai ada yang memakai caping/ capil. Ada yang tau apa itu caping/ capil? Caping/ Capil adalah topi tradisional yang terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat lancip. Caping/ capil biasa di gunakan untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari, dan hujan. itulah kenapa Caping/ capil bentuknya lancip.
Setelah meletakkan tas di bawah, anak- anak naik ke atas panggung. Di sana Kak Dani dan Kak Akrom sudah menunggu untuk acara pembukaan. Anak- anak antusias mendengarkan dan mengikuti sambil makan snack. Duuuh..., sudah semakin panas aja nih cuacanya. Anak-anak sudah tidak sabar untuk segera bermain. Eeits, tentu saja tidak boleh turun sembarangan karena berbahaya. Kalau tidak hati- hati bisa jatuh pas menuruni tangga. Kak Dani memanggil nama- nama kelompok satu persatu dan mempersilakan untuk turun ke bawah.
Anak- anak di dampingi oleh Ustadzah. Turun tangga harus satu persatu dan tidak boleh berebut. Hadegh...,karena sudah ingin sekali bermain akhirnya terburu-buru dan lupa deh sandal dimana botol minum dimana.
Dari aula anak-anak berjalan ke bawah kurang lebih 30 meter menuju lokasi bermain. Berjalan lagi deh. Tidak apa- apa sekalian pemanasan biar kondisi fisik siap dan tidak cedera saat mengikuti permainan nanti.
" Lingkaran besar...lingkaran besar...lingkaran besar...." Instruksi dari Kakak Instruktur. Anak- anak pun membuat lingkaran besar sambil bergandeng tangan. Mau main apa ya? Oops, ternyata mau senam dulu, senam chicken dance namanya. Setelah selesai senam anak- anak di buat kelompok kecil. Kelompok tersebut nanti akan menjadi kelompoknya mengikuti permainan dari awal sampai akhir. Duuh, bergelimangan air di kanan kiri dan suara gemericiknya membuat anak- anak semakin ingin segera nyebur.
Harus duduk menunggu pembagian pos itu melelahkan. Bagaimana tidak, sudah semakin panas, pemandangan di sekitar air semua. Tangan, badan, kaki rasanya sudah tidak sabar lagi.
Tapi tetap harus "sabar menunggu giliran".
Alhamdulillah....pos pertama dari kelas KB 1 adalah sponge bob. Aturan permainannya adalah sponge di masukkan ke air kemudian berjalan secara estafet. Yang paling belakang memeras sponge nya, dan airnya di masukkan ke dalan botol yang telah di sediakan. Begitu seterusnya hingga waktu habis. Kelompok putri berkompetisi dengan kelompok putra.
" Enak ya Mas Alif...seger ya...." Kata Mas Dzaki kepada Mas Alif.
Insya Allah tidak berbahaya dan tetap ada pendampingan. Inilah saatnya anak- anak mengeksplor dirinya. Selama di sekolah jarang bermain air. Di rumah pasti juga di larang sama Ayah Bunda. Betul tidak Ayah Bunda?
Kelompok Putri A3 berani lho berjalan di sungai meskipun dangkal arusnya lumayan deras. Senangnya bisa bermain di sungai. Akhirnya bisa merasakan mandi dan bermain air di sungai. Dulu masa kecil Ayah Bunda juga pasti senang mandi dan main air di sungai. Sampai Kakek Nenek bingung mencari. Heee, tapi kami tidak lho. Begitu waktu permainan habis, kami harus pindah ke pos berikutnya yang tidak kalah seru tentunya.
Setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki akhirnya sampai juga di lokasi. Udah mulai panas nih, sekitar pukul 08.00 WIB. Ustadzah sampai ada yang memakai caping/ capil. Ada yang tau apa itu caping/ capil? Caping/ Capil adalah topi tradisional yang terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat lancip. Caping/ capil biasa di gunakan untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari, dan hujan. itulah kenapa Caping/ capil bentuknya lancip.
Setelah meletakkan tas di bawah, anak- anak naik ke atas panggung. Di sana Kak Dani dan Kak Akrom sudah menunggu untuk acara pembukaan. Anak- anak antusias mendengarkan dan mengikuti sambil makan snack. Duuuh..., sudah semakin panas aja nih cuacanya. Anak-anak sudah tidak sabar untuk segera bermain. Eeits, tentu saja tidak boleh turun sembarangan karena berbahaya. Kalau tidak hati- hati bisa jatuh pas menuruni tangga. Kak Dani memanggil nama- nama kelompok satu persatu dan mempersilakan untuk turun ke bawah.
Anak- anak di dampingi oleh Ustadzah. Turun tangga harus satu persatu dan tidak boleh berebut. Hadegh...,karena sudah ingin sekali bermain akhirnya terburu-buru dan lupa deh sandal dimana botol minum dimana.
Dari aula anak-anak berjalan ke bawah kurang lebih 30 meter menuju lokasi bermain. Berjalan lagi deh. Tidak apa- apa sekalian pemanasan biar kondisi fisik siap dan tidak cedera saat mengikuti permainan nanti.
" Lingkaran besar...lingkaran besar...lingkaran besar...." Instruksi dari Kakak Instruktur. Anak- anak pun membuat lingkaran besar sambil bergandeng tangan. Mau main apa ya? Oops, ternyata mau senam dulu, senam chicken dance namanya. Setelah selesai senam anak- anak di buat kelompok kecil. Kelompok tersebut nanti akan menjadi kelompoknya mengikuti permainan dari awal sampai akhir. Duuh, bergelimangan air di kanan kiri dan suara gemericiknya membuat anak- anak semakin ingin segera nyebur.
Harus duduk menunggu pembagian pos itu melelahkan. Bagaimana tidak, sudah semakin panas, pemandangan di sekitar air semua. Tangan, badan, kaki rasanya sudah tidak sabar lagi.
Tapi tetap harus "sabar menunggu giliran".
Alhamdulillah....pos pertama dari kelas KB 1 adalah sponge bob. Aturan permainannya adalah sponge di masukkan ke air kemudian berjalan secara estafet. Yang paling belakang memeras sponge nya, dan airnya di masukkan ke dalan botol yang telah di sediakan. Begitu seterusnya hingga waktu habis. Kelompok putri berkompetisi dengan kelompok putra.
" Enak ya Mas Alif...seger ya...." Kata Mas Dzaki kepada Mas Alif.
Insya Allah tidak berbahaya dan tetap ada pendampingan. Inilah saatnya anak- anak mengeksplor dirinya. Selama di sekolah jarang bermain air. Di rumah pasti juga di larang sama Ayah Bunda. Betul tidak Ayah Bunda?
Kelompok Putri A3 berani lho berjalan di sungai meskipun dangkal arusnya lumayan deras. Senangnya bisa bermain di sungai. Akhirnya bisa merasakan mandi dan bermain air di sungai. Dulu masa kecil Ayah Bunda juga pasti senang mandi dan main air di sungai. Sampai Kakek Nenek bingung mencari. Heee, tapi kami tidak lho. Begitu waktu permainan habis, kami harus pindah ke pos berikutnya yang tidak kalah seru tentunya.
Kamis, 14 Januari 2016
Andai Kami Tahu
“Bu Guru, tinggal di sini aja,” Adi berkata.
“Maafkan Ibu ya, Ibu harus pulang ke Medan,” ujar ku.
“Kalo gitu, aku ikut sama Ibu ya,” pinta Adi.
Tak berapa lama Amin mendatangiku di ruang guru, lalu berkata,
“Bu Guru, Rp 500.000,- cukup gak untuk pergi ke Medan?” Tanya Amin.
“Mana cukup itu Amin, kamu emangnya mau ke Medan sama siapa?” Tanya ku.
“Sendiri aja, mau ke rumah Ibu,” Jelas Amin.
Itulah percakapan singkatku dengan Adi dan Amin beberapa hari yang lalu sebelum hari pembagian raport. Adi adalah siswa yang paling aku sayangi di kelas 6, begitupun dengan Amin, siswaku yang bertubuh besar dari teman-temannya yang lain ini tak mau kalah ingin pergi ke Medan untuk mengunjungi ku. Aku merasa terharu, mereka sebegitu sayangnya terhadapku. Mereka begitu ingin selalu di dekatku. Namun, apalah daya, waktu ku hanya terhitung 13 hari lagi bersama mereka. Aku pun sebenarnya tak ingin jauh dari mereka.
“Bu, saya selalu berdoa untuk Ibu supaya Ibu nanti jangan lupakan kami,” kata Adi.
“Ya Bu, aku juga berdoa untuk ibu agar Ibu selalu sehat nanti di Medan,” Tukas Amin.
“Aaammmiiinnn, makasih ya. Ibu juga doakan kalian semoga nanti bisa jadi apa yang sudah kalian cita-citakan,” Jelasku.
“Andai kami tahu, kalau Ibu bakalan pergi. Kami gak mau Ibu pergi,” Adi berkata sambil menangis.
“Sudah, Sudah, kok nangis sih nak?, Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan, semua sudah Allah takdirkan untuk kita. Ibu bertemu kalian ini juga sudah rencana Allah. Ibu juga dulu tidak pernah menyangka bakal dapat ditempatkan di Pandeglang ini. Kalian semua akan menjadi kenangan terindah dalam hidup Ibu.” Jelasku.
Seandainya kalian tahu perasaanku saat ini. Pasti kalian juga tambah sedih, karena kalian sudah menjadi bagian dari hidupku. (dakwatuna/hdn)
“Maafkan Ibu ya, Ibu harus pulang ke Medan,” ujar ku.
“Kalo gitu, aku ikut sama Ibu ya,” pinta Adi.
Tak berapa lama Amin mendatangiku di ruang guru, lalu berkata,
“Bu Guru, Rp 500.000,- cukup gak untuk pergi ke Medan?” Tanya Amin.
“Mana cukup itu Amin, kamu emangnya mau ke Medan sama siapa?” Tanya ku.
“Sendiri aja, mau ke rumah Ibu,” Jelas Amin.
Itulah percakapan singkatku dengan Adi dan Amin beberapa hari yang lalu sebelum hari pembagian raport. Adi adalah siswa yang paling aku sayangi di kelas 6, begitupun dengan Amin, siswaku yang bertubuh besar dari teman-temannya yang lain ini tak mau kalah ingin pergi ke Medan untuk mengunjungi ku. Aku merasa terharu, mereka sebegitu sayangnya terhadapku. Mereka begitu ingin selalu di dekatku. Namun, apalah daya, waktu ku hanya terhitung 13 hari lagi bersama mereka. Aku pun sebenarnya tak ingin jauh dari mereka.
“Bu, saya selalu berdoa untuk Ibu supaya Ibu nanti jangan lupakan kami,” kata Adi.
“Ya Bu, aku juga berdoa untuk ibu agar Ibu selalu sehat nanti di Medan,” Tukas Amin.
“Aaammmiiinnn, makasih ya. Ibu juga doakan kalian semoga nanti bisa jadi apa yang sudah kalian cita-citakan,” Jelasku.
“Andai kami tahu, kalau Ibu bakalan pergi. Kami gak mau Ibu pergi,” Adi berkata sambil menangis.
“Sudah, Sudah, kok nangis sih nak?, Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan, semua sudah Allah takdirkan untuk kita. Ibu bertemu kalian ini juga sudah rencana Allah. Ibu juga dulu tidak pernah menyangka bakal dapat ditempatkan di Pandeglang ini. Kalian semua akan menjadi kenangan terindah dalam hidup Ibu.” Jelasku.
Seandainya kalian tahu perasaanku saat ini. Pasti kalian juga tambah sedih, karena kalian sudah menjadi bagian dari hidupku. (dakwatuna/hdn)
Sekilas Tentang Pendidikan Anak
Sekilas tentang hakikat pendidikan anak
(Bagian Pertama)
Seorang guru Play Group dalam rapat harian
melaporkan pada kepala sekolah, “bu kepala, tolong dalam pertemuan orang
tua nanti, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama
difahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat salah seorang ibu yang
memaksa bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam
pembelajaran dan asyik bermain balok.”
Seorang guru lain menambahkan,”iya bu,
sepertinya harus segera di jelaskan. Ada kasus lain lagi bu, ketika saya
menanyakan pada mama Arif kenapa Arif tidak bisa ikut tamasya minggu
depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”
Cerita di atas adalah sebuah realita di
sekitar kita. Bahkan mungkin sebenarnya lebih parah dari itu. Jika pada
cerita tersebut sepertinya kedua guru sudah memahami hakikat pendidikan
anak usia dini, bisa jadi pada kenyataannya masih banyak para pendidik
anak usia dini sendiri yang belum faham tentang hakikat pendidikan anak
usia dini. Terlebih lagi para orang tua yang tidak memiliki latar
belakang keilmuan tentang pendidikan anak usia dini. Kebanyakan mereka
terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metoda
konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif
lagi. Duduk, diam, dengarkan, tulis dan bacakan kembali, itulah yang
dikatakan sebagai belajar. Jika diterapkan pada orang dewasa mungkin
mereka mampu protes dan menuntut tehnik pembelajaran lain yang lebih
menarik. Tapi apa daya anak-anak, mereka tidak bisa melawan. Apalagi
dengan ancaman cubitan atau bahkan pululan.
Sebuah Teori Tabularasa memang
menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa
diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak,
sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Dengan
asumsi tersebut, beramai-ramailah orang tua mengisi kertas kosong
tersebut. Dan akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi
berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku. Mungkin
terlihat tebal dan pintar. Tapi kaku dan pasif. Tak bisa bergerak dan
berbuat.
Bukan wahai para orang tua, mereka bukanlah
kertas. Mereka bukan pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif.
Tahukah wahai para orang tua, banyak teori belajar lain yang lebih
moderen telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak
adalah pembelajar aktif. Setiap pori-pori tubuh mereka menyerap apa yang
mereka lihat, dengar, sentuh, dan apapun yang berinteraksi dengan
mereka. Hebatnya lagi, mereka menganalisis dari setiap interaksi mereka
dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita
patahkan dengan tehnik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk,
bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi
belajar terbaik bagi mereka adalah adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan dan hafalkan.
Orang tua pasti bangga ketika anaknya yang
masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orang tua pasti semakin
bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosa
kata dalam bahasa Inggris. Orang tua pasti lebih bangga lagi jika
memiliki anak yang selalu menurut ketika di suruh duduk di meja belajar
menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les
yang melelahkan. Tapi tahukah anda wahai para orang tua, bahwa kebanggaan anda, bahwa kebahagiaan anda sungguh membuat anak-anak anda menderita!
Orang tua pasti jengkel ketika ada anaknya yang
aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru
dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru
di beli. Orang tua pasti semakin jengkel ketika ada anaknya yang
menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Orang tua pasti
sangat jengkel ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang
sesuatu yang dia lihat. Orang tua pasti lebih jengkel lagi ketika rumah
berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran.
Orang tua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik
bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada
duduk di meja belajar dan membaca.Tapi tahukah anda wahai para orang tua bahwa seharusnya anda berbahagia karena anak anda bahagia dan karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.
Bersambung…………….
Langganan:
Postingan (Atom)