Selasa, 23 Februari 2016

Outing ke Brimob Sentolo

Alhamdulillah, pagi ini anak- anak KB- TKIT Anak Sholeh semangat sekali. Ada apa ya kira- kira?! Pukul 08.00 anak-anak sudah berbaris rapi menghadap ke gerbang sekolah. Apa ya yang mereka tunggu??
 Ternyata hari ini Rabu, tanggal 24 Februari 2016 seluruh siswa KB- TKIT Anak Sholeh ada kunjungan edukatif ke Brimob Sentolo. Riuh suara anak- anak mendengar bunyi sirine bus dan truck yang akan menjemput kami. Bus dan truck polisi berhenti di depan sekolah. Siswa TK B naik truck di bantu oleh Bapak Polisi. Karena tinggi, meskipun sudah ada kursi masih saja kesulitan naik. Alhamdulillah, Pak Polisi nya baik- baik. Anak- anak di bantu naik satu persatu. Senangnya di gendong Pak Polisi.


Kalau sebelum berangkat ke KB- TKIT Anak Sholeh Pak Polisi sudah olahraga, berarti ini olahraga yang kedua. Mengangkat siswa satu persatu. Padahal ada juga siswa yang badannya besar.

 Begitu tiba di Sentolo, sebuah tenda sudah di dirikan disana. Alhamdulillah, sambutan yang luar biasa untuk anak- anak. Setelah semua di kondisikan ada  perkenalan dan persiapan untuk pembagian kelompok. Anak- anak di bagi menjadi 3 kelompok, Kelompok 1 ( Kelompok Bermain), Kelompok 2 ( TK A), Kelompok 3 ( TK B).






 Ustadzah Wanti memandu acara mewakili pihak sekolah. Dari Brimob sendiri di wakili oleh Iptu Yudha Bramastra, S. Ik.
 Kak Yudha memberi beberapa penjelasan dan pengenalan.

 Pengenalan senjata yang di gunakan oleh anggota kepolisian untuk pengamanan. Anak- anak di beri kesempatan untuk mengangkat senjata. Bukan untuk berperang lho tentunya, mencoba mengangkat dan di ajari cara menggunakan.






MasyaAllah...,mas Rehan berani mencoba memakai safety helm dan rompi anti peluru. Ayahnya Mas Rehan juga polisi ternyata. 

 Pengenalan mobil SAR Brimob. Ada perahu karet, lengkap dengan dayungnya. Anak- anak di perbolehkan untuk naik dan di ajarkan cara mendayung, di kenalkan dengan peralatan yang ada di mobil SAR. Ada peralatan selam, ada golok, ada gergaji dan masih  banyak lagi peralatan yang ada di mobil SAR.




 Simulasi penyelamatan korban dari kedalaman. Seru nih, anak- anak di beri kesempatan untuk mencoba ikut naik. Anak- anak tidak di perbolehkan menirukan tanpa pengamanan yang lengkap.
Kami juga di perkenalkan peralatan  PHH. Apa itu PHH?! Yaitu Penanganan Huru Hara. Pak Polisi berseragam lengkap sekali, seperti robot kata teman- teman dari Kelompk Bermain. Teman- teman dari KB juga di perkenankan mendorong Pak Polisi. Meskipun beramai- ramai, ternyata tidak bisa merobohkan Pak Polisi. Jangankan roboh, bergeser sedikitpun tidak. Itulah mengapa menjadi polisi harus orang yang benar- benar sehat dan kuat.

Mas Izzatul Fatih dari Kelompok Bermain berani mencoba mengalungkan peluru, kata Mas Fatih pelurunya berat. Mas Fatih bercita- cita jadi polisi jika besar nanti. Semoga Allah mengijabah ya Mas Fatih. Mas Fatih besar nanti jadi polisi shalih yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin....
Kak Rizal, memberi komando anak- anak KB untuk membuat barisan. Di sini, teman- teman KB akan bermain mengelompokkan bola menurut warnanya. Ada yang merah, ada yang kuning, ada yang hijau.



 Luar biasa semangat Kakak- kakak ini ya. Sudah menjelang Dzuhur semangat mereka tetap membara. Di depan anak- anak saja seperti ini semangatnya, tidak ada kesempatan buat ngantuk.
Tidak hanya siswa, Ustadzah pun tidak mau ketinggalan turut bertepuk tangan melihat dan mendengar yel- yel yang penuh semangat.




 Pemberian cinderamata dari kompi III Detasemen B Pelopor atas kunjungan KB- TKIT Anak Sholeh, di terima oleh Kepala Sekolah TKIT Anak Sholeh Ustadzah Ika Herusanti.

 Sebagai Ucapan terima kasih, dari TKIT Anak Sholeh memberikan cinderamata kepada Brimob Sentolo. Tentu tidak ada apa- apanya jika di bandingkan dengan apa yang sudah Kakak- Kakak berikan kepada kami. Kesan yang mendalam untuk anak- anak, pelajaran dan pengalaman yang luar biasa yang tidak di dapat dari tempat lain. Terima kasih Kakak, terima kasih Bapak dan seluruh team yang sudah ikut berpartisipasi dan mensukseskan kunjungan kami. Semoga kedepan bisa menjalin kerjasama lagi. Tidak ada rasa takut, suasana yang ramah, panggilan yang familiar membuat kami semua merasa sudah kenal lama dengan mereka. Meskipun kami semua baru bertemu hari itu. Kami harus kembali ke sekolah, dan Pak Polisi kembali dengan aktifitas mereka. Jazakumullah khoir....


Minggu, 17 Januari 2016

Outbound Kids bagian 1

 Alhamdulillah..., akhirnya sampai juga di Grogol, Margodadi, Seyegan , Sleman. Perjalanan kami menyenangkan. Kedatangan kami di sambut oleh tim dari Desa Wisata Grogol. Seluruh peserta di kondisikan di lapangan sebelum akhirnya menuju lokasi. Ternyata kami masih harus berjalan kurang lebih 100 meter. Maka dari itu,anak-anak tidak boleh langsung menuju lokasi. Tapi di buat beberapa rombongan.
 Setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki akhirnya sampai juga di lokasi. Udah mulai panas nih, sekitar pukul 08.00 WIB. Ustadzah sampai ada yang memakai caping/ capil. Ada yang tau apa itu caping/ capil? Caping/ Capil adalah topi tradisional yang terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat lancip. Caping/ capil biasa di gunakan untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari, dan hujan. itulah kenapa Caping/ capil bentuknya lancip.
 Setelah meletakkan tas di bawah, anak- anak naik ke atas panggung. Di sana Kak Dani dan Kak Akrom sudah menunggu untuk acara pembukaan. Anak- anak antusias mendengarkan dan mengikuti sambil makan snack. Duuuh..., sudah semakin panas aja nih cuacanya. Anak-anak sudah tidak sabar untuk segera bermain. Eeits, tentu saja tidak boleh turun sembarangan karena berbahaya. Kalau tidak hati- hati bisa jatuh pas menuruni tangga. Kak Dani memanggil nama- nama kelompok satu persatu dan mempersilakan untuk turun ke bawah.
 Anak- anak di dampingi oleh Ustadzah. Turun tangga harus satu persatu dan tidak boleh berebut. Hadegh...,karena sudah ingin sekali bermain akhirnya terburu-buru dan lupa deh sandal dimana botol minum dimana.
Dari aula anak-anak berjalan ke bawah kurang lebih 30 meter menuju lokasi bermain. Berjalan lagi deh. Tidak apa- apa sekalian pemanasan biar kondisi fisik siap dan tidak cedera saat mengikuti permainan nanti.
 " Lingkaran besar...lingkaran besar...lingkaran besar...." Instruksi dari Kakak Instruktur. Anak- anak pun membuat lingkaran besar sambil bergandeng tangan. Mau main apa ya? Oops, ternyata mau senam dulu, senam chicken dance namanya. Setelah selesai senam anak- anak di buat kelompok kecil. Kelompok tersebut nanti akan menjadi kelompoknya mengikuti permainan dari awal sampai akhir. Duuh, bergelimangan air di kanan kiri dan suara gemericiknya membuat anak- anak semakin ingin segera nyebur.
Harus duduk menunggu pembagian pos itu melelahkan. Bagaimana tidak, sudah semakin panas, pemandangan di sekitar air semua. Tangan, badan, kaki rasanya sudah tidak sabar lagi.
Tapi tetap harus "sabar menunggu giliran".

 Alhamdulillah....pos pertama dari kelas KB 1 adalah sponge bob. Aturan permainannya adalah sponge di masukkan ke air kemudian berjalan secara estafet. Yang paling belakang memeras sponge nya, dan airnya di masukkan ke dalan botol yang telah di sediakan. Begitu seterusnya hingga waktu habis. Kelompok putri berkompetisi dengan kelompok putra.

 " Enak ya Mas Alif...seger ya...." Kata Mas Dzaki kepada Mas Alif.
Insya Allah tidak berbahaya dan tetap ada pendampingan. Inilah saatnya anak- anak mengeksplor dirinya. Selama di sekolah jarang bermain air. Di rumah pasti juga di larang sama Ayah Bunda. Betul tidak Ayah Bunda?


Kelompok Putri A3 berani lho berjalan di sungai meskipun dangkal arusnya lumayan deras. Senangnya bisa bermain di sungai. Akhirnya bisa merasakan mandi dan bermain air di sungai. Dulu masa kecil Ayah Bunda juga pasti senang mandi dan main air di sungai. Sampai Kakek Nenek bingung mencari. Heee, tapi kami tidak lho. Begitu waktu permainan habis, kami harus pindah ke pos berikutnya yang tidak kalah seru tentunya.

Kamis, 14 Januari 2016

Andai Kami Tahu

“Bu Guru, tinggal di sini aja,” Adi berkata.
“Maafkan Ibu ya, Ibu harus pulang ke Medan,” ujar ku.
“Kalo gitu, aku ikut sama Ibu ya,” pinta Adi.
Tak berapa lama Amin mendatangiku di ruang guru, lalu berkata,
“Bu Guru, Rp 500.000,- cukup gak untuk pergi ke Medan?” Tanya Amin.
“Mana cukup itu Amin, kamu emangnya mau ke Medan sama siapa?” Tanya ku.
“Sendiri aja, mau ke rumah Ibu,” Jelas Amin.
Itulah percakapan singkatku dengan Adi dan Amin beberapa hari yang lalu sebelum hari pembagian raport. Adi adalah siswa yang paling aku sayangi di kelas 6, begitupun dengan Amin, siswaku yang bertubuh besar dari teman-temannya yang lain ini tak mau kalah ingin pergi ke Medan untuk mengunjungi ku. Aku merasa terharu, mereka sebegitu sayangnya terhadapku. Mereka begitu ingin selalu di dekatku. Namun, apalah daya, waktu ku hanya terhitung 13 hari lagi bersama mereka. Aku pun sebenarnya tak ingin jauh dari mereka.
“Bu, saya selalu berdoa untuk Ibu supaya Ibu nanti jangan lupakan kami,” kata Adi.
“Ya Bu, aku juga berdoa untuk ibu agar Ibu selalu sehat nanti di Medan,” Tukas Amin.
“Aaammmiiinnn, makasih ya. Ibu juga doakan kalian semoga nanti bisa jadi apa yang sudah kalian cita-citakan,” Jelasku.
“Andai kami tahu, kalau Ibu bakalan pergi. Kami gak mau Ibu pergi,” Adi berkata sambil menangis.
“Sudah, Sudah, kok nangis sih nak?, Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan, semua sudah Allah takdirkan untuk kita. Ibu bertemu kalian ini juga sudah rencana Allah. Ibu juga dulu tidak pernah menyangka bakal dapat ditempatkan di Pandeglang ini. Kalian semua akan menjadi kenangan terindah dalam hidup Ibu.” Jelasku.
Seandainya kalian tahu perasaanku saat ini. Pasti kalian juga tambah sedih, karena kalian sudah menjadi bagian dari hidupku. (dakwatuna/hdn)

Sekilas Tentang Pendidikan Anak

Sekilas tentang hakikat pendidikan anak
image013(Bagian Pertama)
Seorang guru Play Group dalam rapat harian melaporkan pada kepala sekolah, “bu kepala, tolong dalam pertemuan orang tua nanti, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama difahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat salah seorang ibu yang memaksa bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam pembelajaran dan asyik bermain balok.”
Seorang guru lain menambahkan,”iya bu, sepertinya harus segera di jelaskan. Ada kasus lain lagi bu, ketika saya menanyakan pada mama Arif kenapa Arif tidak bisa ikut tamasya minggu depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”
Cerita di atas adalah sebuah realita di sekitar kita. Bahkan mungkin sebenarnya lebih parah dari itu. Jika pada cerita tersebut sepertinya kedua guru sudah memahami hakikat pendidikan anak usia dini, bisa jadi pada kenyataannya masih banyak para pendidik anak usia dini sendiri yang belum faham tentang hakikat pendidikan anak usia dini. Terlebih lagi para orang tua yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tentang pendidikan anak usia dini. Kebanyakan mereka terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metoda konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif lagi. Duduk, diam, dengarkan, tulis dan bacakan kembali, itulah yang dikatakan sebagai belajar. Jika diterapkan pada orang dewasa mungkin mereka mampu protes dan menuntut tehnik pembelajaran lain yang lebih menarik. Tapi apa daya anak-anak, mereka tidak bisa melawan. Apalagi dengan ancaman cubitan atau bahkan pululan.
Sebuah Teori Tabularasa memang menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak, sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Dengan asumsi tersebut, beramai-ramailah orang tua mengisi kertas kosong tersebut. Dan akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku. Mungkin terlihat tebal dan pintar. Tapi kaku dan pasif. Tak bisa bergerak dan berbuat.
Bukan wahai para orang tua, mereka bukanlah kertas. Mereka bukan pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif. Tahukah wahai para orang tua, banyak teori belajar lain yang lebih moderen telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif. Setiap pori-pori tubuh mereka menyerap apa yang mereka lihat, dengar, sentuh, dan apapun yang berinteraksi dengan mereka. Hebatnya lagi, mereka menganalisis dari setiap interaksi mereka dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita patahkan dengan tehnik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk, bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi belajar terbaik bagi mereka adalah adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan dan hafalkan.
Orang tua pasti bangga ketika anaknya yang masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orang tua pasti semakin bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosa kata dalam bahasa Inggris. Orang tua pasti lebih bangga lagi jika memiliki anak yang selalu menurut ketika di suruh duduk di meja belajar menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les yang melelahkan. Tapi tahukah anda wahai para orang tua, bahwa kebanggaan anda, bahwa kebahagiaan anda sungguh membuat anak-anak anda menderita!
Orang tua pasti jengkel ketika ada anaknya yang aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru di beli. Orang tua pasti semakin jengkel ketika ada anaknya yang menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Orang tua pasti sangat jengkel ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang sesuatu yang dia lihat. Orang tua pasti lebih jengkel lagi ketika rumah berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran. Orang tua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada duduk di meja belajar dan membaca.Tapi tahukah anda wahai para orang tua bahwa seharusnya anda berbahagia karena anak anda bahagia dan karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.
Bersambung…………….

Rabu, 13 Januari 2016

Anakku Cintailah Al-qur'an

Anakku, Cintailah Al-Qur’an 

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)
Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim)
Demikianlah berbagai keutamaan bagi orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Dan tentunya kita juga ingin agar kita maupun anak kita mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.
Baik rasanya jika kita telaah pesan dari Ust Muhammad Nuh berikut ini : “Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, pandangan akan menemukan kejernihan. Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran; selama tidak bersandar pada Al-Quran, selama tidak dibimbing Al-Quran, hanya akan berkutat pada persoalan teknis. Bukan sesuatu yang ideal. Hanya akan berkutat pada materi dan materi.
Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini. Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di sana sudah luntur. Idealita hidup menjadi begitu dangkal. Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak begitu dihargai.”

Bahkan Abu Jahalpun menikmati keindahan Al-Qur’an
Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.
Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.
Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw.
Untuk melengkapi pengetahuan kita bagaimana mendidik anak agar mencintai Al-Qur’an, berikut ini ada siraman rohani dan e-book yang berkaitan yang kami dapatkan dari http://freeislamicebook.blogspot.com/
Anakku Cintailah AlQuran – Ustz Yoyoh Yusroh.mp3
Menghapal Al-Quran – DR. Yusuf Qardhawi.pdf
Tarbiyah Syakhsiyah Quraniyah – Abdul Aziz Abdur Rauf.pdf

Selasa, 12 Januari 2016

Kegiatan Liburan Ustadzah dan Yayasan Mitra Masyarakat Madani


Ketika anak-anak libur semester satu, seluruh ustadz- ustadzah dari TPA-KB-TK-SDIT Anak Sholeh dan seluruh karyawan yang tergabung di Yayasan Mitra Masyarakat Madani mengikuti kegiatan Outbound. Kegiatan ini di laksanakan hari Senin, 21 Desember 2015 lalu bertempat di WRC Pengasih Kulon Progo. Hmmm, sudah tidak update ya....
Tujuan kegiatan ini salah satunya adalah untuk mempererat ukhuwah, karena ketika di sekolah tidak jarang ada beda pendapat yang terkadang membuat suasana tidak nyaman. Dengan harapan dengan adanya kegiatan ini, maka semua akan bisa bekerja sama lagi dan menjadi team yang lebih solid. Selama satu semester menemani anak- anak belajar inilah saatnya para ustadz- ustadzah menyegarkan kembali fikiran, menyiapkan fisik untuk menyongsong semester dua sekalian rihlah.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, begitu kata pepatah.

 Ustadz Ahmad Helmi Syaifulloh selaku ketua yayasan Mitra Masyarakat Madani memberikan sambutan ketika pembukaan acara. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu program Yayasan guna meningkatkan mutu sumber daya manusia. Ustadzah Purwaningsih, sekretaris yayasan juga hadir dan ikut membersamai hingga acara selesai.
Seluruh peserta antusias mengikuti acara pembukaan sambil menikmati sejuknya udara pagi. Jarang- jarang kan bisa menikmati udara pagi yang masih bersih di antara pepohonan dan gemericik air.




 Setelah acara pembukaan selesai, seluruh peserta menuju tempat outbound dan siap melakukan pemanasan bersama instruktur dari tim Sinergy.
 Ice Breaking....,seluruh peserta berdiri melingkar dan harus mendengarkan instruksi dari instruktur supaya tidak salah. Latihan konsentrasi, latihan mendengarkan, dan mengikuti satu instruksi dari sang Instruktur.
 Anak- anak tidak mau ketinggalan, mereka turut asyik memperhatikan dan menirukan gerakan peserta. Mbah Sarjono, peserta paling sepuh semangat mengikuti kegiatan ini.
 Ustadz Heri, Instruktur dari tim Sinergy menyampaikan pemaknaan dari setiap pos. Ada 3 pos yang harus di selesaikan, meskipun di guyur hujan deras, peserta tetap semangat menyelesaikan tugas setiap pos hingga selesai. Meskipun ada yang gagal. Heee....

Ustadz Budi menutup acara hari itu dengan berbagi cerita pengalaman beliau di SMPIT Al Khoirot. Nikmati proses demi proses, maka apapun hasilnya kita siap untuk menjadi lebih baik. Semangat Ustadz....Semangat Ustadzah....
Mari terus berproses untuk memberikan yang terbaik....

Kamis, 07 Januari 2016

Antara Dua Nasehat Rasulullah ( Bagian 1)

Antara Dua Nasehat Rasulullah (bagian 1)

Nasehat sangat bermanfaat bagi orang beriman. Nasehat sangatlah mahal. Apalagi kalau nasehat itu berasal dari Rasulullah. Berikut ini, akan kita amati dua nasehat Rasul untuk anak-anak di zamannya. Dua nasehat yang berbeda. Untuk dua orang yang berbeda. Untuk usia yang berbeda. Tentu dengan kandungan, nilai dan metode yang berbeda. Walaupun namanya sama-sama Abdullah. Mari kita selami mutiaranya. Ya Allah bimbing kami...
Nasehat pertama untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَوْ يَا غُلَيِّمُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dari Ibnu Abbas dia berkata: Aku dibonceng Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau berkata, “Nak,aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Aku berkata: Ya Nabi berkata, “Jagalah Allah, Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu. Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yagn tidak ada dalam takdir Allah padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan. Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran. Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dia berkata: hasan shahih)
Nasehat kedua untuk Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma,

عن مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang pundakku dan beliau bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seakan seorang yang asing (pengembara) atau penyeberang jalan.” Mujahid berkata: Dan Ibnu Umar berkata, “Jika kamu berada disore hari, jangan menunggu hingga pagi hari. Dan jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari)
Usia Berbeda, Metode Berbeda Saat Rasulullah wafat, usia Abdullah bin Abbas 13 tahun. Sementara usia Abdullah bin Umar 21 tahun. Dengan perbedaan usia ini, maka kita bisa mengetahui bahwa Rasulullah berinteraksi dengan Abdullah bin Abbas dari usia dini hingga memasuki usia remaja (dalam istilah hari ini). Sementara Abdullah bin Umar dari usia dini hingga usia dewasa. Penulis belum mengetahui, kapan kedua nasehat ini disampaikan Rasulullah. Tapi mungkin nasehat ini disampaikan ketika Rasulullah sudah berada di Madinah, terutama ketika melihat usia Abdullah bin Abbas yang baru bisa mencerna pembicaraan di usia Madinah.Di Madinah, usia Abdullah bin Abbas adalah 3 - 13 tahun. Sementara usia Abdullah bin Umar 11 - 21 tahun. Jadi jelas bagi kita, nasehat untuk Abdullah bin Abbas adalah nasehat untuk anak-anak. Sementara nasehat untuk Abdullah bin Umar adalah nasehat untuk remaja dan dewasa.
Kini, mari kita selami suasana dan cara Nabi menguntai nasehat untuk dua usia berbeda itu. Semoga menjadi pelajaran bagi setiap orangtua.
  1. Abdullah bin Abbas dinasehati Nabi saat sedang dibonceng di belakang Nabi yang sedang mengendarai kendaraan. Suasana ini sangatlah indah. Sedang santai. Seorang anak cenderung menikmati suasana berkendara. Apalagi kendaraan itu seekor binatang. Sangat anak-anak suasananya. Ini adalah sebuah momentum mahal yang seringkali terlewatkan oleh orangtua. Saat berdua di atas kendaraan, adalah saat yang tepat untuk memasukkan nilai kepada anak-anak. Sayangnya, perjalanan seringkali hanya kumpulan pita tanpa suara. Atau kalau ada suara, tanpa makna. Suasana senang dan nyaman adalah momentum yang sangat tepat untuk memberi mereka nasehat. Dan inilah salah satu penyebab mandulnya nasehat orangtua hari ini. Karena nasehat itu seringkali hadir dalam suasana penuh amarah dan menegangkan. Jika demikian, bagaimana bisa menembus dinding hati anak-anak kita?
  2. Abdullah bin Umar dinasehati Nabi dengan disentuh pundaknya. Sebuah kontak fisik yang selalu memberikan kenyamanan dan kedekatan bagi anak-anak. Terutama usia remaja atau dewasa yang terasa lebih jauh dari orangtua karena merasa telah besar. Kedekatan dan kenyamanan itu sangatlah mahal. Dan ini merupakan kunci rahasia nasehat Nabi yang sangat tajam dan jitu, mampu menembus karang hati yang terjal sekalipun. Nabi memang sangat ringan menyentuhkan tangannya di bagian fisik manapun dari anak-anak yang dijumpainya.
Sentuhan fisik orangtua bagi anak-anaknya akan memberikan kenyamanan dan kedekatan. Jadi, jangan pelit menyentuh mereka. Apalagi, jika sentuhan itu hadir dari orang-orang yang mengagumkan di hati anak-anak. Pasti dahsyat!